Medan (Humas) – Pembinaan keagamaan tidak hanya bertujuan meningkatkan pemahaman umat terhadap ajaran Islam, tetapi juga membangun ketahanan spiritual dalam menghadapi berbagai dinamika kehidupan. Untuk itu, Kementerian Agama Kota Medan melalui Penyuluh Agama Islam terus menghadirkan kegiatan bimbingan yang relevan dan menyentuh kebutuhan masyarakat.
Sejalan dengan arahan Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Medan Amplas, H. Muhammad Lukman Hakim Hasibuan, S.Ag., M.A., agar para penyuluh menghadirkan materi yang aplikatif dan membangun kesadaran keagamaan masyarakat, Penyuluh Agama Islam Kecamatan Medan Amplas, Dr. Syarto, Lc., M.A., melaksanakan kegiatan Bimbingan dan Penyuluhan (Bimluh) di Majelis Taklim Raudhatul Jannah, Senin (08/06/2026).
Kegiatan yang diikuti puluhan jamaah dan pengurus majelis taklim tersebut berlangsung dalam suasana hangat, penuh kekeluargaan, dan sarat dengan nilai-nilai spiritual. Dalam kesempatan itu, Syarto mengangkat tema “Bekal Pulang Kampung Akhirat”, yang bersumber dari kandungan Surah Al-‘Ankabut ayat 58–59.
Dalam pemaparannya, ia menjelaskan bahwa kehidupan dunia sejatinya hanyalah persinggahan sementara. Setiap manusia pada akhirnya akan kembali kepada Allah SWT, sehingga diperlukan bekal terbaik berupa keimanan, amal saleh, serta karakter mulia yang akan mengantarkan seseorang meraih kebahagiaan di akhirat.
“Allah Ta’ala memberikan janji yang sangat agung kepada hamba-hamba-Nya yang beriman dan beramal saleh. Namun dalam ayat ini juga ditegaskan adanya dua karakter penting yang harus dimiliki seorang mukmin, yaitu sabar dan tawakal. Kedua sifat inilah yang menjadi bekal utama dalam perjalanan menuju kehidupan akhirat,” ungkapnya.
Menurut Dr. Syarto, iman dan amal saleh merupakan fondasi utama kehidupan seorang muslim. Namun dalam praktiknya, perjalanan menuju ridha Allah tidak selalu mudah karena setiap manusia akan menghadapi berbagai ujian yang menguji kualitas keimanan dan keteguhan hatinya.
Ia menjelaskan bahwa para ulama membagi sabar ke dalam tiga bentuk utama. Pertama, sabar dalam menjalankan ketaatan kepada Allah SWT. Kedua, sabar dalam meninggalkan maksiat dan segala sesuatu yang dilarang agama. Ketiga, sabar dalam menghadapi berbagai ujian, musibah, dan kesulitan hidup.
“Kesabaran bukan berarti pasrah tanpa usaha. Sabar adalah kemampuan untuk tetap istiqamah dalam kebaikan meskipun menghadapi berbagai tantangan. Orang yang sabar akan tetap teguh menjalankan perintah Allah dan tidak mudah menyerah ketika menghadapi ujian,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa ujian merupakan bagian dari sunnatullah yang pasti dialami oleh setiap orang beriman. Hal tersebut sebagaimana ditegaskan dalam Surah Al-‘Ankabut ayat 2 bahwa manusia tidak akan dibiarkan hanya mengaku beriman tanpa diuji keimanannya.
“Ujian bukan tanda Allah membenci hamba-Nya. Justru sering kali ujian menjadi sarana untuk meningkatkan derajat seseorang dan membersihkan dosa-dosanya. Karena itu, seorang mukmin harus memandang ujian dengan penuh kesabaran dan keyakinan kepada Allah,” ujarnya.
Selain membahas kesabaran, Syarto juga mengupas makna tawakal sebagai salah satu pilar penting dalam kehidupan seorang muslim. Menurutnya, tawakal bukan berarti menyerahkan segala sesuatu tanpa ikhtiar, melainkan bersungguh-sungguh dalam berusaha kemudian menyerahkan hasilnya kepada Allah SWT.
“Tawakal adalah perpaduan antara ikhtiar dan kepercayaan penuh kepada Allah. Kita wajib berusaha secara maksimal, tetapi hati kita tidak bergantung kepada usaha tersebut. Hasil akhirnya kita serahkan kepada Allah yang Maha Mengetahui apa yang terbaik bagi hamba-Nya,” terangnya.
Kajian yang disampaikan dengan bahasa sederhana dan mudah dipahami tersebut mendapat respons positif dari para jamaah. Antusiasme peserta terlihat dari banyaknya pertanyaan yang diajukan dalam sesi diskusi, mulai dari cara menerapkan sikap sabar dalam kehidupan rumah tangga, menghadapi kesulitan ekonomi, hingga membangun tawakal di tengah berbagai persoalan hidup.
Ketua Majelis Taklim Raudhatul Jannah, Hj. Nurhjani, mengapresiasi materi yang disampaikan dan menilai kajian tersebut sangat relevan dengan kehidupan masyarakat saat ini.
“Kajian ini sangat bermanfaat karena mengingatkan kami bahwa setiap ujian harus dihadapi dengan sabar dan tawakal. Materi seperti ini menjadi penguat bagi jamaah dalam menjalani kehidupan sehari-hari,” tuturnya.
Kegiatan ditutup dengan doa bersama yang dipanjatkan untuk memohon keberkahan hidup, keteguhan iman, kesehatan, serta husnul khatimah bagi seluruh jamaah. Setelah itu, para peserta melaksanakan salat Ashar berjamaah sebagai penutup rangkaian kegiatan.
Melalui kegiatan bimbingan dan penyuluhan ini, KUA Kecamatan Medan Amplas berharap masyarakat semakin memahami bahwa kehidupan dunia hanyalah tempat persinggahan sementara. Oleh karena itu, setiap muslim perlu mempersiapkan bekal terbaik untuk “pulang kampung” menuju kehidupan akhirat dengan memperkuat iman, memperbanyak amal saleh, serta menghiasi diri dengan sifat sabar dan tawakal dalam setiap keadaan.

