Pemahaman tentang Gereja, Penyuluh Agama Katolik KUA Medan Sunggal Dampingi Katekumen dari Toba

Medan (Humas) – Penyuluh Agama Katolik KUA Medan Sunggal melaksanakan kegiatan pendampingan katekumen secara daring melalui Zoom Meeting pada Kamis, 29 Oktober 2026, pukul 18.00 WIB. Kegiatan ini diikuti oleh Santi Manalu, seorang katekumen yang berasal dari Kabupaten Toba. Pendampingan ini merupakan bagian dari proses pembinaan iman Katolik yang bertujuan membantu katekumen mengenal, memahami, dan menghayati ajaran Gereja Katolik sebagai persiapan untuk menjadi anggota Gereja. Materi yang dibahas dalam pertemuan tersebut adalah “Deskripsi Gereja sebagai Umat Allah.” Dalam pemaparan materi, dijelaskan bahwa Gereja bukan hanya bangunan fisik tempat umat melaksanakan ibadah, melainkan persekutuan orang-orang yang dipanggil Allah untuk menjadi umat-Nya.

Melalui iman kepada Yesus Kristus dan Sakramen Baptis, umat dipersatukan dalam satu persekutuan yang memiliki tujuan bersama, yaitu menghayati kasih Allah dan mewartakan kabar keselamatan kepada seluruh dunia.
Pembahasan selanjutnya mengacu pada ajaran Konsili Vatikan II, khususnya Konstitusi Dogmatis Lumen Gentium, yang menjelaskan identitas Gereja sebagai Umat Allah. Allah menghimpun umat-Nya dari berbagai latar belakang untuk menjadi satu keluarga dalam iman. Kristus menjadi kepala Gereja, sedangkan seluruh umat beriman merupakan anggota yang dipanggil untuk hidup dalam kesatuan. Roh Kudus senantiasa membimbing dan menguatkan Gereja agar mampu menjalankan tugas perutusannya di tengah dunia.

Dalam kegiatan pendampingan tersebut, Santi Manalu juga diajak memahami bahwa setiap anggota Gereja memiliki martabat yang sama sebagai anak-anak Allah melalui Sakramen Baptis. Meskipun memiliki tugas dan tanggung jawab yang berbeda, seluruh umat dipanggil untuk berpartisipasi dalam kehidupan menggereja. Para imam, kaum religius, dan umat awam saling melengkapi dalam mewujudkan persekutuan, pelayanan, dan pewartaan Injil. Perbedaan karunia dan panggilan bukanlah penghalang, melainkan kekayaan yang dapat memperkuat kehidupan Gereja.

Materi ini juga menekankan bahwa menjadi bagian dari Gereja sebagai Umat Allah berarti bersedia menghidupi iman dalam tindakan nyata. Umat Katolik dipanggil untuk berpartisipasi dalam perayaan Ekaristi, mengikuti kegiatan pendalaman iman, melayani sesama, serta membangun persaudaraan dan perdamaian di tengah masyarakat. Gereja tidak boleh menutup diri dari lingkungan sekitarnya, tetapi harus hadir membawa kasih, kepedulian, keadilan, dan harapan bagi semua orang tanpa membedakan latar belakang.

Kepala KUA Medan Sunggal, H. Agus Salim, S.Ag., M.Pd.I., menyampaikan apresiasi atas pelaksanaan kegiatan bimbingan dan penyuluhan Agama Katolik yang menjangkau umat hingga ke luar wilayah Kota Medan, termasuk Kabupaten Toba. Menurutnya, kegiatan pendampingan seperti ini sangat bermanfaat dalam membangun dan memperkuat kehidupan umat beragama di daerah, sekaligus menjadi wujud nyata pelayanan Kementerian Agama kepada masyarakat tanpa dibatasi oleh jarak dan wilayah.

Ia berharap kegiatan pembinaan keagamaan dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan karena penguatan keimanan dan pemeliharaan kerukunan umat beragama merupakan tanggung jawab bersama. “Keimanan dan kerukunan harus senantiasa kita jaga dan perkuat. Melalui kegiatan bimbingan dan penyuluhan, kita turut membangun kehidupan masyarakat yang harmonis, saling menghormati, dan bersatu demi mewujudkan Indonesia Maju,” ungkapnya.

Melalui pendampingan katekumen ini, Santi Manalu diharapkan semakin memahami hakikat Gereja sebagai Umat Allah dan menyadari panggilannya untuk mengambil bagian dalam kehidupan umat beriman. Kegiatan yang dilaksanakan secara daring ini menjadi salah satu bentuk pemanfaatan teknologi untuk mendukung pembinaan iman, termasuk bagi katekumen yang berada di luar Kota Medan. Dengan pendampingan yang berkelanjutan, diharapkan katekumen semakin siap mengenal dan menghayati iman Katolik serta kelak menjadi anggota Gereja yang aktif, bertanggung jawab, dan mampu menjadi saksi kasih Kristus dalam kehidupan sehari-hari.(RAS/PAI).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *