Medan (Humas) — Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Medan Labuhan menunjukkan komitmen kuat dalam meningkatkan kualitas pembelajaran melalui partisipasi aktif dalam Pelatihan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC). Kegiatan ini diikuti oleh Penyuluh Agama Islam KUA Medan Labuhan, Sulaiman, S.Th.I melalui platform MOOC Pintar yang diselenggarakan oleh Badan Moderasi Beragama dan Pengembangan Sumber Daya Manusia.
Pelatihan berlangsung secara daring pada 22 hingga 28 April 2026, dengan rangkaian kegiatan intensif yang diikuti pada Rabu hingga Jumat (22–24 April 2026). Kegiatan ini diawali dengan pembukaan resmi pada Rabu (22/04/2026) pukul 13.00 WIB oleh Menteri Agama Republik Indonesia, Nasaruddin Umar.
Pelatihan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) merupakan program inovatif yang bertujuan membangun pendekatan pembelajaran yang lebih humanis, berkarakter, serta berlandaskan nilai-nilai kasih sayang dalam dunia pendidikan. Program ini juga menjadi bagian dari upaya pencatatan rekor oleh Museum Rekor Dunia Indonesia dalam kategori kegiatan belajar bersama dengan jumlah peserta terbanyak.
Dalam pelatihan tersebut, peserta mendapatkan materi utama mengenai filosofi Kurikulum Berbasis Cinta yang dikenal dengan konsep Pancacinta. Konsep ini menekankan lima nilai utama sebagai landasan dalam proses pembelajaran, yaitu cinta kepada Allah dan Rasul-Nya, cinta ilmu, cinta alam, cinta diri dan sesama, serta cinta tanah air. Melalui pendekatan ini, proses pendidikan diharapkan tidak hanya berorientasi pada transfer pengetahuan, tetapi juga membentuk karakter peserta didik yang utuh, berempati, serta memiliki kepedulian sosial dan kebangsaan.
Dalam keterangannya, Sulaiman menyampaikan bahwa keikutsertaan penyuluh agama Islam KUA Medan Labuhan dalam pelatihan ini merupakan langkah strategis dalam meningkatkan kapasitas dan kualitas diri.
“Pelatihan ini sangat bermanfaat dalam memperkaya wawasan kami sebagai penyuluh, khususnya dalam menghadirkan pendekatan pembinaan yang lebih humanis dan menyentuh hati masyarakat,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa nilai-nilai dalam Kurikulum Berbasis Cinta sangat relevan untuk diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat.
“Melalui konsep Pancacinta, kami diajak untuk tidak hanya menyampaikan materi keagamaan, tetapi juga menanamkan nilai kasih sayang, kepedulian, dan cinta tanah air dalam setiap kegiatan pembinaan,” tambahnya.
Hal ini sejalan dengan Surat Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Nomor B-310/Dt.III.III/HM.01/04/2026 tertanggal 21 April 2026 tentang pemberitahuan pendaftaran pelatihan KBC serta peluncuran program Belajar Mandiri Penyuluh Agama Islam yang ditujukan kepada Kepala Bidang Penerangan Agama Islam, Zakat, dan Wakaf (Penais Zawa) Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi.
Melalui partisipasi ini, diharapkan para penyuluh agama Islam, khususnya di wilayah Medan Labuhan, mampu mengimplementasikan nilai-nilai Kurikulum Berbasis Cinta dalam tugas pembinaan keagamaan di tengah masyarakat.
“Kami berharap ilmu yang diperoleh dapat kami aplikasikan secara nyata, sehingga pembinaan keagamaan menjadi lebih inklusif, adaptif, dan mampu membentuk karakter umat yang lebih baik,” tutup Sulaiman.

