PAI Kemenag Medan Gaungkan Nilai Kesetaraan dan Persaudaraan dalam Pembinaan Keagamaan di RS Muhammadiyah Sumut

Medan (Humas) – Penyuluh Agama Islam Kantor Kementerian Agama Kota Medan terus menguatkan perannya dalam menghadirkan pembinaan keagamaan yang menyejukkan dan relevan dengan kehidupan masyarakat. Melalui semangat “Penyuluh Bergerak, Penyuluh Berkarya”, para penyuluh melaksanakan kegiatan pembinaan keagamaan di Rumah Sakit Muhammadiyah Sumatera Utara, Selasa (21/7/2026), dengan mengangkat tema tentang pentingnya kesetaraan, persaudaraan, dan saling menghargai sebagai nilai dasar dalam ajaran Islam.

Kegiatan tersebut diikuti oleh keluarga pasien, tenaga kesehatan, serta masyarakat yang berada di lingkungan rumah sakit. Suasana pembinaan berlangsung hangat dan penuh kekeluargaan. Para peserta tampak antusias mengikuti penyampaian materi yang tidak hanya mengulas dalil-dalil keagamaan, tetapi juga mengaitkannya dengan realitas kehidupan sosial yang dihadapi masyarakat saat ini.

Dalam pembinaannya, para penyuluh menjelaskan bahwa Islam merupakan agama yang menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dan persamaan derajat. Perbedaan suku, bangsa, budaya, maupun status sosial bukanlah alasan untuk saling merendahkan, melainkan menjadi anugerah yang harus disikapi dengan saling menghormati, bekerja sama, dan mempererat tali persaudaraan.

Materi yang disampaikan berlandaskan firman Allah SWT dalam Surah Al-Hujurat ayat 13 serta pesan Rasulullah SAW dalam Khutbah Wada’. Kedua sumber ajaran tersebut menegaskan bahwa kemuliaan seseorang tidak ditentukan oleh keturunan, warna kulit, maupun kedudukan, tetapi oleh ketakwaan kepada Allah SWT dan akhlak yang baik.

Penyuluh Agama Islam Kementerian Agama Kota Medan, M. Iqbal mengatakan bahwa pemahaman mengenai kesetaraan sangat penting ditanamkan dalam kehidupan bermasyarakat agar tercipta hubungan sosial yang harmonis dan penuh rasa saling menghargai.

“Allah SWT telah menegaskan dalam Surah Al-Hujurat ayat 13 bahwa manusia diciptakan bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar saling mengenal, bukan untuk saling membanggakan diri. Kemuliaan seseorang bukan ditentukan oleh asal-usulnya, melainkan oleh ketakwaannya kepada Allah SWT. Karena itu, sudah sepatutnya kita menjadikan nilai persaudaraan dan penghormatan terhadap sesama sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari,” ujar M. Iqbal.

Ia menambahkan bahwa nilai-nilai tersebut perlu terus disosialisasikan, terutama di ruang-ruang pelayanan publik seperti rumah sakit, yang menjadi tempat bertemunya masyarakat dari berbagai latar belakang. Menurutnya, semangat saling menghormati dan saling menguatkan akan memberikan dampak positif bagi terciptanya suasana yang damai dan penuh kepedulian.

Sementara itu, Syarifuddin Pasaribu mengingatkan bahwa Rasulullah SAW telah memberikan teladan yang sangat kuat mengenai pentingnya menghapus segala bentuk diskriminasi. Pesan tersebut disampaikan dalam Khutbah Wada’ yang hingga kini tetap relevan sebagai pedoman membangun kehidupan masyarakat yang rukun dan berkeadilan.

“Rasulullah SAW menegaskan bahwa tidak ada kelebihan orang Arab atas non-Arab ataupun orang berkulit putih atas orang berkulit hitam, kecuali karena ketakwaannya. Pesan ini mengajarkan kita untuk menghilangkan sikap merasa lebih tinggi dari orang lain, memperkuat ukhuwah, serta membangun kehidupan yang saling menghormati dan penuh kasih sayang,” jelas Syarifuddin Pasaribu.

Senada dengan itu, Herian Sani menegaskan bahwa tugas penyuluh agama tidak hanya menyampaikan materi keagamaan, tetapi juga menanamkan nilai-nilai Islam yang mampu memperkuat kerukunan dan membangun kehidupan sosial yang harmonis.

“Sebagai penyuluh agama, kami memiliki tanggung jawab untuk terus menyampaikan ajaran Islam yang menebarkan kedamaian, persaudaraan, dan saling menghargai. Kami berharap masyarakat dapat mengamalkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari sehingga tercipta lingkungan yang rukun, damai, dan penuh kepedulian terhadap sesama,” ungkap Herian Sani.

Adapun tim Penyuluh Agama Islam yang terlibat dalam kegiatan ini terdiri atas M. Iqbal, Heriansani, Syarifuddin Pasaribu, Wan Nur Ainun, Mahmud Alkausari Pulungan, Mahmud Hasan, Nadiah Masruroh, dan Leonhard. 

Melalui kegiatan pembinaan keagamaan ini, Kementerian Agama Kota Medan terus menunjukkan komitmennya dalam menghadirkan pelayanan keagamaan yang berdampak bagi masyarakat. Kehadiran penyuluh agama di berbagai ruang publik diharapkan mampu memperkuat pemahaman keagamaan yang moderat, menumbuhkan sikap saling menghormati di tengah keberagaman, serta memperkokoh persaudaraan sebagai fondasi kehidupan bermasyarakat yang harmonis sesuai dengan nilai-nilai ajaran Islam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *