Medan (Humas) — Pengawas Madrasah Kementerian Agama Kota Medan, Ernawati, S.Ag., M.Si., bersama kepala RA binaan Kecamatan Medan Polonia dan Medan Denai menggelar Bimbingan Teknis Metode Tamayyuz dengan tema “Cara Cepat Mengenalkan Huruf Hijaiyah kepada Anak Didik agar Lancar dan Cinta Al-Qur’an”. Kegiatan yang dilaksanakan pada Kamis (6/8/2026) tersebut berlangsung di Aula RA Yaa Bunayya Yayasan Hidayatullah dan menghadirkan Wirana Suseva Sitorus, S.Pd.I., sebagai narasumber.
Bimbingan teknis tersebut diikuti guru-guru RA binaan sebagai bagian dari upaya meningkatkan kompetensi pendidik dalam memberikan pembelajaran Al-Qur’an kepada anak usia dini. Kegiatan tidak hanya berorientasi pada penguasaan metode, tetapi juga memberikan pengalaman praktik agar guru mampu menerapkan pembelajaran yang mudah dipahami, menyenangkan, dan sesuai dengan karakteristik perkembangan anak.
Dalam pelaksanaannya, peserta mendapatkan materi mengenai penerapan Metode Tamayyuz yang menitikberatkan pada pengenalan huruf hijaiyah sesuai makhrajul huruf. Guru dibimbing untuk memahami cara menyampaikan materi secara bertahap sehingga anak didik dapat mengenali, mengucapkan, dan membedakan huruf hijaiyah dengan tepat.
Selain penyampaian materi, kegiatan juga dilengkapi dengan sesi microteaching. Pada sesi tersebut, para guru mempraktikkan langsung teknik pembelajaran yang telah dipelajari di hadapan peserta lainnya. Praktik tersebut menjadi ruang bagi guru untuk mendapatkan evaluasi sekaligus masukan mengenai cara penyampaian materi, pelafalan huruf, dan pendekatan yang sesuai dengan kemampuan anak.

Pengawas Madrasah Kemenag Medan, Ernawati mengatakan bahwa peningkatan kompetensi guru RA merupakan bagian penting dalam membangun fondasi pendidikan keagamaan anak sejak usia dini. Menurutnya, kemampuan membaca Al-Qur’an yang baik perlu dibangun melalui proses pembelajaran yang tepat dan dilakukan secara konsisten.
“Guru RA merupakan pondasi awal dalam membentuk kecintaan anak kepada Al-Qur’an. Melalui Metode Tamayyuz ini kami berharap para guru semakin percaya diri, mampu mengajarkan huruf hijaiyah sesuai makhrajnya, serta menghadirkan pembelajaran yang menyenangkan sehingga anak-anak tumbuh menjadi generasi yang lancar membaca dan mencintai Al-Qur’an,” ujar Ernawati.
Ia menambahkan, guru tidak hanya dituntut memiliki kemampuan teknis dalam mengajarkan Al-Qur’an, tetapi juga harus mampu menjadi teladan bagi anak didik. Sikap, tutur kata, dan kebiasaan guru dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an diharapkan dapat menjadi contoh yang kemudian ditiru oleh peserta didik dalam kehidupan sehari-hari.
“Pembelajaran Al-Qur’an pada anak usia dini membutuhkan kesabaran dan keteladanan. Karena itu, guru harus mampu menciptakan suasana belajar yang membuat anak merasa dekat dan senang dengan Al-Qur’an, bukan justru merasa terbebani. Adab dalam mempelajari Al-Qur’an juga perlu dikenalkan sejak dini sebagai bagian dari pembentukan karakter,” jelasnya.
Narasumber kegiatan, Wirana Suseva Sitorus membimbing peserta memahami sistem talaqi sebagai salah satu bagian penting dalam penerapan Metode Tamayyuz. Melalui sistem tersebut, guru membimbing peserta didik membaca huruf hijaiyah secara bersama-sama, kemudian melakukan evaluasi terhadap kemampuan mayoritas peserta didik sebelum melanjutkan pada materi berikutnya.
Pendekatan tersebut memberikan kesempatan kepada guru untuk mengetahui tingkat pemahaman anak secara langsung. Dengan demikian, proses pembelajaran dapat disesuaikan dengan kemampuan peserta didik dan guru tidak terburu-buru melanjutkan materi sebelum dasar pembelajaran benar-benar dipahami.
Wirana juga mendorong para guru untuk lebih aktif menggunakan metode yang interaktif dalam pembelajaran Al-Qur’an. Menurutnya, anak usia dini memiliki karakteristik belajar yang berbeda sehingga diperlukan pendekatan yang sederhana, berulang, dan menyenangkan agar materi dapat diterima dengan baik.
Melalui kegiatan bimbingan teknis tersebut, Pengawas Madrasah Kementerian Agama Kota Medan berharap kompetensi guru RA binaan terus berkembang, khususnya dalam pembelajaran Al-Qur’an. Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh selama pelatihan diharapkan dapat diterapkan secara konsisten di masing-masing lembaga RA sehingga memberikan dampak nyata terhadap kualitas pembelajaran.
Dengan penguatan kompetensi pendidik secara berkelanjutan, pembelajaran Al-Qur’an di tingkat RA diharapkan semakin efektif dan menyenangkan. Pada akhirnya, anak-anak tidak hanya mampu mengenal dan membaca huruf hijaiyah dengan baik dan benar, tetapi juga tumbuh dengan kecintaan terhadap Al-Qur’an serta memiliki adab yang baik dalam mempelajari dan mengamalkannya.

