Menguatkan Bakti kepada Orang Tua yang Sakit, Penyuluh Kemenag Medan Angkat Pesan QS. Al-Isra’ dan Al-Ahqaf

Medan (Humas) – Penyuluh Agama Islam Kementerian Agama Kota Medan, Hermansyah, menyampaikan tausiyah keagamaan melalui Radio Aqila FM pada Rabu (4/11/2026) dengan mengangkat pesan Al-Qur’an tentang pentingnya berbakti kepada kedua orang tua, khususnya ketika mereka sedang sakit dan membutuhkan perhatian anak-anaknya. Dalam tausiyah tersebut, ia menanggapi pertanyaan seorang pendengar yang merasa lelah merawat ibunya yang telah lanjut usia dan hanya bisa terbaring karena sakit. Pendengar tersebut juga mempertanyakan apakah dirinya berdosa karena pernah berdoa agar Allah SWT memberikan kesembuhan kepada sang ibu atau memudahkan jalannya apabila ajal telah dekat. Menanggapi hal itu, Hermansyah mengajak masyarakat untuk memahami bahwa merawat orang tua merupakan bagian dari kewajiban berbakti yang membutuhkan kesabaran, ketulusan, dan kekuatan hati.

Hermansyah menjelaskan bahwa perintah berbuat baik kepada kedua orang tua telah ditegaskan Allah SWT dalam QS. Al-Isra’ ayat 23, yang mengajarkan agar anak senantiasa berbuat baik serta menjaga perkataan dan sikap terhadap orang tua. Ayat tersebut secara khusus mengingatkan agar seorang anak tidak mengucapkan perkataan yang menyakiti hati orang tua, sekalipun dalam keadaan lelah atau menghadapi kesulitan. Ia menegaskan bahwa rasa lelah ketika merawat orang tua bukan berarti seseorang telah kehilangan bakti kepada keduanya. “Merasa lelah bukan berarti tidak berbakti, karena merawat orang tua yang sakit membutuhkan kekuatan dan kesabaran yang besar. Hal terpenting adalah bagaimana kita mengendalikan rasa lelah tersebut agar tidak berubah menjadi perkataan atau perbuatan yang menyakiti hati orang tua,” jelasnya.

Selain QS. Al-Isra’ ayat 23, Hermansyah juga mengangkat pesan QS. Al-Ahqaf ayat 15 yang mengingatkan manusia tentang perjuangan dan pengorbanan seorang ibu dalam mengandung, melahirkan, hingga membesarkan anaknya. Menurutnya, ayat tersebut menjadi pengingat bagi setiap anak agar tidak melupakan jasa dan pengorbanan orang tua, terutama ketika mereka memasuki usia lanjut dan membutuhkan perhatian lebih. Ia juga mengajak pendengar untuk memahami perbedaan antara mengharapkan kematian orang tua karena merasa terbebani dan berdoa agar Allah SWT memberikan jalan terbaik bagi orang tua yang sedang menderita sakit. Dalam hal ini, kisah pendengar tersebut perlu disikapi dengan husnuzan karena anak yang bersangkutan telah berusaha merawat, mendampingi, dan membawa ibunya berobat.

Dalam tausiyahnya, Hermansyah turut menjelaskan bahwa Rasulullah SAW mengajarkan umat Islam agar tidak mengharapkan kematian karena musibah atau penderitaan yang dialami. Sebagai gantinya, umat Islam dianjurkan menyerahkan segala urusan kepada Allah SWT melalui doa agar diberikan kehidupan apabila kehidupan itu lebih baik dan diwafatkan apabila kematian lebih baik baginya. Ia mengingatkan bahwa setiap anak perlu menjaga niat dan sikap ketika menghadapi kondisi orang tua yang sakit berkepanjangan. “Kita tidak boleh tergesa-gesa menghakimi seseorang sebagai anak yang berdosa hanya karena ia merasa lelah atau tidak tega melihat penderitaan ibunya. Namun, hendaknya kita mengarahkan doa kepada Allah agar diberikan kesembuhan apabila itu yang terbaik, atau diberikan kemudahan dan ketenangan apabila ajal telah tiba,” ungkapnya.

Sementara itu, Hermansyah juga memberikan pesan kepada anak-anak yang sedang merawat orang tua dalam kondisi sakit agar tidak merasa sendirian menghadapi keadaan tersebut. Menurutnya, menangis karena melihat orang tua kesakitan atau merasa lelah setelah merawatnya bukanlah tanda hilangnya kasih sayang dan bakti seorang anak. Ia menganjurkan agar anak senantiasa memohon pertolongan Allah SWT serta melibatkan anggota keluarga lainnya untuk berbagi tanggung jawab dalam perawatan orang tua. Dengan adanya kerja sama keluarga, tanggung jawab merawat orang tua diharapkan dapat dijalankan secara lebih baik tanpa mengurangi kasih sayang dan perhatian kepada mereka.

Melalui tausiyah di Radio Aqila FM tersebut, Hermansyah berharap masyarakat semakin memahami makna berbakti kepada orang tua sebagaimana pesan yang terkandung dalam QS. Al-Isra’ dan QS. Al-Ahqaf. Kedua ayat tersebut menjadi pengingat bahwa orang tua memiliki kedudukan yang mulia sehingga sudah sepatutnya anak memberikan perhatian, penghormatan, dan kasih sayang kepada mereka. Rasa lelah dalam merawat orang tua merupakan bagian dari keterbatasan manusia, tetapi hendaknya tidak menjadi alasan untuk mengabaikan atau menyakiti hati mereka. Pesan keagamaan ini diharapkan dapat memberikan ketenangan bagi masyarakat yang sedang menghadapi ujian dalam merawat orang tua sekaligus menguatkan semangat untuk terus berbakti

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *