Medan (Humas) – Memperkaya literasi ibadah menjadi salah satu langkah penting dalam meningkatkan pemahaman keagamaan, terutama terhadap ibadah yang dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari. Hal tersebut dilakukan Penyuluh Agama Islam Kementerian Agama Kota Medan melalui pembinaan keagamaan di Rumah Tahanan Negara (Rutan) Perempuan Kelas IIA Medan, Senin (5/10/2026). Dalam kegiatan tersebut, penyuluh mengajak para peserta mendalami ibadah salat sekaligus memahami thaharah sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari pelaksanaan ibadah. Kajian berlangsung secara interaktif dengan berbagai pertanyaan yang dilontarkan peserta untuk memperoleh pencerahan mengenai ketentuan, kaifiyat, makna, dan nilai filosofis yang terkandung dalam ibadah.
Penyuluh Agama Islam Kementerian Agama Kota Medan, M. Iqbal, menjelaskan bahwa salat yang terlihat sederhana karena telah menjadi rutinitas sehari-hari ternyata memiliki banyak aspek yang perlu dipahami. Menurutnya, pemahaman yang baik akan membantu seseorang melaksanakan ibadah dengan lebih tepat dan tidak sekadar mengikuti kebiasaan. “Kadang kita melihat salat itu sederhana karena sudah sering kita lakukan, padahal di dalamnya ada banyak hal yang perlu kita pahami, mulai dari thaharah, wudhu, syarat, rukun, sampai kaifiyat pelaksanaannya,” ujar M. Iqbal. Karena itu, ia mendorong peserta untuk terus memperkaya literasi keagamaan melalui proses belajar dan diskusi yang berkelanjutan.
Selain membahas salat, materi thaharah turut menjadi bagian penting dalam kajian karena bersuci berkaitan erat dengan persiapan seseorang sebelum melaksanakan ibadah. Peserta diajak memahami ketentuan mengenai thaharah dan wudu, termasuk hal-hal yang berkaitan dengan syarat serta rukun dalam pelaksanaannya. Pembahasan tersebut diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih utuh sehingga peserta tidak hanya mengetahui praktiknya, tetapi juga memahami dasar dan ketentuan yang menyertainya. Dengan demikian, literasi ibadah yang diperoleh dapat menjadi bekal dalam meningkatkan ketelitian dan kualitas pelaksanaan ibadah sehari-hari.
Sementara itu, kegiatan pembinaan berlangsung dalam suasana diskusi yang cukup aktif dengan munculnya berbagai pertanyaan dari peserta. Pertanyaan tersebut menunjukkan adanya keinginan untuk memahami lebih jauh persoalan ibadah yang terkadang dianggap sederhana, tetapi memiliki ketentuan yang cukup luas. Penyuluh memberikan penjelasan terhadap pertanyaan yang disampaikan sekaligus mengarahkan peserta untuk tidak berhenti belajar ketika menemukan hal-hal yang belum dipahami. Proses tanya jawab tersebut menjadi ruang untuk saling berbagi pengetahuan sekaligus memperkaya wawasan keagamaan peserta.
Senada dengan hal itu, M. Iqbal menilai bahwa kegiatan pembinaan keagamaan perlu dirutinkan agar proses pengayaan literasi ibadah dapat berlangsung secara berkesinambungan. “Kita tidak cukup hanya melakukan, tetapi juga perlu terus belajar dan berdiskusi supaya ibadah yang kita lakukan benar-benar sesuai dengan tuntunan,” ungkapnya. Ia juga mengajak peserta untuk menjadikan setiap pertanyaan sebagai bagian dari proses belajar dan tidak ragu mencari penjelasan ketika menemukan persoalan dalam pelaksanaan ibadah. Selain itu, kebiasaan berdiskusi dan memperkaya literasi diharapkan dapat membantu peserta membangun pemahaman agama yang lebih baik dan aplikatif.
Melalui pembinaan tersebut, PAI Kementerian Agama Kota Medan terus berupaya memperluas literasi keagamaan melalui materi yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Kajian salat dan thaharah diharapkan dapat membantu peserta memahami ibadah secara lebih menyeluruh, mulai dari ketentuan dasar hingga penerapannya. Kegiatan yang dilaksanakan secara interaktif juga menjadi sarana untuk menumbuhkan semangat belajar dan memperkuat kesadaran dalam mengamalkan ajaran agama. Sejalan dengan semangat “Penyuluh Bergerak, Penyuluh Berkarya”, pembinaan ini diharapkan dapat terus memberikan manfaat dan menjadi bagian dari upaya meningkatkan kualitas pemahaman keagamaan warga binaan.

