Medan (Humas) Gabungan penyuluh agama Kristen dan Katolik Kota Medan menyemangati para orang tua lanjut usia di Panti Jompo Yayasan Guna Budi Bakti agar tetap memiliki jiwa kepemimpinan meskipun secara usia dan kondisi fisik tidak lagi seperti pada masa muda. Pesan tersebut disampaikan dalam kegiatan layanan penyuluhan dan pendampingan rohani kepada warga panti yang dilaksanakan di Kecamatan Medan Labuhan, Kota Medan, Rabu (3/3/2026).
Bercermin dari Injil Injil Matius 20:25–28, Penyuluh Agama Katolik Kota Medan, Marulam Nainggolan, yang bertindak sebagai pembicara dalam kegiatan tersebut menjelaskan bahwa kepemimpinan Kristiani memiliki perbedaan mendasar dengan kepemimpinan dalam kehidupan duniawi atau profan.
Menurutnya, dalam praktik dunia profan, banyak orang berlomba-lomba menjadi pemimpin demi memperoleh kehormatan, keuntungan, serta berbagai privilese atau keistimewaan dibandingkan masyarakat biasa. Tidak jarang seseorang bahkan rela mengorbankan banyak hal, termasuk modal yang besar, demi mencapai ambisi tersebut.

Sebaliknya, kepemimpinan Kristiani yang diajarkan oleh Yesus Kristus menekankan semangat pelayanan kepada sesama. “Dalam Injil hari ini, sekurang-kurangnya ada tiga hal yang ditekankan mengenai kepemimpinan Kristiani. Pertama, seorang pemimpin hadir untuk menjadi hamba yang melayani sesama, terutama mereka yang menderita. Kedua, seorang pemimpin harus memiliki sikap rendah hati, siap dikoreksi, dan terbuka terhadap masukan. Ketiga, seorang pemimpin sejati harus siap berkorban dan rela kehilangan sesuatu dari dirinya demi kebaikan orang lain,” ujar Marulam.
Lebih lanjut, Marulam yang sehari-hari bertugas sebagai penyuluh agama Katolik di Kota Medan menegaskan bahwa teladan kepemimpinan yang paling sempurna tampak dalam pribadi Yesus sendiri. Walaupun Ia adalah Tuhan, Ia menyebut diri-Nya sebagai Anak Manusia yang setara dengan manusia. Ia hadir untuk melayani mereka yang datang kepada-Nya, bahkan rela mengorbankan diri-Nya demi keselamatan manusia hingga wafat di kayu salib.
Ia juga menegaskan bahwa setiap orang pada dasarnya dipanggil untuk memiliki mentalitas kepemimpinan, terlepas dari jabatan atau kedudukan yang dimiliki. “Kita mungkin tidak memiliki jabatan tertentu, tetapi mentalitas kepemimpinan harus menjadi jati diri setiap orang. Walaupun sudah berusia lanjut dan memiliki banyak keterbatasan, para orang tua tetap dapat menunjukkan sikap rendah hati, mau mendengarkan, terbuka untuk melayani sesama walaupun dalam hal-hal sederhana, bahkan rela berkorban bagi orang lain,” pesannya.
Kegiatan penyuluhan tersebut disambut dengan antusias oleh para penghuni panti. Para orang tua tampak bersemangat mengikuti kegiatan dan merasa bahagia karena mendapatkan penguatan serta siraman rohani dari para penyuluh agama. Bahkan ada yang bersaksi mendapatkan keyakinan baru untuk berani dan bersemangat menjalani hidup di masa tua.
Adapun penyuluh yang terlibat dalam kegiatan kolaboratif tersebut antara lain Marulam Nainggolan, Leonhard Hutagalung, Tiurma Butarbutar, Maruli Siburian, Natalina Hutagalung, dan Torang Berutu. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya penyuluh agama untuk terus menghadirkan pendampingan spiritual bagi masyarakat, termasuk bagi para lanjut usia yang tinggal di panti jompo.

