Medan (Humas) — Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Medan Amplas terus memperkuat pelayanan dan bimbingan keagamaan yang prima serta berdampak melalui pembinaan masyarakat secara berkelanjutan. Salah satu upaya tersebut diwujudkan melalui program Tahsin Alqurān yang rutin dilaksanakan setiap Selasa pukul 14.00 WIB. Pada Selasa (6/10/2026), kegiatan kembali berlangsung dengan pendampingan Dr. Syarto Syarif, Lc., M.A., dan Eliza Purba, Penyuluh Agama Islam KUA Kecamatan Medan Amplas.
Program ini merupakan bagian dari implementasi arahan Kepala KUA Kecamatan Medan Amplas, H. Muhammad Lukman Hakim Hasibuan, S.Ag., M.A., kepada seluruh Penyuluh Agama Islam, Penghulu, dan Penata Layanan Operasional (PLO) agar terus menghadirkan pelayanan serta bimbingan yang berkualitas dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Melalui pembinaan tersebut, KUA Medan Amplas berupaya menjadikan kegiatan keagamaan sebagai sarana peningkatan kemampuan membaca Alqurān sekaligus penguatan pemahaman dan pengamalan nilai-nilai Islam.
Kegiatan diikuti ibu-ibu muslimat yang tergabung dalam sejumlah majelis taklim di Kecamatan Medan Amplas. Antusiasme peserta menunjukkan besarnya perhatian masyarakat terhadap pembelajaran Alqurān yang tidak hanya menekankan ketepatan membaca, tetapi juga pemahaman terhadap pesan-pesan yang terkandung di dalamnya. Dra. Imaniyah, M.H., turut berperan aktif sebagai salah satu penggerak kegiatan yang mendukung keberlangsungan pembelajaran Alqurān di tengah masyarakat.
Dalam kegiatan tersebut, para peserta membaca QS. Al-Baqarah ayat 28–29 secara bergantian. Setiap bacaan menjadi bagian dari proses pembelajaran untuk meningkatkan ketepatan pelafalan sekaligus membangun kedekatan dengan Alqurān. Setelah sesi membaca, kegiatan dilanjutkan dengan penjelasan dan tadabbur ayat yang dipandu Dr. Syarto Syarif, Lc., M.A., dengan mengajak peserta merenungkan hakikat kehidupan manusia berdasarkan petunjuk Alqurān.
Dalam pemaparannya, Dr. Syarto menjelaskan kandungan QS. Al-Baqarah ayat 28 yang mengingatkan manusia tentang kekuasaan Allah Ta’ālā dalam menghidupkan dan mematikan makhluk-Nya. Ayat tersebut mengajak setiap manusia menyadari perjalanan kehidupannya, mulai dari keadaan sebelum memperoleh kehidupan di dunia, menjalani kehidupan, mengalami kematian, hingga dibangkitkan kembali untuk mempertanggungjawabkan amal perbuatannya di hadapan Allah Ta’ālā.
Ia menguraikan empat fase kehidupan yang dapat direnungkan dari ayat tersebut. Pertama, manusia berada dalam keadaan belum hidup sebelum diciptakan oleh Allah Ta’ālā. Kedua, Allah memberikan kehidupan sehingga manusia dapat hadir dan menjalani kehidupan di dunia. Ketiga, manusia akan mengalami kematian sebagai ketetapan yang berlaku bagi setiap makhluk. Keempat, manusia akan dibangkitkan kembali untuk menghadap Allah Ta’ālā dan mempertanggungjawabkan seluruh amal yang telah dilakukan selama hidupnya.
Melalui penjelasan tersebut, peserta diajak memahami bahwa kehidupan dunia bukanlah tujuan akhir perjalanan manusia. Kehidupan merupakan kesempatan untuk beribadah, berbuat kebaikan, memperbaiki diri, dan mempersiapkan bekal untuk kehidupan akhirat. Kesadaran terhadap kematian dan kebangkitan diharapkan dapat mendorong setiap muslim menjalani kehidupan dengan lebih bijaksana, menjaga perilaku, serta meningkatkan kualitas ibadah.
“Manusia perlu menyadari dari mana ia berasal, untuk apa diberi kehidupan, ke mana perjalanan akhirnya, dan kepada siapa seluruh amal akan dipertanggungjawabkan,” demikian pesan yang ditekankan dalam pembelajaran tersebut.
Pembahasan kemudian dilanjutkan dengan tadabbur QS. Al-Baqarah ayat 29 yang menjelaskan kekuasaan Allah Ta’ālā dalam menciptakan segala sesuatu di bumi dan menyempurnakan penciptaan langit. Penjelasan ini memperluas pemahaman peserta mengenai kebesaran Allah sebagai Pencipta sekaligus mengingatkan manusia untuk mensyukuri nikmat kehidupan dan memanfaatkan karunia-Nya secara bertanggung jawab.
Suasana pembelajaran berlangsung interaktif melalui sesi diskusi dan tanya jawab. Para peserta memperoleh kesempatan untuk menyampaikan pertanyaan serta pandangan mengenai kandungan ayat dan relevansinya dengan kehidupan sehari-hari. Melalui dialog tersebut, pembelajaran Tahsin diharapkan tidak berhenti pada kemampuan membaca Alqurān secara benar, tetapi juga menumbuhkan pemahaman yang lebih mendalam dan kesadaran untuk menerapkan ajaran Islam dalam kehidupan.
Kegiatan ditutup dengan doa bersama dan dilanjutkan dengan salat Asar berjamaah. Rangkaian kegiatan ini menjadi bagian dari pembinaan yang mengintegrasikan pembelajaran membaca Alqurān, pemahaman kandungan ayat, tadabbur, serta penguatan praktik ibadah. Dengan demikian, peserta tidak hanya memperoleh tambahan pengetahuan keagamaan, tetapi juga didorong untuk membangun kebiasaan baik yang dapat diterapkan secara konsisten.
Melalui program Tahsin Alqurān yang dilaksanakan secara rutin, KUA Kecamatan Medan Amplas terus berupaya menghadirkan pelayanan keagamaan yang menyentuh kebutuhan masyarakat. Pembinaan yang berkesinambungan ini diharapkan dapat meningkatkan kemampuan membaca Alqurān, memperdalam pemahaman terhadap kandungannya, serta memperkuat kesadaran bahwa kehidupan merupakan amanah yang harus dijalani dengan penuh tanggung jawab di hadapan Allah Ta’ālā.

