Medan (Humas) — Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 5 Medan melaksanakan Sosialisasi Implementasi Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) Jenjang Madrasah Ibtidaiyah Tahun Pelajaran 2026/2027, Sabtu (29/08/2026). Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 09.00 WIB hingga selesai tersebut digelar di ruang kelas 1B MIN 5 Medan dan diikuti seluruh guru serta pegawai. Sosialisasi menjadi langkah strategis madrasah dalam mempersiapkan implementasi KBC agar dapat diterapkan secara optimal dalam proses pembelajaran maupun budaya kerja di lingkungan madrasah.
Kegiatan menghadirkan Pengawas MIN 5 Kota Medan, Ipan, S.Pd.I., M.Pd.I., sebagai narasumber. Ia memberikan pemaparan mengenai konsep, prinsip, serta penerapan Kurikulum Berbasis Cinta dalam penyelenggaraan pendidikan di madrasah. Materi yang disampaikan menjadi bekal bagi guru dan tenaga kependidikan untuk memiliki pemahaman yang sama mengenai arah implementasi KBC sekaligus mendorong lahirnya pola pembelajaran yang lebih humanis, menyenangkan, dan berorientasi pada pembentukan karakter peserta didik.
Dalam pemaparannya, Ipan menjelaskan bahwa Kurikulum Berbasis Cinta menempatkan nilai kasih sayang sebagai salah satu fondasi penting dalam proses pendidikan. Cinta kepada peserta didik tidak cukup hanya diwujudkan melalui ucapan, tetapi perlu hadir dalam bentuk kepedulian, penghargaan, pendampingan, keteladanan, serta kemampuan guru memahami kebutuhan dan karakter setiap anak. “Kurikulum Berbasis Cinta mengajak kita untuk melihat peserta didik sebagai pribadi yang memiliki potensi dan karakter yang berbeda-beda. Karena itu, guru perlu membangun suasana belajar yang aman, nyaman, menyenangkan, dan membuat anak merasa dihargai,” ujar Ipan.
Menurutnya, penerapan KBC membutuhkan keterlibatan seluruh warga madrasah dan tidak hanya menjadi tanggung jawab guru di dalam kelas. Sikap ramah, saling menghormati, peduli, dan memberikan pelayanan dengan sepenuh hati perlu menjadi bagian dari budaya madrasah dalam kehidupan sehari-hari. “Nilai cinta harus menjadi budaya bersama. Ketika guru, pegawai, dan seluruh warga madrasah mampu memberikan keteladanan dalam bersikap dan berinteraksi, maka peserta didik akan melihat serta belajar dari lingkungan yang mereka tempati setiap hari,” jelasnya.
Sosialisasi berlangsung interaktif dengan adanya ruang diskusi dan refleksi bagi para guru serta pegawai. Para peserta memperoleh kesempatan untuk mendalami penerapan nilai-nilai KBC sesuai dengan tugas dan tanggung jawab masing-masing, termasuk bagaimana membangun interaksi positif dengan peserta didik. Pembahasan tersebut juga menegaskan bahwa keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari capaian akademik, tetapi juga dari kemampuan madrasah membentuk peserta didik yang berakhlak, peduli, mandiri, percaya diri, dan memiliki karakter positif.
Kepala MIN 5 Kota Medan, Sri Darmawati, S.Pd., mengapresiasi pelaksanaan sosialisasi tersebut sebagai bagian dari persiapan madrasah dalam menerapkan Kurikulum Berbasis Cinta secara konsisten. Menurutnya, pemahaman yang sama di antara guru dan pegawai merupakan hal penting agar nilai-nilai KBC tidak berhenti sebagai konsep, tetapi dapat diwujudkan dalam seluruh aktivitas pendidikan. “Melalui kegiatan ini, kita berharap seluruh guru dan pegawai memiliki pemahaman yang sama tentang implementasi Kurikulum Berbasis Cinta. Yang paling penting adalah bagaimana pemahaman tersebut kita terjemahkan dalam sikap dan tindakan nyata ketika mendidik dan melayani anak-anak,” ungkap Sri Darmawati.
Ia menegaskan bahwa peserta didik membutuhkan lebih dari sekadar pengetahuan akademik untuk dapat tumbuh menjadi pribadi yang baik. Anak-anak juga membutuhkan kasih sayang, perhatian, keteladanan, serta lingkungan belajar yang nyaman agar mampu mengembangkan potensi secara optimal. “Anak-anak bukan hanya membutuhkan ilmu, tetapi juga membutuhkan kasih sayang, perhatian, keteladanan, dan lingkungan yang nyaman untuk tumbuh. Karena itu, mari kita hadir sebagai guru dan tenaga kependidikan yang mampu memberikan rasa aman, dihargai, dan didukung kepada setiap peserta didik,” tambahnya.
Sri Darmawati juga mengajak para guru untuk menjadikan nilai cinta sebagai bagian dari proses pendidikan sehari-hari. Menurutnya, keteladanan guru dalam berbicara, bersikap, memberikan bimbingan, maupun menyelesaikan persoalan akan menjadi pembelajaran langsung bagi peserta didik. “KBC jangan hanya dipahami sebagai sebuah program atau materi sosialisasi, tetapi harus menjadi budaya yang kita bangun bersama. Apa yang dilakukan guru akan dilihat dan ditiru oleh anak-anak, sehingga keteladanan menjadi bagian yang sangat penting dalam implementasinya,” tegasnya.
Implementasi Kurikulum Berbasis Cinta di MIN 5 Medan diharapkan mampu memperkuat budaya positif dan menciptakan lingkungan pendidikan yang lebih humanis. Penerapannya dapat dimulai dari berbagai hal sederhana, seperti membangun komunikasi yang baik, menghargai perbedaan karakter peserta didik, memberikan pendampingan sesuai kebutuhan, serta menciptakan suasana belajar yang menyenangkan. Dengan pendekatan tersebut, peserta didik diharapkan dapat belajar tanpa rasa takut sekaligus memperoleh ruang untuk berkembang sesuai potensi yang dimiliki.
Melalui sosialisasi ini, MIN 5 Medan berkomitmen untuk terus memperkuat penerapan Kurikulum Berbasis Cinta dalam proses pendidikan dan kehidupan sehari-hari di madrasah. Kolaborasi antara kepala madrasah, guru, tenaga kependidikan, peserta didik, serta seluruh warga madrasah menjadi kunci agar nilai-nilai cinta dapat tumbuh menjadi budaya yang nyata. Dengan pendidikan yang mengintegrasikan pengetahuan, kasih sayang, keteladanan, dan pembentukan karakter, MIN 5 Medan berharap dapat melahirkan generasi yang unggul secara akademik sekaligus berakhlak, berkarakter, mandiri, dan mampu memberikan manfaat bagi lingkungan sekitarnya.

