Medan (Humas) – Praktik berdana dalam tradisi Buddhis menjadi salah satu bentuk kebajikan yang mengajarkan ketulusan, kemurahan hati, dan kepedulian terhadap sesama. Nilai-nilai tersebut menjadi bagian penting dalam pembinaan kehidupan keagamaan karena mendorong umat untuk tidak hanya memahami ajaran agama, tetapi juga mewujudkannya dalam tindakan nyata. Sabtu (26/9/2026), Plt. Penyelenggara Buddha Kantor Kementerian Agama Kota Medan Irianto Saputra, S.Ag., M.Si. menghadiri Sanghadana Cetiya Fu Guang Dana Gala Dinner Mooncake 2026 yang berlangsung di Tiara Convention Hall, Medan. Dalam kesempatan tersebut, Irianto menekankan pentingnya menjadikan praktik berdana sebagai sarana menumbuhkan kebajikan dan kepedulian dalam kehidupan umat Buddha.
Kegiatan Sanghadana menjadi momentum bagi umat Buddha untuk mengembangkan kebajikan melalui pemberian dana kepada Sangha. Irianto menyampaikan bahwa praktik tersebut memiliki makna yang lebih luas karena mengajarkan umat untuk berbagi dengan ketulusan dan tanpa mengutamakan kepentingan pribadi. “Kegiatan seperti ini menjadi momentum untuk mempererat kebersamaan sekaligus menumbuhkan semangat berdana dan kepedulian,” ujar Irianto. Selain itu, ia berharap semangat kebajikan yang diwujudkan melalui kegiatan tersebut dapat terus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Menurut Irianto, kepedulian terhadap sesama merupakan salah satu nilai yang perlu terus dipelihara dalam kehidupan bermasyarakat. Ia menjelaskan bahwa praktik berdana dapat menjadi sarana untuk membangun kesadaran bahwa setiap orang memiliki kesempatan untuk memberikan manfaat sesuai dengan kemampuan yang dimiliki. “Melalui berdana, kita belajar untuk membuka hati, berbagi dengan sesama, dan menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan di sekitar kita,” katanya. Senada dengan hal itu, ia mengajak umat untuk menjadikan kebajikan sebagai bagian dari kebiasaan yang dilakukan secara konsisten.
Selain memiliki nilai spiritual, Sanghadana Cetiya Fu Guang juga menjadi ruang untuk memperkuat kebersamaan di antara berbagai komponen umat Buddha di Kota Medan. Irianto menilai kebersamaan dapat tumbuh ketika umat memiliki kepedulian dan kemauan untuk saling mendukung dalam kehidupan bermasyarakat. “Kebajikan akan semakin bermakna ketika dapat diwujudkan bersama dan memberikan manfaat bagi orang lain,” terangnya. Sementara itu, kegiatan tersebut juga menjadi kesempatan untuk mempererat silaturahmi dan membangun komunikasi antarkomponen umat Buddha.
Sebagai Plt. Penyelenggara Buddha Kemenag Kota Medan, Irianto terus mendorong agar nilai-nilai keagamaan dapat diwujudkan dalam kehidupan sosial secara nyata. Ia menyampaikan bahwa Kementerian Agama mendukung kegiatan keagamaan yang dapat memperkuat pembinaan umat sekaligus menumbuhkan kepedulian di tengah masyarakat. “Kami berharap semangat kebajikan dan kepedulian seperti ini terus berkembang, sehingga kehidupan keagamaan tidak hanya memperkuat spiritualitas, tetapi juga memberikan manfaat sosial bagi masyarakat,” ungkapnya. Selain itu, ia berharap komunikasi dan sinergi antara Kementerian Agama dengan lembaga serta komunitas keagamaan Buddha dapat terus terjalin dengan baik.
Sanghadana Cetiya Fu Guang Dana Gala Dinner Mooncake 2026 menjadi momentum bagi umat Buddha untuk mengembangkan kebajikan melalui praktik berdana. Nilai ketulusan, kemurahan hati, kepedulian, dan kebersamaan yang terkandung di dalamnya dapat menjadi bagian dari pembinaan kehidupan keagamaan umat. Kegiatan tersebut juga memperkuat silaturahmi antarkomponen umat Buddha serta hubungan dengan Kementerian Agama dalam mendukung pelayanan keagamaan. Dengan terus menumbuhkan praktik kebajikan dan kepedulian, nilai-nilai keagamaan diharapkan semakin nyata dalam kehidupan bermasyarakat.

