Medan (Humas) — Penyuluh Agama Islam KUA Kecamatan Medan Sunggal, Drs. H. Fuji, MA., melaksanakan bimbingan kerohanian kepada pasien rawat inap di RSJ Bina Karsa Medan, Jalan Palas 3, Kota Medan, Rabu (23/9/2026). Dalam kegiatan tersebut, Fuji selaku Penyuluh Agama Islam KUA Kecamatan Medan Sunggal, memberikan penguatan keagamaan dan motivasi kepada pasien agar mampu meninggalkan kebiasaan-kebiasaan yang kurang baik yang dapat memengaruhi ketenangan jiwa.
Dalam penyampaiannya, Fuji menjelaskan bahwa sejumlah kebiasaan sehari-hari dapat menjadi pemicu munculnya tekanan dan stres apabila tidak dikendalikan. “Kebiasaan buruk yang senantiasa dapat mengakibatkan stres antara lain suka memendam perasaan, kurang tidur, dan terlalu sering mencemaskan hal-hal di luar kendali,” ujar Fuji.
Menurut Penyuluh Agama Islam KUA Kecamatan Medan Sunggal tersebut, memendam perasaan dan menyimpan emosi atau masalah seorang diri dapat membuat tekanan batin semakin menumpuk. Demikian pula dengan kurang tidur yang dapat memengaruhi kemampuan seseorang dalam mengatur emosi. “Memendam perasaan membuat tekanan batin menumpuk dan dapat memicu stres. Begitu juga apabila kita kurang tidur, karena waktu tidur yang kurang dari enam jam sehari dapat membuat seseorang lebih sulit mengatur emosi sehingga lebih mudah mengalami stres,” tambahnya.
Fuji juga mengingatkan pasien untuk menghindari kebiasaan berpikir berlebihan atau overthinking serta menunda-nunda pekerjaan. Menurutnya, terlalu banyak memikirkan masa lalu atau mencemaskan kemungkinan buruk di masa depan dapat menguras energi mental. Sementara itu, kebiasaan menumpuk pekerjaan hingga batas waktu terakhir dapat menimbulkan kepanikan dan tekanan mental yang semakin besar.
Selain itu, Fuji, Penyuluh Agama Islam KUA Kecamatan Medan Sunggal, mengingatkan agar penggunaan telepon seluler dan media sosial dilakukan secara bijak. Paparan informasi negatif secara terus-menerus serta kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain dapat menimbulkan kecemasan. “Jangan menyepelekan stres. Membiarkan stres kecil terjadi berlarut-larut tanpa penanganan dapat memperberat kondisi seseorang. Karena itu, kebiasaan-kebiasaan buruk tersebut harus kita tinggalkan,” tuturnya.
Fuji juga mengajak para pasien untuk tetap optimistis dan senantiasa memohon pertolongan kepada Allah SWT. Ia mengingatkan bahwa setiap manusia perlu berikhtiar sekaligus memperkuat doa dan keimanan dalam menghadapi ujian kehidupan. “Kita harus senantiasa optimis bahwa Allah SWT akan memberikan kesembuhan dan kesehatan. Mintalah pertolongan kepada Allah, karena Allah yang memberikan penyakit dan Allah pula yang memiliki obat untuk kesembuhan,” tutup Fuji dalam bimbingan kerohaniannya.
Sementara itu, Kepala KUA Kecamatan Medan Sunggal, H. Agus Salim, S.Ag., M.Pd.I., memberikan apresiasi atas kegiatan pendampingan yang dilakukan oleh para penyuluh agama. Menurutnya, pelayanan bimbingan keagamaan tidak hanya diberikan kepada korban penyalahgunaan NAPZA, tetapi juga kepada masyarakat yang membutuhkan penguatan spiritual, termasuk pasien rawat inap di rumah sakit jiwa. “Mereka juga membutuhkan motivasi, semangat, serta penguatan keimanan. Pendampingan rohani diharapkan dapat membantu memberikan ketenangan dalam menghadapi stres, kegelisahan, dan ketakutan yang berlebihan,” ujar Agus Salim Kepala KUA Kecamatan Medan Sunggal. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya KUA Kecamatan Medan Sunggal melalui penyuluh agama untuk menghadirkan pendampingan spiritual bagi masyarakat yang membutuhkan. (Paidi).

