Penyuluh Agama Ajak Jemaah Kenali Tingkatan Hawa Nafsu dalam Kajian Ba’da Zuhur di Masjid Musabbihin

Medan (Humas) — Anggota Kelompok Kerja Penyuluh (Pokjaluh) PAI Kota Medan, Tgk. M. Nizamuddin, S.Ag., SH., M.Pd., mengajak jemaah untuk mengenali tingkatan hawa nafsu dalam kajian Ba’da Zuhur yang digelar di Masjid Musabbihin, Komplek Perumahan Tasbih, Rabu (4/3/2026). Kajian yang merupakan bagian dari edisi Ramadan 1447 H tersebut membahas tentang jenis-jenis hawa nafsu yang dapat mengarahkan manusia kepada keburukan maupun kebaikan.
Dalam pemaparannya, Tgk. Nizamuddin terlebih dahulu menjelaskan secara umum mengenai pembagian hawa nafsu dalam diri manusia menurut kajian tasawuf. Menurutnya, pemahaman tentang hal ini penting agar umat Islam mampu mengendalikan diri dalam kehidupan sehari-hari.
“Ada dua jenis hawa nafsu yang selalu mengarahkan kepada keburukan dan dua jenis hawa nafsu yang mengarahkan kepada kebaikan,” ujarnya di hadapan jemaah.
Ia kemudian menyebutkan bahwa penjelasan mengenai tingkatan hawa nafsu tersebut telah banyak dijelaskan oleh para ulama dalam berbagai kitab klasik. Salah satunya adalah penjelasan dari ulama besar Nusantara yang karyanya banyak dijadikan rujukan dalam kajian keislaman.
“Sebagaimana yang ditulis oleh Syeikh Imam Nawawi Bantani dalam kitabnya Qathrul Ghaits, hawa nafsu yang dapat menjerumuskan manusia ke dalam kehinaan dan dosa besar adalah hawa nafsu ammarah,” jelasnya.
Lebih lanjut ia menguraikan karakteristik dari hawa nafsu ammarah yang harus diwaspadai oleh setiap Muslim. Ia menilai bahwa sifat-sifat tersebut dapat merusak hubungan manusia dengan sesama maupun dengan Allah SWT.
“Hawa nafsu ammarah bercirikan tidak memiliki rasa empati, mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan, ambisi yang berlebihan, birahi yang tidak terkendali, serta hasrat ingin menguasai yang berujung pada keserakahan,” ungkapnya.
Menurutnya, ketika seseorang mulai menyadari kesalahan dan menyesali perbuatan dosanya, maka terjadi perubahan pada kondisi jiwanya. Pada tahap ini, hawa nafsu seseorang mulai meningkat menuju tingkatan berikutnya.
“Nafsu lawwamah adalah jenis hawa nafsu yang sudah mengakui penyesalan setelah berbuat dosa, namun belum mampu istiqamah. Terkadang seseorang masih berbuat dosa, menyesal lagi, kemudian mengulanginya kembali,” terangnya.
Dalam kesempatan tersebut, ia juga menekankan bahwa ibadah puasa di bulan Ramadan memiliki peran penting dalam proses pengendalian hawa nafsu. Puasa tidak hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga melatih pengendalian diri.
“Ibadah puasa Ramadan memiliki peran penting untuk melemahkan dua jenis hawa nafsu tersebut yang berpotensi dapat dikendalikan oleh jin dan setan. Jika ammarah dan lawwamah dapat ditekan dengan kendali iman dan takwa, maka yang akan muncul adalah hawa nafsu mulhimmah dan bahkan meningkat menjadi nafsu muthmainnah,” katanya.
Di akhir kajiannya, ia menegaskan bahwa tujuan utama puasa Ramadan adalah membentuk pribadi yang bertakwa. Ketakwaan tersebut tercermin dalam hubungan yang baik antara manusia dengan Allah, diri sendiri, maupun sesama manusia.
“Mulhimmah dan muthmainnah inilah yang membawa kehidupan manusia ke jalan yang benar, kendali diri yang stabil, mencintai nilai-nilai insaniyah dan ilahiyah, serta mampu menciptakan peradaban yang baik. Inilah tujuan puasa Ramadan yang sesungguhnya, yaitu mencapai ketakwaan,” tutupnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *