Medan (Humas) – Bimbingan dan penyuluhan (bimluh) keagamaan terus dilakukan oleh Penyuluh Agama Islam KUA Medan Sunggal, Paidi, S.Ag., kepada warga binaan Lembaga Rehabilitasi Pencegahan Penyalahgunaan Narkotika (LRPPN) yang beralamat di Jalan Budi Luhur Gang PTP Nomor 8, Kelurahan Sei Sikambing C.II, Kota Medan, Kamis, 1 Oktober 2026. Pada kesempatan tersebut, Paidi menyampaikan tausiyah dengan tema dzikrullah atau mengingat Allah SWT.
Kegiatan bimluh diberikan kepada warga binaan yang beragama Islam. Sebelum tausiyah, kegiatan diawali dengan pelaksanaan salat Zuhur berjamaah, kemudian dilanjutkan dengan penyampaian materi keagamaan. Kegiatan ini bertujuan menanamkan nilai-nilai religius sekaligus memperkuat ketauhidan dan keimanan warga binaan agar memiliki keteguhan hati serta tidak kembali terjerumus dalam penyalahgunaan narkotika.
Paidi dalam tausiyahnya mengawali pembahasan dengan mengutip firman Allah SWT dalam Surah Ali Imran ayat 190–191 yang menjelaskan tentang tanda-tanda kebesaran Allah SWT melalui penciptaan langit dan bumi serta pergantian malam dan siang. “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi orang-orang yang berakal, yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring,” jelasnya.
Menurut Paidi, ayat tersebut mengajarkan manusia untuk menggunakan akal dan pikirannya dalam melihat berbagai tanda kebesaran Allah SWT yang terdapat di alam semesta. “Kalau akal tidak dipergunakan untuk berpikir, bahkan dirusak oleh narkoba, maka tanda-tanda kebesaran Allah seperti langit dan bumi tidak akan dapat mereka renungkan dengan baik,” ujar Paidi. Ia mencontohkan bahwa ketika manusia melihat langit yang luas tanpa tiang penyangga serta turunnya hujan yang dapat memenuhi bumi dengan air, semua itu merupakan tanda kebesaran dan kekuasaan Allah SWT.
Lebih lanjut, Paidi menjelaskan bahwa dzikrullah merupakan amalan yang dapat dilakukan dalam berbagai keadaan, baik ketika berdiri, duduk maupun berbaring. Menurutnya, ketika melihat sesuatu yang indah dapat mengucapkan Subhanallah, ketika menyadari kesalahan mengucapkan Astaghfirullah, dan ketika memperoleh nikmat mengucapkan Alhamdulillah. “Dzikir yang paling utama adalah kalimat La ilaha illallah. Dengan senantiasa mengingat Allah, hati akan terjaga dan keimanan akan semakin kuat,” tambahnya.
Paidi juga menyampaikan sejumlah manfaat berdzikir, di antaranya membantu menenangkan hati, memohon pertolongan Allah dalam menghadapi persoalan kehidupan, serta menjadi penguat spiritual dalam proses pemulihan. Ia mengibaratkan orang yang senantiasa berdzikir seperti orang yang memiliki hati yang hidup, sehingga lebih mampu menjaga diri dari pengaruh lingkungan yang negatif. Sebaliknya, hati yang jauh dari dzikir dikhawatirkan lebih mudah terpengaruh oleh pergaulan yang dapat membawa kembali kepada kebiasaan buruk.
Sementara itu, Kepala KUA Medan Sunggal, H. Agus Salim, S.Ag., M.Pd.I., menyampaikan apresiasi kepada penyuluh agama yang terus memberikan pendampingan kepada warga binaan LRPPN. “Mereka memang harus didampingi terus-menerus. Kita tidak boleh lengah, karena apabila kita lengah, mereka akan lebih mudah kembali menggunakan benda terlarang tersebut. Oleh karena itu, pendampingan harus terus berkesinambungan dan nilai keagamaan, amal ibadah serta keimanan mereka harus terus diperkuat,” ujar Agus Salim. Kegiatan bimluh ini diharapkan menjadi bagian dari pendampingan spiritual yang berkelanjutan, sehingga warga binaan semakin dekat kepada Allah SWT, memiliki keteguhan hati, dan mampu menjalani proses pemulihan serta kembali menjalani kehidupan yang lebih baik tanpa narkotika.(Paidi).

