Medan (Humas) – Penyuluh Agama Katolik KUA Medan Sunggal melaksanakan kegiatan pendampingan katekumen secara daring melalui Zoom Meeting pada Selasa, 3 November 2026, pukul 20.00 WIB. Kegiatan ini diikuti oleh Santi Manalu, seorang katekumen yang berasal dari Kabupaten Toba. Pendampingan ini merupakan bagian dari pembinaan iman Katolik yang bertujuan membantu katekumen mengenal dan memahami kehidupan liturgi Gereja sebagai bagian penting dalam perjalanan iman menuju penerimaan sakramen inisiasi.
Materi yang disampaikan dalam pertemuan tersebut adalah Masa dan Tahun Liturgi. Dalam pemaparan materi dijelaskan bahwa tahun liturgi merupakan pengaturan perayaan iman Gereja sepanjang tahun untuk mengenangkan dan merayakan seluruh misteri keselamatan Allah melalui kehidupan, wafat, dan kebangkitan Yesus Kristus. Tahun liturgi membantu umat Katolik menghayati perjalanan hidup Kristus sekaligus mengarahkan kehidupan sehari-hari agar semakin berpusat pada-Nya. Dengan mengikuti kalender liturgi, umat diajak untuk mengalami dan memperdalam misteri iman melalui berbagai perayaan Gereja. Selanjutnya, dijelaskan bahwa tahun liturgi Gereja Katolik terdiri atas beberapa masa utama, yaitu Masa Adven, Masa Natal, Masa Prapaskah, Tri Hari Suci, Masa Paskah, dan Masa Biasa. Masa Adven merupakan masa persiapan menyambut kelahiran Yesus Kristus sekaligus menantikan kedatangan-Nya kembali. Masa Natal merayakan kelahiran Yesus Kristus sebagai Juru Selamat dunia.
Sementara itu, Masa Prapaskah menjadi kesempatan bagi umat untuk bertobat, berdoa, berpuasa, dan melakukan karya amal sebagai persiapan menyambut perayaan Paskah.
Pembahasan juga memberikan perhatian khusus pada Tri Hari Suci yang merupakan puncak perayaan iman Katolik. Tri Hari Suci meliputi Kamis Putih, Jumat Agung, dan Sabtu Suci yang berpuncak pada perayaan Malam Paskah. Melalui rangkaian perayaan ini, Gereja mengenangkan perjamuan terakhir Yesus bersama para murid, sengsara dan wafat-Nya di kayu salib, serta kebangkitan-Nya dari antara orang mati. Setelah itu, Gereja memasuki Masa Paskah selama lima puluh hari hingga Hari Raya Pentakosta, ketika umat merayakan pencurahan Roh Kudus atas para rasul.
Selain masa-masa khusus tersebut, terdapat Masa Biasa yang menjadi bagian terpanjang dalam tahun liturgi. Masa ini bukan berarti masa yang kurang penting, melainkan kesempatan bagi umat untuk mendalami seluruh karya dan pewartaan Yesus melalui bacaan Kitab Suci serta perayaan liturgi. Dalam pendampingan tersebut juga dijelaskan bahwa warna liturgi memiliki makna tertentu, seperti ungu yang melambangkan pertobatan dan penantian, putih yang melambangkan kemuliaan dan sukacita, merah yang melambangkan Roh Kudus serta kemartiran, dan hijau yang melambangkan harapan serta pertumbuhan iman. Warna-warna tersebut membantu umat memahami makna perayaan yang sedang dijalani Gereja.
Kepala KUA Medan Sunggal, H. Agus Salim, S.Ag., M.Pd.I., menyampaikan apresiasi atas komitmen Penyuluh Agama Katolik yang secara berkesinambungan melaksanakan pembinaan dan pelayanan kepada umat. Menurutnya, pelayanan keagamaan tidak hanya dilakukan melalui pertemuan tatap muka, tetapi juga dapat menjangkau masyarakat melalui pemanfaatan teknologi digital.
“Saya sangat mengapresiasi Penyuluh Agama Katolik yang senantiasa berkesinambungan membina dan melayani umat. Pelayanan tidak hanya dilakukan melalui tatap muka atau pertemuan langsung, tetapi juga dapat diberikan secara daring sehingga mampu menjangkau umat yang berada di daerah lain. Semoga pelayanan melalui jaringan ini dapat meningkatkan nilai keimanan, serta ilmu yang disampaikan bermanfaat dan dapat dikembangkan di daerah lainnya,” ujar Agus Salim.
Melalui kegiatan pendampingan ini, Santi Manalu diharapkan semakin memahami Masa dan Tahun Liturgi serta mampu menghayati setiap perayaan Gereja dalam kehidupan sehari-hari. Tahun liturgi bukan sekadar susunan kalender atau jadwal perayaan, melainkan perjalanan iman yang mengajak umat semakin dekat dengan Yesus Kristus. Meskipun dilaksanakan secara daring, kegiatan ini menjadi sarana pembinaan iman yang efektif dalam menjangkau katekumen dari Kabupaten Toba. Dengan pendampingan yang berkelanjutan, diharapkan Santi Manalu semakin siap menjadi anggota Gereja Katolik yang memahami, merayakan, dan menghidupi imannya dalam kehidupan keluarga, Gereja, dan masyarakat.(RAS/PAI).

