Medan (Humas) — Upaya membangun ekosistem pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada capaian akademik, tetapi juga menanamkan nilai kasih sayang, penghormatan, dan pembentukan karakter peserta didik terus menjadi perhatian berbagai pemangku kepentingan pendidikan. Semangat tersebut tergambar dalam kegiatan Seminar Pendidikan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) yang diselenggarakan di Perguruan Al-Washliyah Jalan Ismailiyah No. 82 Medan, Kamis (11/6/2026).
Seminar yang mengusung tema “Integrasi Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) dalam Mewujudkan Pembelajaran Mendalam yang Bermakna” ini menghadirkan Kasi Pendidikan Madrasah Kementerian Agama Kota Medan, Dr. H. Yose Rizal, S.Ag., M.M., sebagai narasumber. Kegiatan tersebut diikuti oleh para pendidik dan tenaga kependidikan sebagai bagian dari penguatan paradigma pembelajaran yang berpusat pada peserta didik.
Dalam paparannya, Yose Rizal menegaskan bahwa Kurikulum Berbasis Cinta merupakan ikhtiar untuk menghadirkan pendidikan yang humanis, inklusif, dan berorientasi pada pembentukan karakter peserta didik. Ia menyampaikan bahwa guru memiliki peran strategis tidak hanya sebagai pengajar, tetapi juga sebagai pembimbing yang menanamkan nilai-nilai moral, spiritual, dan sosial dalam setiap proses pembelajaran. Menurutnya, pembelajaran yang dilandasi rasa cinta dan penghargaan terhadap peserta didik akan melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara emosional dan spiritual.
“Pendidikan tidak hanya bertugas mentransfer ilmu pengetahuan, tetapi juga membentuk karakter dan kepribadian peserta didik. Kurikulum Berbasis Cinta mengajak kita menghadirkan proses belajar yang memanusiakan manusia, sehingga peserta didik merasa dihargai, didengar, dan dibimbing untuk berkembang secara utuh,” ujar Yose Rizal.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa implementasi Kurikulum Berbasis Cinta sangat relevan dengan kebutuhan pendidikan saat ini yang menuntut lahirnya generasi berkarakter, toleran, dan memiliki kepedulian sosial yang tinggi. Ia menegaskan bahwa suasana belajar yang dibangun atas dasar cinta, keteladanan, dan penghormatan akan menciptakan pengalaman belajar yang lebih mendalam dan bermakna bagi peserta didik.
“Ketika guru mengajar dengan ketulusan, kasih sayang, dan keteladanan, maka ilmu yang disampaikan akan lebih mudah diterima dan membekas dalam diri peserta didik. Inilah esensi pembelajaran mendalam yang tidak hanya dipahami secara kognitif, tetapi juga dihayati dalam kehidupan sehari-hari,” lanjutnya.
Yose Rizal juga mengajak seluruh pendidik untuk terus berinovasi dalam menghadirkan pembelajaran yang menyenangkan serta mampu menumbuhkan semangat belajar peserta didik tanpa meninggalkan nilai-nilai moral dan spiritual.
Kegiatan seminar berlangsung interaktif dengan sesi diskusi dan tanya jawab yang mendapat antusiasme tinggi dari peserta. Melalui kegiatan ini diharapkan para pendidik semakin memahami konsep dan implementasi Kurikulum Berbasis Cinta, sehingga mampu menciptakan lingkungan pendidikan yang inklusif, humanis, dan berorientasi pada pembentukan generasi yang unggul, berkarakter, serta berakhlak mulia.

