Medan (Humas) — Tekanan psikologis, rasa cemas, ketakutan akan kematian, dan keputusasaan sering kali melanda pasien yang sedang menjalani perawatan di rumah sakit. Pada kondisi tersebut, pendampingan spiritual menjadi bagian penting untuk membantu pasien memperoleh ketenangan batin. Penyuluh agama Islam memiliki peran strategis sebagai fasilitator dalam memenuhi kebutuhan spiritual pasien sekaligus membangkitkan optimisme, penerimaan diri, dan motivasi untuk sembuh. Hal inilah yang dilakukan Penyuluh Agama Islam KUA Medan Sunggal, Paidi, S.Ag., melalui pendampingan kepada pasien rawat inap di RSP CPL USU Medan, Jalan Dr. Mansyur Nomor 66, Kelurahan Merdeka, Kota Medan, Senin (14/9/2026).
Dalam kegiatan tersebut, turut hadir Penyuluh Agama Islam KUA Medan Amplas, Nurbaiti Lubis, S.Ag., dan Penyuluh Agama Islam KUA Medan Kota, Muhammad Arsyad, S.H.I. Pendampingan diberikan kepada pasien yang beragama Islam dengan cara mengunjungi pasien dari satu ruangan ke ruangan lainnya secara bergantian. Kehadiran para penyuluh tidak hanya memberikan nasihat keagamaan, tetapi juga menjadi bentuk perhatian dan dukungan moral bagi pasien serta keluarga yang mendampingi selama masa perawatan.
Kegiatan diawali oleh Nurbaiti Lubis yang menjelaskan maksud kehadiran para penyuluh agama di lingkungan rumah sakit. Ia menyampaikan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari kerja sama Kementerian Agama Kota Medan dengan RSP CPL USU dalam memberikan pendampingan spiritual kepada pasien. “Kami dari Kementerian Agama Kota Medan sebagai penyuluh agama Islam telah bekerja sama dengan RSP CPL USU untuk memberikan pendampingan kepada pasien rawat inap, memberikan penyuluhan serta mendoakan pasien. Kami berharap kedatangan kami dapat membantu pasien agar semakin termotivasi untuk sembuh,” ujar Nurbaiti.
Selanjutnya, Paidi memberikan bimbingan dan penyuluhan mengenai hakikat kehidupan seorang manusia yang tidak terlepas dari ujian, cobaan, maupun penyakit. Ia mengajak pasien untuk menghadapi kondisi yang sedang dialami dengan kesabaran, keikhlasan, dan tetap berprasangka baik kepada Allah SWT. “Hakikat hidup tidak terlepas dari ujian, cobaan, dan penyakit. Oleh karena itu, ketika mendapatkan ujian, kita harus bersabar dan menerima takdir Allah SWT. Jadikan penyakit yang sedang kita alami sebagai sarana untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah,” ungkap Paidi.
Paidi juga mengajak pasien untuk mengambil hikmah dari penyakit yang sedang dihadapi. Menurutnya, selain menjadi ujian, kondisi tersebut dapat menjadi momentum untuk melakukan evaluasi terhadap pola hidup dan meningkatkan kepedulian terhadap kesehatan. “Di antara hikmah yang dapat kita ambil dari penyakit ini adalah kita harus senantiasa menjaga kebersihan, memperhatikan pola makan, serta mendapatkan waktu istirahat yang cukup. Kita juga harus tetap optimistis dan berikhtiar mengikuti anjuran tenaga medis, sembari terus berdoa kepada Allah SWT,” tambahnya.
Pada kesempatan tersebut, Muhammad Arsyad kemudian memberikan penguatan melalui doa bersama. Ia mendoakan pasien agar diberikan kesembuhan, kekuatan, dan ketabahan dalam menjalani proses pengobatan. Doa juga dipanjatkan bagi orang tua, keluarga, maupun pihak yang senantiasa menjaga dan mendampingi pasien selama menjalani perawatan. “Ya Allah, Tuhan Yang Maha Menyembuhkan, berikanlah kesembuhan kepada saudara kami yang sedang sakit. Angkatlah penyakitnya, kuatkanlah tubuh dan hatinya, berikanlah kesabaran serta ketabahan kepada keluarga yang mendampingi. Jadikanlah sakit ini sebagai penghapus dosa dan jalan untuk semakin dekat kepada-Mu. Berikanlah kekuatan kepada orang tua dan keluarga yang merawatnya, serta mudahkanlah setiap ikhtiar pengobatan yang dilakukan. Aamiin ya Rabbal ‘alamin,” doa Muhammad Arsyad.
Melalui pendampingan tersebut, para penyuluh agama Islam berharap kehadiran bimbingan spiritual di RSP CPL USU Medan dapat memberikan ketenangan dan semangat bagi pasien dalam menghadapi masa perawatan. Pendekatan keagamaan diharapkan mampu memperkuat kesabaran, keikhlasan, dan optimisme pasien sehingga proses pengobatan dapat dijalani dengan lebih tenang. Kegiatan ini sekaligus menjadi wujud kehadiran Kementerian Agama dalam memberikan pelayanan keagamaan yang menyentuh kebutuhan spiritual masyarakat, termasuk bagi umat Islam yang sedang menjalani perawatan di rumah sakit.(Paidi).

