Medan (Humas) – Penyuluh Agama Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Medan Sunggal lintas agama, yaitu Islam dan Kristen, melaksanakan bimbingan kerohanian bagi warga binaan di Panti Rehabilitasi Korban NAPZA Kiki Alam Jaya yang beralamat di Jalan Seroja Raya, Kelurahan Tanjung Selamat, Kota Medan, Senin (27/07/2026). Kegiatan ini merupakan bentuk kepedulian KUA Medan Sunggal dalam mendampingi proses pemulihan korban penyalahgunaan NAPZA melalui penguatan nilai-nilai keagamaan dan spiritual. Penyuluh yang hadir dari agama Islam adalah Drs. H. Fuji, M.A. dan Paidi, S.Ag, sedangkan dari agama Kristen adalah Sindar Purba, S.Th., M.Pd. dan Drammas Lumbantobing, S.Th. M.Pd.K
Pelaksanaan bimbingan dibagi menjadi dua kelompok sesuai agama yang dianut para peserta rehabilitasi. Drs. H. Fuji, M.A. bersama Paidi, S.Ag memberikan bimbingan kepada peserta rehabilitasi yang beragama Islam, sementara Sindar Purba dan Dramas Limbangtobing memberikan pembinaan kerohanian kepada peserta yang beragama Protestan. Pembagian ini dilakukan agar materi pembinaan dapat disampaikan sesuai dengan ajaran agama masing-masing sehingga lebih menyentuh kebutuhan rohani para peserta.
Dalam penyampaiannya, Fuji, mengajak seluruh peserta untuk terus menumbuhkan semangat bangkit dari keterpurukan. Ia menjelaskan bahwa proses menuju kesembuhan harus diawali dengan kesadaran diri, taubat yang sungguh-sungguh kepada Allah SWT, niat yang kuat untuk sembuh, serta tekad berhijrah menuju kehidupan yang lebih baik dan lebih dekat kepada Allah.
“Langkah pertama untuk sembuh adalah mengenali diri dan bertaubat kepada Allah SWT. Setelah itu tumbuhkan niat yang kuat untuk sembuh serta kemauan berhijrah ke jalan Allah. Dengan kesungguhan dan pertolongan-Nya, insya Allah masa depan yang lebih baik dapat diraih,” ujar Fuji
Sementara itu, Paidi, menegaskan bahwa perubahan hidup harus dimulai dari diri sendiri. Ia mengutip makna firman Allah SWT bahwa Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka sendiri berusaha mengubahnya. Menurutnya, keberhasilan rehabilitasi sangat bergantung pada kemauan, kesungguhan, dan komitmen pribadi untuk meninggalkan penyalahgunaan NAPZA serta menjalani kehidupan yang lebih baik.
“Allah SWT tidak akan mengubah nasib suatu kaum sampai mereka sendiri berusaha mengubahnya. Karena itu, jika ingin sembuh dari ketergantungan NAPZA, kemauan dan usaha yang paling utama harus lahir dari diri sendiri. Orang lain hanya mendampingi, tetapi keputusan untuk berubah ada pada diri kita masing-masing,” ujar Paidi.
Kegiatan bimbingan kerohanian berlangsung dengan penuh kekhidmatan. Setelah penyampaian materi, peserta diajak melakukan muhasabah untuk merenungi perjalanan hidup, memohon ampun kepada Allah SWT, serta memperkuat tekad meninggalkan masa lalu. Acara kemudian ditutup dengan doa bersama yang dipimpin oleh Paidi. Suasana haru dan khusyuk menyelimuti kegiatan tersebut sebagai wujud harapan agar seluruh peserta diberikan kekuatan untuk istiqamah menempuh jalan kesembuhan.
Melalui bimbingan kerohanian lintas agama ini, KUA Kecamatan Medan Sunggal menunjukkan komitmennya dalam mendukung proses rehabilitasi korban NAPZA, tidak hanya melalui pendekatan psikologis dan sosial, tetapi juga dengan penguatan spiritual. Diharapkan para peserta semakin termotivasi untuk bertaubat, memperbaiki diri, serta terus berjuang meninggalkan ketergantungan NAPZA demi meraih kehidupan yang sehat, bermartabat, dan lebih dekat kepada Tuhan Yang Maha Esa.(Paidi).

