Medan Humas) – Menjelang berakhirnya Tahun Hijriah 1447 dan datangnya Tahun Baru Hijriah 1448 H, Penyuluh Agama Islam Kecamatan Medan Baru, Syahmuda Nasution, S.Ag., melaksanakan kegiatan Bimbingan dan Penyuluhan (Bimluh) di Majelis Taklim Nurul Iman, Jalan Sei Wampu Baru, Kecamatan Medan Baru, Kamis (11/06/2026).
Kegiatan yang berlangsung pukul 15.30 hingga 16.00 WIB tersebut dihadiri oleh jamaah majelis taklim yang dengan penuh antusias mengikuti pembinaan keagamaan. Mengusung tema “Muhasabah Diri di Penghujung Tahun Hijriah 1447 dalam Menyongsong Tahun Baru Hijriah 1448”, kegiatan ini menjadi sarana refleksi bagi masyarakat untuk mengevaluasi perjalanan hidup sekaligus memperkuat tekad dalam meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan.
Dalam penyampaiannya, Syahmuda Nasution menegaskan bahwa pergantian tahun Hijriah hendaknya tidak dimaknai sekadar pergantian angka dalam kalender, tetapi menjadi momentum penting untuk melakukan introspeksi diri terhadap amal ibadah, perilaku, serta kontribusi yang telah diberikan kepada sesama.
“Tahun boleh berganti, tetapi yang lebih penting adalah apakah diri kita ikut berubah menjadi lebih baik. Tahun Baru Hijriah adalah waktu yang tepat untuk mengevaluasi diri, memperbaiki kekurangan, dan menyusun langkah-langkah menuju kehidupan yang lebih berkah,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa muhasabah merupakan salah satu ajaran penting dalam Islam yang mendorong setiap muslim untuk selalu melakukan evaluasi terhadap diri sendiri. Dengan muhasabah, seseorang dapat mengetahui kekurangan yang perlu diperbaiki serta mensyukuri berbagai nikmat yang telah diberikan Allah SWT.
Menurutnya, orang yang beruntung bukanlah mereka yang sekadar bertambah usia, tetapi mereka yang mampu meningkatkan kualitas keimanan, ibadah, dan akhlaknya dari waktu ke waktu.
“Momentum Tahun Baru Hijriah hendaknya menjadi sarana muhasabah bagi setiap muslim. Kita tidak hanya menghitung bertambahnya usia, tetapi juga mengukur sejauh mana peningkatan kualitas ibadah, akhlak, dan kontribusi kita kepada sesama,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Syahmuda mengajak jamaah untuk memahami makna hijrah sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Hijrah, menurutnya, bukan hanya perpindahan tempat, melainkan perubahan menuju kondisi yang lebih baik dalam berbagai aspek kehidupan.
Ia mengajak jamaah untuk berhijrah dari kebiasaan buruk menuju kebiasaan yang baik, dari sikap lalai menuju sikap yang lebih disiplin dalam beribadah, serta dari hubungan sosial yang kurang harmonis menuju ukhuwah yang lebih kuat dan penuh kasih sayang.
“Hakikat hijrah adalah perubahan ke arah yang lebih baik. Jika tahun lalu kita masih sering menunda ibadah, mari tahun ini lebih disiplin. Jika masih ada kesalahan kepada sesama, mari kita perbaiki hubungan dan memperkuat silaturahmi,” pesannya.
Dalam suasana yang hangat dan penuh kekeluargaan, para jamaah tampak menyimak materi dengan penuh perhatian. Beberapa peserta juga aktif berdiskusi dan berbagi pengalaman mengenai upaya memperbaiki diri serta tantangan yang dihadapi dalam menjaga konsistensi beribadah di tengah kesibukan kehidupan sehari-hari.
Syahmuda juga mengingatkan bahwa setiap pergantian waktu sejatinya merupakan pengingat bahwa usia manusia terus berkurang. Oleh karena itu, setiap muslim hendaknya memanfaatkan kesempatan yang diberikan Allah SWT untuk memperbanyak amal saleh dan menebar manfaat bagi sesama.
“Kita tidak tahu apakah masih akan dipertemukan dengan Tahun Baru Hijriah berikutnya. Karena itu, mari gunakan kesempatan yang ada untuk memperbanyak amal kebaikan, memperkuat keimanan, dan meningkatkan kepedulian kepada sesama,” tuturnya.
Melalui kegiatan ini, diharapkan masyarakat dapat menyambut Tahun Baru Hijriah 1448 H dengan semangat baru, hati yang lebih bersih, serta komitmen yang lebih kuat untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Muhasabah yang dilakukan di penghujung tahun diharapkan menjadi langkah awal menuju kehidupan yang lebih bermakna, penuh keberkahan, dan diridhai Allah SWT.
Kegiatan Bimluh ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan Penyuluh Agama Islam Kecamatan Medan Baru dalam memberikan pembinaan keagamaan kepada masyarakat. Melalui pendekatan yang edukatif dan persuasif, penyuluh agama terus hadir untuk memperkuat nilai-nilai spiritual, membangun karakter umat, serta mengajak masyarakat menjadikan setiap momentum kehidupan sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT.

