Pemahaman tentang Persekutuan Para Kudus, Penyuluh Katolik KUA Medan Sunggal Bina Katekumen dari Toba

Medan (Humas) – Penyuluh Agama Katolik KUA Medan Sunggal, Roni Antonius Sitanggang, melaksanakan kegiatan pendampingan katekumen secara daring melalui Zoom Meeting pada Kamis, 5 November 2026, pukul 21.30 WIB. Kegiatan ini diikuti oleh Santi Manalu, seorang katekumen yang berasal dari Kabupaten Toba. Pendampingan tersebut merupakan bagian dari pembinaan iman Katolik yang bertujuan membantu katekumen mengenal, memahami, dan menghayati ajaran Gereja sebagai persiapan untuk menjadi anggota Gereja Katolik.

Materi yang dibahas dalam pertemuan tersebut adalah Gereja sebagai Persekutuan Para Kudus. Dalam pemaparannya, Roni menjelaskan bahwa persekutuan para kudus atau Communio Sanctorum merupakan salah satu pokok iman yang diakui dalam Syahadat Para Rasul. Ajaran ini menegaskan bahwa seluruh umat beriman dipersatukan dalam Kristus sebagai satu Tubuh, baik mereka yang masih hidup di dunia, mereka yang sedang menjalani pemurnian setelah meninggal dunia, maupun mereka yang telah menikmati kemuliaan bersama Allah di surga.
Lebih lanjut, dijelaskan bahwa Gereja sebagai Persekutuan Para Kudus memiliki makna bahwa hubungan persaudaraan di antara umat beriman tidak terputus oleh kematian. Kristus merupakan pusat dan sumber persatuan seluruh anggota Gereja. Melalui Sakramen Baptis, setiap orang dipersatukan dengan Kristus dan menjadi bagian dari Tubuh-Nya. Persatuan tersebut mengajak umat untuk saling mengasihi, saling mendoakan, serta mengambil bagian dalam kehidupan iman sebagai satu keluarga Allah.

Dalam pendampingan tersebut, Santi Manalu juga diajak memahami tiga keadaan persekutuan Gereja. Pertama, Gereja yang telah mencapai kemuliaan surgawi, yaitu para kudus yang hidup dalam persatuan sempurna dengan Allah dan menjadi teladan iman bagi umat. Kedua, Gereja yang sedang menjalani pemurnian, yaitu jiwa-jiwa orang beriman yang telah meninggal dalam rahmat Allah dan masih membutuhkan pemurnian sebelum menikmati kebahagiaan surgawi. Ketiga, Gereja yang masih berziarah di dunia, yaitu umat beriman yang sedang menjalani perjuangan hidup dengan berpegang teguh pada iman kepada Yesus Kristus.

Pembahasan juga menekankan bahwa umat Katolik yang masih hidup memiliki tanggung jawab untuk memelihara persekutuan tersebut melalui doa, penerimaan sakramen, kehidupan kasih, dan pelayanan kepada sesama. Umat dapat memohon doa perantaraan para kudus sebagai ungkapan persaudaraan dalam Kristus serta mendoakan saudara-saudari yang telah meninggal dunia. Dalam kehidupan sehari-hari, umat juga dipanggil untuk meneladani kesetiaan para kudus, membangun persaudaraan, mengampuni sesama, dan menghadirkan kasih Allah di tengah keluarga serta masyarakat.

Kepala KUA Medan Sunggal, H. Agus Salim, S.Ag., M.Pd.I., menyampaikan apresiasi kepada Penyuluh Agama Katolik KUA Medan Sunggal yang senantiasa memberikan bimbingan dan pelayanan keagamaan kepada masyarakat, termasuk melalui media daring. Menurutnya, perkembangan teknologi komunikasi telah memberikan kemudahan bagi para penyuluh untuk menjangkau masyarakat yang berada di berbagai daerah. “Jarak bukanlah penghalang bagi seseorang untuk berbagi ilmu pengetahuan dan memberikan pelayanan keagamaan. Kami sangat mengapresiasi dedikasi penyuluh agama yang terus melaksanakan tugas pembinaan kepada masyarakat. Semoga materi yang disampaikan memberikan manfaat dalam meningkatkan nilai-nilai keimanan serta memperkuat pelayanan keagamaan demi menjaga kerukunan bangsa dan negara,” ujar Agus Salim.

Melalui kegiatan pendampingan ini, Santi Manalu diharapkan semakin memahami bahwa Gereja merupakan persekutuan umat beriman yang dipersatukan dalam Kristus dan tidak dibatasi oleh ruang maupun waktu. Pemahaman mengenai Gereja sebagai Persekutuan Para Kudus menjadi bekal penting dalam memperdalam iman dan mempersiapkan diri untuk menjadi anggota Gereja Katolik.
Meskipun dilaksanakan secara daring, kegiatan ini menjadi sarana pembinaan iman yang mampu menjangkau katekumen dari Kabupaten Toba. Dengan pendampingan yang berkelanjutan, diharapkan Santi Manalu semakin bertumbuh dalam iman, memiliki semangat persaudaraan, serta mampu menjadi saksi kasih Kristus dalam kehidupan sehari-hari. Kegiatan ini sekaligus menjadi wujud nyata komitmen KUA Medan Sunggal dalam menghadirkan pelayanan dan pembinaan keagamaan yang inklusif, menjangkau masyarakat tanpa batas wilayah, serta memperkuat kerukunan antarumat beragama.(RAS/PAI).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *