Medan (Humas) — Kepedulian terhadap sesama perlu diwujudkan melalui kesediaan untuk melihat, memahami, dan membantu mereka yang sedang menghadapi kesulitan. Pesan tersebut disampaikan dalam kegiatan penyuluhan agama di Rumah Perlindungan Sosial (RPS) Dinas Sosial Kota Medan, Senin (21/9/2026). Kegiatan ini menjadi ruang untuk menguatkan nilai kepedulian sosial sekaligus mengajak masyarakat untuk lebih peka terhadap kondisi orang-orang di sekitarnya. Melalui pendekatan keagamaan, kepedulian tidak hanya dipahami sebagai rasa iba, tetapi juga sebagai dorongan untuk menghadirkan manfaat secara nyata.
Penyuluh Agama Islam Kemenag Medan M. Iqbal menyampaikan bahwa kepedulian bermula dari kemampuan untuk ikut merasakan penderitaan yang dialami orang lain. Menurutnya, kesadaran terhadap kondisi dan permasalahan sesama dapat menumbuhkan keinginan untuk memberikan bantuan sesuai dengan kemampuan yang dimiliki. “Disaat kita bisa ikut merasakan penderitaan yang dialami saudara kita, sadar terhadap kondisi dan permasalahan yang mereka hadapi, lalu muncul keinginan untuk memberi bantuan, baik berupa tenaga, waktu, pikiran maupun materi, itulah kepedulian yang sebenarnya,” ujar M. Iqbal.
Ia menjelaskan bahwa bentuk kepedulian tidak selalu harus berupa bantuan materi karena setiap orang memiliki kemampuan dan kesempatan yang berbeda. Selain itu, tenaga, waktu, pikiran, perhatian, maupun dukungan moral juga dapat menjadi bentuk pertolongan yang berarti bagi seseorang yang sedang menghadapi kesulitan. Sikap tersebut perlu dibangun dalam kehidupan sehari-hari agar masyarakat tidak bersikap acuh terhadap persoalan yang terjadi di lingkungan sekitarnya. “Kepedulian tidak harus selalu diukur dari seberapa besar materi yang kita berikan, tetapi dari ketulusan kita untuk hadir dan membantu sesuai dengan kemampuan yang kita miliki,” katanya.
Sementara itu, M. Iqbal mengingatkan bahwa membantu sesama merupakan bagian dari nilai kebaikan yang diajarkan dalam agama. Ia mengajak jamaah untuk tidak terlalu memperhitungkan kebaikan yang diberikan ketika niatnya adalah membantu dan mencari ridha Allah SWT. Menurutnya, keikhlasan menjadi bagian penting dalam setiap tindakan sosial agar bantuan yang diberikan benar-benar lahir dari kepedulian, bukan sekadar mengharapkan balasan. “Yakinlah, di saat engkau tidak hitung-hitungan di jalan Allah, maka Allah tidak akan hitung-hitungan memberikan kebaikan kepadamu,” pesannya.
Senada dengan hal itu, kepedulian sosial dapat menjadi kekuatan untuk membangun lingkungan yang lebih manusiawi dan penuh kasih sayang. Masyarakat diharapkan tidak hanya memperhatikan kepentingan diri sendiri, tetapi juga memiliki kepekaan terhadap saudara yang membutuhkan perhatian dan pertolongan. Selain itu, keberadaan tempat perlindungan sosial menjadi pengingat bahwa masih terdapat sesama yang membutuhkan dukungan untuk menjalani kehidupan dengan lebih baik. Semangat berbagi dan saling membantu diharapkan terus tumbuh sebagai bagian dari pengamalan nilai-nilai keagamaan dalam kehidupan bermasyarakat.
Kegiatan penyuluhan di Rumah Perlindungan Sosial Dinas Sosial Kota Medan tersebut menjadi bagian dari upaya Penyuluh Agama Islam Kemenag Medan dalam menghadirkan pesan keagamaan yang dekat dengan persoalan kehidupan masyarakat. Nilai kepedulian diharapkan tidak berhenti pada pemahaman, tetapi dapat diwujudkan melalui tindakan nyata sesuai kemampuan masing-masing. Kehadiran dan perhatian kepada sesama juga menjadi bentuk kontribusi dalam menciptakan lingkungan sosial yang lebih peduli dan saling menguatkan. Melalui semangat “Penyuluh Bergerak, Penyuluh Berkarya”, nilai-nilai keagamaan diharapkan semakin nyata dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

