Medan (Humas) – Menjadi penyuluh agama Islam di tengah perubahan zaman tidak cukup hanya dengan menguasai materi keagamaan, tetapi juga membutuhkan kemampuan untuk memahami karakter dan kebutuhan masyarakat. Pesan tersebut mengemuka dalam kegiatan Focus Group Discussion (FGD) Transformasi Penyuluhan Agama Islam bersama alumni Fakultas Dakwah lintas stambuk yang dilaksanakan pada Senin (5/10/2026). Forum tersebut menjadi ruang bertukar gagasan mengenai bagaimana penyuluh dapat terus mengembangkan kapasitas diri dan menyesuaikan metode penyuluhan dengan perkembangan masyarakat. Melalui diskusi tersebut, peserta membahas berbagai tantangan sekaligus peluang dalam memperkuat peran penyuluh agar tetap relevan dan mampu memberikan layanan keagamaan yang dibutuhkan masyarakat.
Penyuluh Agama Islam Kementerian Agama Kota Medan, Nunung Ismayanti, menyampaikan bahwa transformasi penyuluhan perlu dimulai dari kemauan penyuluh untuk terus belajar dan membuka diri terhadap berbagai perkembangan. Menurutnya, penguasaan materi agama harus berjalan beriringan dengan kemampuan komunikasi, pemahaman sosial, serta kepekaan terhadap persoalan yang dihadapi masyarakat. “Transformasi penyuluhan agama Islam harus membuat penyuluh semakin dekat dengan kebutuhan masyarakat, bukan hanya menyampaikan materi, tetapi juga mampu memahami persoalan yang mereka hadapi,” ujar Nunung Ismayanti. Dengan kemampuan tersebut, penyuluh diharapkan tidak sekadar hadir sebagai penyampai pesan keagamaan, tetapi juga mampu menjadi mitra masyarakat dalam menemukan solusi atas berbagai persoalan kehidupan.
Selain itu, FGD bersama alumni Fakultas Dakwah lintas stambuk menjadi momentum untuk mempertemukan pengalaman dari berbagai generasi sekaligus memperkaya perspektif mengenai perkembangan dakwah. Pertukaran pengalaman tersebut memberikan gambaran bahwa pola penyuluhan tidak dapat diterapkan dengan pendekatan yang sama dalam setiap kondisi, karena masyarakat memiliki karakter, kebutuhan, dan tantangan yang terus berkembang. Diskusi juga menyoroti pentingnya membangun jejaring dan kolaborasi agar penyuluh memiliki ruang untuk saling belajar serta mengembangkan inovasi dalam menjalankan tugas. Dengan demikian, transformasi penyuluhan dapat diwujudkan melalui langkah nyata yang sesuai dengan kondisi masyarakat di lapangan.
Sementara itu, perkembangan teknologi digital menjadi salah satu tantangan sekaligus peluang yang perlu disikapi oleh penyuluh agama Islam. Masyarakat kini semakin mudah memperoleh berbagai informasi keagamaan melalui media sosial dan platform digital, sehingga penyuluh dituntut mampu hadir di ruang tersebut dengan konten yang edukatif dan dapat dipertanggungjawabkan. Kemampuan literasi digital juga diperlukan agar penyuluh dapat mengemas pesan keagamaan secara kreatif, komunikatif, dan mudah diterima oleh berbagai kelompok masyarakat. Oleh karena itu, pemanfaatan teknologi menjadi salah satu bentuk adaptasi yang dapat memperluas jangkauan penyuluhan sekaligus mendekatkan penyuluh dengan masyarakat.
Senada dengan hal itu, Nunung Ismayanti menilai bahwa penyuluh perlu terus memperbarui wawasan agar tidak tertinggal oleh perubahan yang terjadi di tengah masyarakat. Ia menjelaskan bahwa perkembangan zaman turut memengaruhi pola komunikasi dan kebutuhan masyarakat terhadap layanan penyuluhan agama, sehingga penyuluh perlu memiliki kemampuan untuk menyesuaikan diri tanpa kehilangan substansi nilai-nilai keagamaan. Menurutnya, proses tersebut membutuhkan kemauan untuk terus belajar, berdiskusi, dan mengambil pelajaran dari berbagai pengalaman yang ditemui dalam menjalankan tugas. “Penyuluh harus mau bergerak, belajar, dan beradaptasi, karena masyarakat yang kita dampingi juga terus berubah dan kebutuhan mereka semakin beragam,” ungkapnya.
Melalui FGD tersebut, penguatan kapasitas penyuluh diharapkan dapat terus dilakukan seiring dengan perkembangan kebutuhan masyarakat dan dinamika kehidupan sosial. Forum bersama alumni Fakultas Dakwah lintas stambuk juga menjadi sarana untuk memperkuat silaturahmi serta membangun jejaring dalam pengembangan penyuluhan agama Islam. Berbagai gagasan yang muncul dapat menjadi bahan untuk melahirkan pendekatan penyuluhan yang lebih inovatif, komunikatif, dan kontekstual. Dengan demikian, penyuluh agama Islam diharapkan mampu terus berkembang sebagai figur yang tidak hanya memiliki pemahaman agama yang baik, tetapi juga adaptif, responsif, dan mampu menjawab kebutuhan masyarakat.

