Medan (Humas) – Penyalahgunaan narkotika, psikotropika, dan zat adiktif (NAPZA) menjadi salah satu persoalan serius yang berdampak terhadap kesehatan fisik, mental, sosial, dan spiritual seseorang. Para korban penyalahgunaan NAPZA juga kerap menghadapi stigma sosial yang dapat menghambat proses pemulihan dan reintegrasi ke tengah masyarakat. Karena itu, penyuluh agama Islam KUA Kecamatan Medan Sunggal hadir memberikan bimbingan keagamaan dan penguatan spiritual kepada warga binaan LRPPN yang beralamat di Jalan Budi Luhur, Gang PTP, No. 8, Kelurahan Sei Sikambing C.II, Kota Medan, Kamis (24/9/2026).
Dalam kegiatan tersebut, Penyuluh Agama Islam KUA Medan Sunggal, Fuji, menyampaikan materi tentang pentingnya menghadirkan Allah SWT dalam hati sebagai bagian dari upaya memperkuat keimanan dan membangun kesadaran diri. Menurutnya, kesadaran bahwa Allah senantiasa hadir dan mengawasi setiap perbuatan dapat menjadi landasan bagi seseorang untuk memperbaiki diri. “Cara menghadirkan Allah dalam hati manusia adalah dengan menanamkan kesadaran penuh muraqabah, bahwa Allah selalu melihat, mendengar, dan mengawasi setiap gerak-gerik kita,” ujar Fuji.
Lebih lanjut Fuji menjelaskan beberapa langkah praktis yang dapat dilakukan untuk menghadirkan Allah SWT dalam kehidupan sehari-hari.
Langkah pertama adalah mengenal Asmaul Husna, yakni mempelajari nama-nama dan sifat-sifat Allah SWT sehingga tumbuh rasa cinta, takut, dan kagum kepada-Nya. “Dengan mengenal Asmaul Husna, kita akan semakin memahami kebesaran dan sifat-sifat Allah SWT sehingga dapat menumbuhkan kecintaan dan kedekatan kepada-Nya,” jelas Fuji.
Langkah kedua, lanjut Fuji, adalah memperbanyak zikir dengan membiasakan lisan dan hati menyebut nama Allah SWT di sela-sela aktivitas sehari-hari. Zikir tidak hanya dilakukan setelah salat, tetapi juga dapat menjadi kebiasaan dalam berbagai keadaan. Langkah ketiga adalah menyadari pengawasan Allah SWT dengan beribadah dan beraktivitas dalam keyakinan bahwa Allah senantiasa melihat setiap perbuatan manusia. “Beribadah dan beraktivitaslah dengan keyakinan seolah-olah kita melihat Allah, atau minimal yakin bahwa Allah sedang melihat kita,” tambahnya.
Fuji juga mengajak warga binaan untuk merenungi ciptaan Allah SWT sebagai sarana meningkatkan kesadaran akan kebesaran dan kasih sayang-Nya. Keindahan alam semesta dan berbagai ciptaan Allah dapat menjadi media untuk memperkuat rasa syukur sekaligus mendekatkan diri kepada-Nya. Selain itu, ia menekankan pentingnya menjaga salat dengan khusyuk. “Hadirkan hati sepenuhnya di hadapan Allah saat berdiri dalam salat serta sempurnakan rukun dan batasannya. Salat yang dijaga dengan baik akan menjadi bagian penting dalam membangun ketenangan dan kekuatan spiritual,” ungkap Fuji.
Sementara itu, Kepala KUA Kecamatan Medan Sunggal, H. Agus Salim, S.Ag., M.Pd.I., mengapresiasi konsistensi para penyuluh agama Islam yang terus memberikan pendampingan kepada warga binaan korban penyalahgunaan NAPZA. Menurutnya, bimbingan keagamaan memiliki peran penting dalam memberikan bekal spiritual selama proses pembinaan. “Kami sangat mengapresiasi para penyuluh agama KUA Medan Sunggal yang senantiasa semangat memberikan pendampingan kepada warga binaan korban NAPZA. Semoga kegiatan ini menjadi ladang kebaikan bagi penyuluh maupun warga binaan yang telah banyak mendapatkan bekal ilmu pengetahuan,” ujar Agus Salim.
Kegiatan penyuluhan tersebut menjadi bagian dari upaya KUA Kecamatan Medan Sunggal dalam menghadirkan pembinaan keagamaan yang menyentuh aspek spiritual dan pembentukan karakter warga binaan. Penguatan iman, kesadaran muraqabah, zikir, menjaga salat, serta membangun kedekatan kepada Allah SWT diharapkan dapat menjadi bekal bagi para korban NAPZA dalam menjalani proses pemulihan, memperbaiki diri, dan mempersiapkan kehidupan yang lebih baik setelah kembali ke tengah masyarakat. Dengan pendampingan yang berkelanjutan, pembinaan keagamaan diharapkan mampu menumbuhkan harapan, keteguhan hati, dan semangat untuk menjalani kehidupan yang lebih positif dan produktif.(Paidi).

