Medan (Humas) – Penyuluh Agama Katolik KUA Medan Sunggal, Roni Antonius Sitanggang, melaksanakan kegiatan pendampingan bagi pasangan suami istri dalam rangka persiapan Penerimaan Baptisan Bayi pada Jumat, 31 Juli 2026, pukul 10.00 WIB. Kegiatan tersebut dilaksanakan di rumah keluarga Sinaga/br. Sitanggang yang beralamat di Jl. Empat Lima, Kelurahan Sunggal, Kecamatan Medan Sunggal. Pendampingan ini merupakan bagian dari pelayanan pastoral untuk membekali orang tua dalam mempersiapkan diri menyambut Sakramen Baptis bagi anak mereka.
Kegiatan ini diikuti oleh pasangan suami istri Bapak Sinaga dan Ibu br. Hutabarat. Dalam suasana penuh keakraban dan kekeluargaan, peserta diajak untuk semakin memahami tanggung jawab sebagai orang tua Katolik yang akan mendampingi anak bertumbuh dalam iman sejak menerima Sakramen Baptis. Pendampingan juga menjadi kesempatan untuk memperdalam pemahaman mengenai ajaran Gereja dan peran keluarga sebagai Gereja rumah tangga.
Pada kesempatan tersebut, Roni Antonius Sitanggang menyampaikan materi tentang Panca Tugas Gereja, yang meliputi persekutuan (koinonia), pewartaan (kerygma), liturgi (leiturgia), pelayanan (diakonia), dan kesaksian (martyria). Kelima tugas pokok Gereja tersebut menjadi landasan bagi setiap umat Katolik dalam menghayati kehidupan beriman, baik secara pribadi, dalam keluarga, maupun di tengah masyarakat.
Dalam pemaparannya, Roni menjelaskan bahwa melalui Sakramen Baptis seorang anak akan menjadi anggota Gereja dan dipanggil untuk bertumbuh sebagai murid Kristus. Oleh karena itu, orang tua memiliki tanggung jawab untuk memperkenalkan kehidupan doa, mengajarkan nilai-nilai Injil, membiasakan anak mengikuti Perayaan Ekaristi, serta memberikan teladan hidup yang mencerminkan kasih, kejujuran, dan semangat melayani. Dengan demikian, anak akan bertumbuh dalam lingkungan keluarga yang mendukung perkembangan iman dan karakter Kristiani.
Selain memberikan materi, kegiatan juga diisi dengan dialog dan tanya jawab mengenai persiapan Baptisan Bayi serta peran orang tua dan wali baptis dalam mendampingi kehidupan iman anak. Roni mengingatkan bahwa penerimaan Sakramen Baptis bukanlah akhir dari proses pembinaan iman, melainkan awal dari perjalanan panjang untuk membentuk anak menjadi pribadi yang mengenal, mengasihi, dan mengikuti Kristus dalam seluruh aspek kehidupannya.
Melalui kegiatan pendampingan ini, diharapkan pasangan Sinaga/br. Hutabarat semakin siap menyambut Penerimaan Baptisan Bayi dengan penuh iman dan tanggung jawab. Pembinaan ini juga diharapkan mendorong setiap keluarga Katolik untuk menghidupi Panca Tugas Gereja dalam kehidupan sehari-hari, sehingga keluarga menjadi tempat pertama dan utama dalam mewartakan iman serta membentuk generasi yang berakar kuat dalam ajaran Gereja Katolik.(RAS/PAI).

