Medan (Humas) – Upaya memperkuat ketahanan keluarga melalui pembinaan keagamaan terus dilakukan oleh Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Medan Denai melalui program Bimbingan dan Penyuluhan (Bimluh) Keluarga Sakinah. Kali ini, kegiatan dilaksanakan di Majelis Taklim Al-Amin yang bertempat di rumah Ibu Lisa, Jalan Jermal VII, depan Jus Tia (rumah Kepala Lingkungan V), Kelurahan Denai, Kecamatan Medan Denai, Jumat (3/7/2026), ba’da Salat Jumat hingga pukul 16.00 WIB.
Kegiatan berlangsung dalam suasana penuh kekeluargaan dan diikuti dengan antusias oleh jamaah majelis taklim. Rangkaian acara diawali oleh Syamsiah selaku pembawa acara, kemudian dilanjutkan dengan sambutan Ketua Majelis Taklim Al-Amin, Hj. Dariani.
Dalam sambutannya, Hj. Dariani mengajak seluruh jamaah untuk terus memakmurkan majelis ilmu sebagai sarana meningkatkan kualitas keimanan, memperbaiki akhlak, dan memperkuat ketahanan keluarga.
“Majelis taklim merupakan tempat menimba ilmu sekaligus mempererat ukhuwah. Semoga kita senantiasa istiqamah menghadirinya agar ilmu yang diperoleh menjadi bekal dalam membangun keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah,” ujarnya.
Pada sesi inti, Penyuluh Agama Islam KUA Kecamatan Medan Denai, Khoiruz Zaman, S.H.I., menyampaikan materi bertajuk “Empat Syarat Diterimanya Ibadah.” Dalam pemaparannya, ia menegaskan bahwa Allah SWT tidak hanya menilai banyaknya amal ibadah yang dilakukan, tetapi juga kualitas, ketulusan, dan kesesuaiannya dengan tuntunan syariat.
Ia menjelaskan bahwa syarat pertama diterimanya ibadah adalah niat yang ikhlas semata-mata mengharap rida Allah SWT.
“Seluruh amal bergantung pada niat. Ibadah yang dilakukan karena ingin dipuji atau memperoleh kepentingan duniawi akan kehilangan nilainya di sisi Allah SWT. Oleh sebab itu, luruskan niat sebelum memulai setiap amal,” jelas Khoiruz Zaman.
Syarat kedua adalah kesabaran. Menurutnya, seorang muslim harus mampu bersabar dalam menjalankan ketaatan, meninggalkan kemaksiatan, serta menghadapi berbagai ujian kehidupan.
“Istiqamah dalam beribadah membutuhkan kesabaran. Orang yang sabar akan mampu menjaga konsistensi amalnya hingga akhir hayat, karena kesabaran adalah bekal utama dalam meraih rida Allah SWT,” tuturnya.
Selanjutnya, ia menjelaskan bahwa syarat ketiga adalah ilmu. Ibadah harus dilaksanakan berdasarkan pemahaman yang benar sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW.
“Amal tanpa ilmu berpotensi melahirkan kekeliruan, sedangkan ilmu yang tidak diamalkan tidak akan memberikan manfaat. Karena itu, menghadiri majelis taklim merupakan salah satu ikhtiar untuk memperbaiki kualitas ibadah dan memperkuat pemahaman agama,” katanya.
Adapun syarat keempat adalah ikhlas, yaitu melaksanakan seluruh amal ibadah semata-mata mengharap rida Allah SWT tanpa mengharapkan pujian ataupun penilaian manusia.
“Keikhlasan adalah ruh dari setiap amal. Boleh jadi amal yang terlihat kecil justru bernilai besar di sisi Allah karena dilakukan dengan hati yang tulus. Sebaliknya, amal yang besar dapat menjadi sia-sia apabila dicampuri riya dan mengharapkan pujian manusia,” tegasnya.
Khoiruz Zaman menambahkan bahwa keempat syarat tersebut tidak hanya menjadi dasar diterimanya ibadah, tetapi juga menjadi fondasi dalam membangun karakter muslim yang berakhlakul karimah serta keluarga yang kokoh.
“Ketika niat diluruskan, ilmu terus ditingkatkan, kesabaran dijaga, dan keikhlasan dipelihara, maka akan lahir pribadi-pribadi yang mampu menghadirkan ketenangan dalam keluarga, mempererat hubungan antarsesama, serta menjadi teladan di lingkungan masyarakat. Inilah salah satu kunci terwujudnya keluarga sakinah yang menjadi tujuan pembinaan KUA,” tambahnya.
Materi yang disampaikan mendapat perhatian dan respons positif dari para jamaah. Antusiasme terlihat pada sesi diskusi, ketika peserta aktif mengajukan berbagai pertanyaan mengenai penerapan keempat syarat tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
Salah seorang jamaah, Hariani, mengaku memperoleh banyak pelajaran berharga dari materi yang disampaikan.
“Saya sangat senang mengikuti Bimluh ini. Materinya mudah dipahami dan mengingatkan kami bahwa ibadah tidak cukup hanya dikerjakan, tetapi harus dibangun dengan niat yang benar, ilmu, kesabaran, dan keikhlasan agar diterima oleh Allah SWT. Semoga kegiatan seperti ini terus dilaksanakan,” ungkapnya.
Kegiatan kemudian ditutup dengan doa yang dipimpin oleh Syaiful Akhyar, memohon agar ilmu yang diperoleh menjadi amal yang bermanfaat serta memberikan kekuatan kepada seluruh jamaah untuk mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Melalui kegiatan Bimbingan dan Penyuluhan Keluarga Sakinah, KUA Kecamatan Medan Denai terus menegaskan komitmennya dalam menghadirkan pembinaan keagamaan yang berkesinambungan. Diharapkan, kegiatan ini mampu menumbuhkan semangat menuntut ilmu agama, meningkatkan kualitas ibadah masyarakat, serta melahirkan keluarga-keluarga yang kokoh dalam keimanan, berakhlak mulia, dan menjadi pilar terciptanya masyarakat yang religius, harmonis, serta penuh keberkahan.

