Penyuluh KUA Medan Amplas Perkuat Pembelajaran Tajwid dan Sosialisasikan Rashdul Kiblat kepada Majelis Taklim

Medan (Humas) – Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Medan Amplas terus menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan kualitas pembinaan keagamaan melalui berbagai program yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat. Komitmen tersebut merupakan implementasi dari arahan Kepala KUA Kecamatan Medan Amplas, H. Muhammad Lukman Hakim Hasibuan, S.Ag., M.A., agar seluruh Penyuluh Agama Islam, Penghulu, dan Penata Layanan Operasional (PLO) senantiasa menghadirkan pelayanan yang profesional, edukatif, dan berdampak dalam membangun pemahaman keagamaan masyarakat.

Salah satu upaya tersebut diwujudkan melalui Program Tahsin Al-Qur’an yang dilaksanakan secara rutin setiap hari Selasa. Pada Selasa (14/7/2026) atau bertepatan dengan 29 Muharram 1448 Hijriah, kegiatan kembali digelar di Masjid Ridho Sobirin dengan menghadirkan Penyuluh Agama Islam KUA Kecamatan Medan Amplas, yakni Dr. Syarto, Lc., M.A., Harun Arrasyid, Lc., Dewi Anggraini, S.Ag., Liza Purba, dan Nurbaiti Lubis, S.Ag.

Program ini diikuti oleh ibu-ibu muslimat dari berbagai majelis taklim di Kecamatan Medan Amplas. Antusiasme peserta yang terus terjaga dari pekan ke pekan menunjukkan tingginya semangat masyarakat dalam memperbaiki bacaan Al-Qur’an sekaligus memperdalam pemahaman terhadap ajaran Islam. Turut hadir memberikan dukungan, Dra. Imaniyah, M.H., tokoh muslimah yang selama ini aktif membina berbagai kegiatan keagamaan di lingkungan majelis taklim.

Sebelum memasuki materi utama, para penyuluh memberikan motivasi mengenai pentingnya mempelajari ilmu tajwid sebagai bagian dari upaya menjaga kemurnian bacaan Al-Qur’an. Mereka mengingatkan bahwa membaca Al-Qur’an sesuai kaidah tajwid merupakan bentuk penghormatan terhadap kalam Allah SWT sekaligus ikhtiar untuk menyempurnakan ibadah.

“Belajar tajwid bukan hanya tentang memperindah bacaan, tetapi juga menjaga kemurnian Al-Qur’an sebagaimana diajarkan Rasulullah SAW. Setiap muslim hendaknya terus memperbaiki bacaannya secara bertahap, karena membaca Al-Qur’an dengan benar merupakan bagian dari ibadah yang bernilai pahala,” ujar Dr. Syarto.

Pada sesi pembelajaran, peserta mempelajari salah satu hukum bacaan Nun Sukun dan Tanwin, yaitu Izhar Halqi. Materi disampaikan mulai dari pengertian, huruf-huruf Izhar Halqi, tanda-tandanya dalam mushaf, hingga praktik membaca ayat-ayat Al-Qur’an yang mengandung hukum bacaan tersebut. Pembelajaran dilakukan secara interaktif melalui kombinasi teori dan praktik sehingga peserta dapat memahami sekaligus menerapkan kaidah tajwid dengan baik.

Selain memperkuat kemampuan membaca Al-Qur’an, para penyuluh juga mengajak peserta mentadabburi kandungan QS. An-Nisa ayat 29, khususnya firman Allah SWT yang melarang memakan harta sesama dengan cara yang batil. Dalam penjelasannya, Dr. Syarto menegaskan bahwa ayat tersebut menjadi landasan penting dalam membangun etika bermuamalah yang jujur, adil, dan bertanggung jawab.

“Islam mengajarkan agar setiap bentuk transaksi dilakukan atas dasar kejujuran, kerelaan kedua belah pihak, dan menjauhi segala bentuk praktik yang merugikan, seperti penipuan, riba, korupsi, maupun perolehan harta yang tidak dibenarkan syariat. Nilai-nilai Al-Qur’an harus menjadi pedoman dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam beribadah maupun bermuamalah,” jelasnya.

Pada kesempatan yang sama, para penyuluh juga menyosialisasikan fenomena astronomi Rashdul Kiblat atau Istiwa A’zam yang terjadi pada 15–16 Juli 2026 pukul 16.27 WIB. Mereka menjelaskan bahwa saat Matahari berada tepat di atas Ka’bah, masyarakat dapat memanfaatkan bayangan benda yang berdiri tegak untuk memverifikasi arah kiblat rumah, musala, maupun masjid secara sederhana dengan tingkat akurasi yang sangat tinggi.

“Momentum Rashdul Kiblat merupakan kesempatan yang sangat baik bagi masyarakat untuk memastikan kembali arah kiblat tempat salat. Kami berharap para peserta dapat menyampaikan informasi ini kepada keluarga dan lingkungan masing-masing agar semakin banyak masyarakat yang memahami pentingnya ketepatan arah kiblat sebagai bagian dari penyempurnaan ibadah,” kata Dr. Syarto.

Sosialisasi tersebut mendapat perhatian besar dari para peserta karena memberikan wawasan praktis mengenai ilmu falak yang dapat langsung diterapkan di lingkungan masing-masing. Antusiasme peserta terlihat dari berbagai pertanyaan yang diajukan mengenai tata cara pengamatan Rashdul Kiblat serta penerapannya di rumah maupun tempat ibadah.

Kegiatan berlangsung dalam suasana edukatif, hangat, dan penuh kekeluargaan. Seluruh rangkaian acara ditutup dengan pelaksanaan salat Asar berjamaah sebagai wujud penguatan nilai-nilai ibadah sekaligus mempererat ukhuwah Islamiyah di antara para peserta.

Melalui Program Tahsin Al-Qur’an yang dipadukan dengan kajian kandungan ayat suci dan edukasi ilmu falak, KUA Kecamatan Medan Amplas terus memperkuat peran penyuluh agama sebagai agen pembinaan umat. Program ini diharapkan mampu meningkatkan literasi Al-Qur’an, memperluas wawasan keislaman masyarakat, serta menghadirkan pelayanan keagamaan yang profesional, inspiratif, dan berdampak nyata sesuai dengan semangat pelayanan Kementerian Agama.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *