PAI KUA Medan Denai Ajak Jamaah MT Al-Amin Perkuat Ikhtiar Melalui Empat Doa Mustajab

Medan (Humas) – Penyuluh Agama Islam (PAI) KUA Kecamatan Medan Denai terus mengintensifkan pembinaan keagamaan di tengah masyarakat melalui kegiatan Bimbingan dan Penyuluhan (Bimluh) Keluarga Sakinah. Kali ini, kegiatan dilaksanakan bersama jamaah Majelis Taklim Al-Amin di Masjid Al-Ridho, Jalan Jermal VII Ujung, Kecamatan Medan Denai, Jumat (12/06/2026).

Kegiatan yang berlangsung usai salat Jumat tersebut berjalan dalam suasana hangat, penuh keakraban, dan sarat nilai-nilai keagamaan. Para jamaah yang hadir tampak antusias mengikuti rangkaian acara yang bertujuan meningkatkan pemahaman agama sekaligus memperkuat ketahanan spiritual keluarga dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan.

Acara dipandu oleh Nursalimi selaku protokol dan diawali dengan sambutan dari tuan rumah, Ibu Nur Apasah. Dalam sambutannya, ia menyampaikan rasa syukur dan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan pembinaan keagamaan tersebut. Menurutnya, majelis taklim memiliki peran penting sebagai wadah mempererat ukhuwah Islamiyah sekaligus sarana menambah ilmu pengetahuan agama bagi masyarakat.

“Semoga kegiatan seperti ini terus berlanjut karena sangat bermanfaat dalam meningkatkan pemahaman agama dan memperkuat silaturahmi antarjamaah,” ujarnya.

Senada dengan hal tersebut, Ketua Majelis Taklim Al-Amin, Dra. Hj. Dariani, menyampaikan terima kasih kepada Penyuluh Agama Islam KUA Medan Denai yang secara konsisten hadir memberikan pembinaan dan pencerahan keagamaan kepada masyarakat.

“Kami sangat bersyukur dan berterima kasih atas kehadiran penyuluh agama yang senantiasa membimbing masyarakat. Kegiatan seperti ini sangat bermanfaat dalam menambah ilmu dan memperkuat keimanan jamaah,” ungkapnya.

Pada sesi inti, Penyuluh Agama Islam Khoiruz Zaman, S.H.I., menyampaikan tausiyah bertema “Empat Doa yang Mustajab dan Dijamin Dikabulkan Allah SWT”. Materi tersebut mengupas pentingnya doa sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT sekaligus bentuk ikhtiar batin yang harus selalu menyertai setiap usaha manusia.

Mengawali kajiannya, Khoiruz Zaman mengingatkan jamaah tentang firman Allah SWT dalam Surah Ghafir ayat 60 yang menegaskan perintah untuk berdoa dan janji Allah untuk mengabulkan permohonan hamba-Nya yang berdoa dengan penuh keikhlasan dan keyakinan.

“Doa adalah senjata orang beriman. Ketika seorang hamba berdoa, sesungguhnya ia sedang menunjukkan ketergantungannya kepada Allah SWT dan meyakini bahwa hanya Allah yang mampu memberikan jalan keluar atas setiap persoalan,” jelasnya.

Dalam kajiannya, ia menjelaskan empat golongan yang doanya memiliki keistimewaan dan kedudukan khusus di sisi Allah SWT.

Pertama, doa orang yang terzalimi. Menurutnya, doa orang yang mengalami kezaliman memiliki kekuatan yang luar biasa karena lahir dari hati yang terluka dan penuh harapan kepada pertolongan Allah SWT.

“Jangan pernah meremehkan doa orang yang terzalimi, karena antara doanya dan Allah tidak ada hijab. Oleh sebab itu, kita harus menjaga diri dari segala bentuk kezaliman terhadap sesama,” tegasnya.

Kedua, doa orang tua untuk anak-anaknya. Ia menjelaskan bahwa doa yang dipanjatkan oleh ayah dan ibu dengan penuh kasih sayang menjadi salah satu faktor penting dalam keberhasilan dan keberkahan hidup seorang anak.

“Ridha Allah bergantung pada ridha orang tua. Karena itu, anak-anak harus berusaha menjaga bakti kepada kedua orang tuanya agar mendapatkan keberkahan hidup dan doa yang baik dari mereka,” ujarnya.

Ketiga, doa orang yang berpuasa hingga waktu berbuka. Menurutnya, waktu menjelang berbuka merupakan salah satu momentum terbaik untuk bermunajat kepada Allah SWT.

“Ketika berpuasa, seorang hamba sedang melatih kesabaran dan pengendalian diri. Maka manfaatkan waktu menjelang berbuka untuk memperbanyak doa dan istighfar karena saat itu termasuk waktu yang sangat mustajab,” katanya.

Keempat, doa seorang musafir atau orang yang sedang dalam perjalanan. Dalam kondisi tersebut, seseorang lebih banyak bersandar kepada Allah SWT sehingga doanya memiliki keutamaan tersendiri.

“Perjalanan mengajarkan kita tentang tawakal dan ketergantungan kepada Allah. Karena itu, perbanyaklah doa selama dalam perjalanan agar mendapatkan keberkahan dan perlindungan-Nya,” tambahnya.

Khoiruz Zaman menegaskan bahwa keempat golongan tersebut memiliki satu kesamaan, yaitu ketulusan hati, kerendahan diri, dan kepasrahan penuh kepada Allah SWT. Menurutnya, semakin dekat seorang hamba kepada Allah, maka semakin besar pula peluang doanya untuk dikabulkan.

“Doa bukan sekadar rangkaian kata-kata, tetapi bentuk penghambaan dan pengakuan bahwa hanya Allah tempat bergantung. Karena itu, jangan pernah lelah berdoa dan jangan pernah berputus asa dari rahmat Allah,” pesannya di hadapan jamaah.

Kegiatan berlangsung interaktif dengan berbagai pertanyaan dan tanggapan dari peserta. Salah seorang jamaah, Ibu Nurlina, mengaku mendapatkan banyak pelajaran berharga dari materi yang disampaikan.

“Materi tentang doa ini sangat menyentuh dan membuka wawasan kami. Saya semakin termotivasi untuk memperbanyak doa dalam setiap keadaan serta lebih yakin bahwa Allah selalu mendengar setiap permohonan hamba-Nya,” ungkapnya.

Kegiatan Bimluh Keluarga Sakinah tersebut ditutup dengan doa yang dipimpin oleh Syaiful Akhyar, S.H.I. Suasana khidmat dan penuh kekeluargaan mengiringi penutupan kegiatan yang berlangsung dengan lancar dan penuh keberkahan.

Melalui kegiatan pembinaan yang berkelanjutan ini, PAI KUA Kecamatan Medan Denai terus berupaya meningkatkan pemahaman keagamaan masyarakat serta memperkuat ketahanan keluarga sakinah. Diharapkan, nilai-nilai keimanan yang ditanamkan melalui majelis taklim dapat menjadi bekal dalam membangun keluarga yang harmonis, religius, dan berakhlak mulia di tengah kehidupan bermasyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *