Medan (Humas) – Penyuluh Agama Islam Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Medan Sunggal, Drs. H. Fuji, MA., melaksanakan pendampingan dan bimbingan rohani kepada pasien rawat inap Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Bina Karsa, Jalan Palas III, Nomor 19 Kota Medan, Rabu (7/10/2026). Kegiatan tersebut mengangkat tema “Menghilangkan Stres karena Beban Pikiran” sebagai upaya memberikan motivasi dan penguatan spiritual kepada para pasien.
Dalam penyuluhan tersebut, Fuji menjelaskan bahwa stres merupakan respons alami tubuh dan pikiran ketika seseorang menghadapi tekanan, ancaman, maupun perubahan yang membutuhkan penyesuaian diri. Menurutnya, stres tidak selalu bersifat negatif karena terdapat stres positif yang dapat mendorong seseorang untuk meningkatkan motivasi, semangat, dan energi dalam menjalani kehidupan.
“Stres terbagi menjadi dua jenis, yaitu stres yang bersifat positif dan dapat memicu motivasi serta semangat, dan stres negatif yang dapat menimbulkan kecemasan, mengganggu kesehatan, bahkan menurunkan fungsi tubuh,” ujar Fuji.
Fuji juga menyampaikan bahwa stres dapat disebabkan oleh berbagai faktor. Di antaranya adalah pekerjaan dan akademik, seperti beban kerja yang berlebihan, target yang tidak realistis, tekanan dari atasan, waktu yang mendesak, tugas sekolah, maupun ujian yang menumpuk. Selain itu, faktor keuangan dan ekonomi, seperti masalah finansial, krisis ekonomi, serta kehilangan pekerjaan atau PHK, juga dapat menjadi pemicu stres.
“Perubahan hidup yang besar seperti pernikahan, perceraian, memiliki anak, pindah rumah, atau kehilangan orang yang dicintai juga dapat memicu stres. Begitu pula masalah kesehatan, konflik sosial dan lingkungan, serta faktor internal seperti pikiran negatif terhadap diri sendiri, rasa tidak percaya diri, dan merasa tidak memiliki kendali atas keadaan,” tambah Fuji.
Sementara itu, Kepala KUA Kecamatan Medan Sunggal, H. Agus Salim, S.Ag., M.Pd.I., mengapresiasi semangat para penyuluh agama KUA Medan Sunggal yang terus memberikan pendampingan kepada pasien rawat inap. Ia menilai kehadiran penyuluh bukan hanya memberikan motivasi, tetapi juga menjadi bentuk kepedulian sosial dan penguatan nilai-nilai keagamaan bagi mereka yang sedang menghadapi berbagai persoalan kehidupan.
“Kita sangat mengapresiasi para penyuluh yang tetap semangat mendampingi pasien rawat inap. Mereka membutuhkan perhatian dan pendampingan. Dengan kehadiran kita untuk menjenguk dan memberikan motivasi, sedikit banyak dapat membantu mengurangi stres serta beban pikiran yang mereka rasakan. Melalui dakwah dan bimbingan agama Islam, diharapkan iman mereka semakin bertambah dan semakin dekat serta mengenal Allah SWT,” ujar Agus Salim.
Kegiatan pendampingan tersebut menjadi salah satu bentuk nyata peran penyuluh agama dalam memberikan penguatan spiritual kepada masyarakat, termasuk kepada pasien yang sedang menjalani perawatan. Melalui nasihat keagamaan, motivasi, dan kepedulian yang diberikan secara berkelanjutan, diharapkan para pasien memiliki semangat untuk menjalani proses perawatan, mampu menghadapi tekanan dengan lebih baik, serta semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT.(Paidi).

