Medan (Humas) Penyuluh Agama Islam KUA Medan Sunggal Paidi, S.Ag mengisi rekaman program Mutiara Sore RRI Pro 4 FM Medan yang beralamat di Jalan Gatot Subroto Nomor 214, Kelurahan Sei Sikambing C2, Kota Medan, Kamis (20/8/2026). Dalam kesempatan tersebut, Paidi menyampaikan pesan keagamaan tentang upaya meraih syafaat di akhirat melalui amalan-amalan yang dicintai Rasulullah SAW.
Dalam kegiatan rekaman tersebut, Paidi didampingi operator rekaman RRI Monita serta Penyuluh Agama Islam Kantor Kementerian Agama Kota Medan Suryadi dan Muhammad Ambri Sembiring. Rekaman dilakukan secara bergantian dengan mengangkat tema pentingnya mempersiapkan bekal amal untuk memperoleh pertolongan Allah SWT dan syafaat Nabi Muhammad SAW di hari akhir.
Paidi menjelaskan bahwa syafaat merupakan pertolongan yang diberikan Nabi Muhammad SAW kepada umatnya atas izin Allah SWT. Ia menyampaikan bahwa terdapat beberapa golongan yang memiliki peluang mendapatkan syafaat, di antaranya orang yang senantiasa bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW, orang yang menjaga ibadah puasa, serta orang yang gemar membaca Al-Qur’an dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.
“Syafaat bukan hanya diraih dengan banyaknya amal secara kuantitas, tetapi juga dengan kecintaan kepada Rasulullah SAW melalui shalawat, menjaga ibadah puasa, serta menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup,” ujar Paidi.
Paidi menerangkan bahwa shalawat kepada Nabi memiliki banyak bentuk bacaan, di antaranya Shalawat Jibril, Shalawat Badar, dan Shalawat Ibrahimiyah. Selain itu, ia menjelaskan bahwa keberhasilan seseorang dalam menjalankan ibadah puasa dapat dilihat dari perubahan akhlak dan peningkatan ketakwaannya. “Tujuan ibadah puasa adalah membentuk pribadi yang bertakwa. Jika seseorang berpuasa tetapi tidak ada perubahan dalam dirinya, maka perlu mengevaluasi kembali kualitas puasanya,” tambahnya.
Ia mengibaratkan orang yang berpuasa seperti dua jenis binatang, yakni ular dan ulat. Menurutnya, ular yang berpuasa tidak mengalami perubahan setelahnya, baik dari nama, cara berjalan, maupun makanan. Hal itu diibaratkan sebagai orang yang berpuasa tetapi tidak mengalami perubahan perilaku. Sementara ulat mengalami perubahan setelah proses puasanya, dari ulat menjadi kupu-kupu yang lebih indah. “Inilah gambaran puasa yang berkualitas, yaitu puasa yang membawa perubahan menuju pribadi yang lebih baik,” jelas Paidi.
Di akhir penyampaiannya, Paidi mengajak masyarakat untuk menjadikan Al-Qur’an bukan hanya sebagai bacaan, tetapi juga dipahami dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. “Orang yang membaca Al-Qur’an, mempelajarinya, serta mengamalkan nilai-nilainya akan menjadi bagian dari golongan yang mendapatkan syafaat di yaumul akhir nanti,”(Paidi)

