Penyuluh Agama Islam Kemenag Medan Sampaikan Pentingnya Menjaga Lisan

Medan (Humas) — Penyuluh Agama Islam Kementerian Agama Kota Medan, H. Abdullah Hakim, memberikan bimbingan penyuluhan keagamaan kepada jamaah Majelis Taklim (MT) As-Sholihat pada Sabtu (8/8/2026). Kegiatan tersebut mengangkat tema “Menjaga Lisan, Menjaga Kehormatan, Meraih Ridha Allah” sebagai bagian dari upaya memberikan penguatan pemahaman keagamaan kepada jamaah mengenai pentingnya menjaga ucapan dan menggunakan lisan untuk hal-hal yang membawa kebaikan.

Kegiatan berlangsung dalam suasana khidmat dan penuh antusias. Para jamaah mengikuti materi yang disampaikan dengan baik serta diajak untuk melakukan refleksi terhadap kebiasaan berkomunikasi dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan keluarga maupun dalam pergaulan di tengah masyarakat. Melalui bimbingan tersebut, jamaah diharapkan semakin menyadari bahwa setiap ucapan memiliki dampak terhadap diri sendiri maupun orang lain.

Dalam penyampaiannya, Abdullah Hakim mengingatkan jamaah agar senantiasa menjaga lisan dari berbagai perkataan yang tidak baik, seperti ghibah, fitnah, dusta, maupun ucapan yang dapat menyakiti hati orang lain. Ia menjelaskan bahwa lisan merupakan amanah yang harus dijaga dengan penuh tanggung jawab karena setiap perkataan yang keluar dari seseorang memiliki konsekuensi dan akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.

“Lisan adalah amanah yang harus kita jaga. Setiap perkataan yang kita ucapkan hendaknya dipikirkan terlebih dahulu karena semuanya akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT. Karena itu, jangan sampai lisan yang seharusnya menjadi sarana menyampaikan kebaikan justru menjadi sumber dosa atau menyakiti orang lain,” ujar Abdullah Hakim.

Ia juga menekankan bahwa menjaga lisan merupakan salah satu bentuk akhlak mulia yang perlu dibiasakan dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, kehormatan seseorang tidak hanya tercermin dari perilaku dan penampilan, tetapi juga dari cara berbicara, bagaimana menyampaikan pendapat, serta kemampuan menahan diri dari perkataan yang tidak diperlukan.

“Kalau kita mampu menjaga lisan, insyaallah kita juga mampu menjaga kehormatan diri dan hubungan baik dengan sesama. Banyak persoalan dalam kehidupan berawal dari ucapan yang tidak dipikirkan dengan matang, sehingga membiasakan diri berbicara dengan baik merupakan bagian dari menjaga keharmonisan dalam keluarga dan masyarakat,” katanya.

Lebih lanjut, Abdullah Hakim mengajak jamaah untuk menerapkan prinsip berkata baik atau memilih diam apabila tidak memiliki sesuatu yang bermanfaat untuk disampaikan. Ia juga mendorong jamaah untuk membiasakan lisan dengan memperbanyak dzikir, membaca Al-Qur’an, menyampaikan nasihat yang baik, memberikan motivasi, serta mengucapkan perkataan yang dapat menenangkan dan memberikan manfaat bagi orang lain.

“Marilah kita biasakan lisan untuk berkata yang baik, memperbanyak dzikir, dan menyampaikan sesuatu yang memberikan manfaat. Jangan mudah mengomentari sesuatu yang tidak kita ketahui kebenarannya, apalagi menyebarkan perkataan yang dapat menimbulkan fitnah dan perpecahan,” pesannya.

Dalam kesempatan tersebut, ia turut mengingatkan jamaah agar menjaga lisan dalam berbagai situasi dan lingkungan, mulai dari keluarga, lingkungan tempat tinggal, majelis taklim, hingga ruang pergaulan yang lebih luas. Menurutnya, seseorang perlu membiasakan diri berpikir sebelum berbicara dengan mempertimbangkan kebenaran, kebaikan, dan manfaat dari setiap ucapan yang hendak disampaikan.

“Sebelum berbicara, mari kita tanyakan kepada diri sendiri apakah perkataan itu benar, apakah baik untuk disampaikan, dan apakah memberikan manfaat. Jika tidak, lebih baik kita menahan diri dan memilih diam. Dengan demikian, lisan kita tidak menjadi sumber masalah, tetapi justru menjadi jalan untuk menghadirkan kedamaian dan kebaikan,” ungkap Abdullah Hakim.

Bimbingan penyuluhan tersebut ditutup dengan doa bersama yang diikuti oleh jamaah Majelis Taklim As-Sholihat. Melalui kegiatan ini, jamaah diharapkan tidak hanya memahami pentingnya menjaga lisan secara teori, tetapi juga mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari sehingga tercipta hubungan yang harmonis, saling menghargai, dan dipenuhi nilai-nilai kebaikan.

Kementerian Agama Kota Medan melalui Penyuluh Agama Islam terus berupaya menghadirkan bimbingan keagamaan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat. Pembinaan melalui majelis taklim diharapkan dapat menjadi sarana penguatan pemahaman dan pengamalan ajaran agama sekaligus mendorong terwujudnya kehidupan masyarakat yang semakin harmonis, santun, dan berakhlak mulia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *