PAI KUA Medan Denai Ajak Jamaah MT Harapan Qolbu Menjadikan Ujian sebagai Jalan Menguatkan Iman

Medan (Humas) — Penyuluh Agama Islam (PAI) Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Medan Denai, Khoiruz Zaman, S.HI., S.Pd.I., melaksanakan bimbingan dan penyuluhan (Bimluh) keagamaan kepada jamaah Majelis Taklim (MT) Harapan Qolbu pada Rabu (28/10/2026), ba’da Zuhur. Kegiatan yang berlangsung di Jalan Jermal 15 Nomor 85, Kelurahan Denai, Kecamatan Medan Denai, Kota Medan, tersebut mengangkat tema kesabaran dan keteguhan iman dalam menghadapi ujian kehidupan. Melalui kegiatan ini, jamaah diajak memperdalam pemahaman tentang makna cobaan dalam perspektif Islam sekaligus membangun sikap sabar, ikhtiar, dan tawakal dalam menjalani kehidupan. Penyuluhan ini juga menjadi bagian dari upaya penyuluh agama untuk menghadirkan bimbingan spiritual yang dekat dengan kebutuhan masyarakat.

Kegiatan diawali dengan pembukaan oleh protokol, Sukinem, kemudian dilanjutkan dengan sambutan Ketua MT Harapan Qolbu, Mahlini Batubara. Dalam sambutannya, Mahlini menyambut baik kehadiran penyuluh agama yang memberikan pencerahan serta penguatan rohani kepada para jamaah. Ia berharap kegiatan pembinaan keagamaan seperti ini dapat terus dilaksanakan untuk memperluas wawasan keislaman sekaligus mempererat tali silaturahmi antarjamaah. Suasana kebersamaan yang terbangun dalam kegiatan tersebut diharapkan menjadi ruang bagi jamaah untuk saling menguatkan dan menumbuhkan semangat dalam menjalani kehidupan sesuai dengan tuntunan agama.

Dalam penyampaian materinya, Khoiruz Zaman menguraikan kandungan Surah Al-Baqarah ayat 155 yang menjelaskan bahwa Allah SWT akan menguji manusia dengan berbagai bentuk cobaan, mulai dari rasa takut, kelaparan, kekurangan harta benda, kehilangan jiwa, hingga berkurangnya hasil usaha. Ia menjelaskan bahwa ujian merupakan bagian dari perjalanan hidup manusia yang dapat dialami oleh siapa saja, tanpa memandang keadaan maupun kedudukan seseorang. Oleh karena itu, cobaan tidak semestinya membuat manusia berputus asa atau kehilangan harapan, tetapi menjadi momentum untuk mengevaluasi diri, memperkuat keimanan, dan meningkatkan kualitas ibadah. Menurutnya, sikap seorang mukmin dalam menghadapi ujian perlu disertai kesabaran, ikhtiar yang sungguh-sungguh, doa, serta keyakinan terhadap pertolongan Allah SWT.

Untuk memperjelas materi, Khoiruz Zaman mengangkat kisah perjuangan para nabi yang dapat dijadikan teladan dalam menghadapi berbagai kesulitan. Nabi Ayyub AS menjadi contoh kesabaran dalam menghadapi penderitaan, Nabi Ya’qub AS mengajarkan keteguhan hati ketika berpisah dengan putra tercinta, sedangkan Nabi Yusuf AS memberikan pelajaran tentang ketabahan dalam menghadapi pengkhianatan, perpisahan, dan fitnah. Ia juga mengingatkan jamaah tentang perjuangan para nabi lainnya dalam menjalankan amanah dan mempertahankan kebenaran. Dari kisah-kisah tersebut, jamaah diajak memahami bahwa kesabaran bukan sekadar menerima keadaan tanpa usaha, melainkan kemampuan menjaga keimanan, mengendalikan diri, dan tetap berada di jalan Allah SWT meskipun menghadapi situasi yang berat.

Selain kisah para nabi, Khoiruz Zaman turut mengulas keteguhan Rasulullah SAW, para sahabat, tabiin, dan ulama dalam menghadapi tantangan kehidupan. Ia mengingatkan perjuangan Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, serta para sahabat lainnya dalam mempertahankan dan mengamalkan ajaran Islam. Demikian pula para ulama, seperti Imam Bukhari dan Hasan al-Bashri, yang dikenal atas kesungguhan mereka dalam menuntut ilmu, beribadah, dan menyampaikan kebenaran. Ia juga menyinggung keteguhan perempuan-perempuan beriman, seperti Sarah, istri Nabi Ibrahim AS, Masithah yang dikenal dalam kisah keteguhan iman di hadapan Fir’aun, serta Aisyah RA yang menghadapi ujian berat berupa fitnah. Berbagai kisah tersebut menjadi pengingat bahwa kesabaran, keteguhan iman, dan tawakal merupakan bekal penting untuk melewati persoalan kehidupan dengan tetap berpegang pada nilai-nilai Islam.

Dalam pesannya, Khoiruz Zaman mengajak jamaah agar tidak mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan dan tidak menjadikan cobaan sebagai alasan untuk menjauh dari Allah SWT. Ia menekankan bahwa setiap orang memiliki bentuk ujian yang berbeda, baik berupa persoalan ekonomi, masalah keluarga, gangguan kesehatan, kehilangan orang yang dicintai, maupun tantangan lainnya. “Setiap manusia memiliki ujian masing-masing. Ada yang diuji dengan masalah ekonomi, keluarga, kesehatan, kehilangan orang yang dicintai, dan berbagai persoalan lainnya. Jangan sampai ujian membuat kita jauh dari Allah SWT. Sebaliknya, jadikanlah ujian sebagai jalan untuk memperbaiki diri, memperbanyak doa, meningkatkan ibadah, dan memperkuat tawakal,” pesannya. Ia berharap jamaah dapat menghadapi setiap persoalan dengan hati yang lapang, tetap berusaha mencari jalan keluar, serta senantiasa memohon pertolongan dan petunjuk Allah SWT.

Penyampaian materi berlangsung lugas dan komunikatif, disertai contoh-contoh yang dekat dengan kehidupan sehari-hari sehingga jamaah dapat mengikuti pembahasan dengan baik. Salah seorang jamaah, Sabariyah, mengaku senang dengan kehadiran penyuluh agama yang memberikan penguatan rohani di tengah masyarakat. Menurutnya, materi yang disampaikan memberikan ketenangan dan membantu jamaah melihat berbagai persoalan kehidupan dari sudut pandang keagamaan. Ia juga menilai penggunaan kisah para nabi dan orang-orang saleh membuat pesan yang disampaikan lebih mudah dipahami serta menjadi penging

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *