Medan (Humas) — Suasana penuh sukacita dan kekhidmatan mewarnai kegiatan Pelayanan Rohani atau Bimbingan Rohani (Bimroh) yang dilaksanakan oleh Penyuluh Agama Kristen Kementerian Agama Kota Medan bagi warga binaan di Polsek Medan Timur, Rabu (12/8/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari komitmen Penyuluh Agama Kristen Kemenag Kota Medan dalam menghadirkan pelayanan keagamaan yang menyentuh seluruh lapisan masyarakat, termasuk warga binaan yang sedang menjalani masa pembinaan. Melalui pelayanan tersebut, para warga binaan diajak untuk tetap memelihara iman, membangun pengharapan, serta memiliki semangat untuk memperbaiki diri dan menatap masa depan dengan lebih baik.
Rangkaian kegiatan dipandu oleh Debora Br. Pandia, S.Th. selaku pembawa acara dan berlangsung dalam suasana hangat serta penuh kekeluargaan. Para warga binaan diajak mempersiapkan hati untuk mengikuti ibadah dan mendengarkan Firman Tuhan yang disampaikan oleh Jepri Hutabarat, S.Th. Renungan pada kesempatan tersebut mengambil dasar dari Galatia 6:9 (TB), “Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah.” Pesan tersebut menjadi penguatan bagi warga binaan agar tidak menyerah dalam proses perubahan dan terus menanam kebaikan meskipun hasilnya belum dapat dirasakan secara langsung.
Dalam khotbahnya, Jepri Hutabarat menegaskan bahwa Firman Tuhan mengajarkan setiap orang untuk tidak pernah berhenti melakukan kebaikan, sekalipun keadaan hidup tidak selalu mudah. Ia mengingatkan bahwa perubahan membutuhkan proses, kesabaran, dan kemauan untuk terus memperbaiki diri meskipun terkadang seseorang masih dinilai berdasarkan masa lalunya. “Kadang-kadang kita sudah berbuat baik, tetapi hasilnya belum kita lihat. Kita sudah berusaha berubah, tetapi orang lain masih melihat kita dari masa lalu. Firman Tuhan hari ini mengingatkan kita: jangan jemu-jemu berbuat baik. Jangan menyerah hanya karena hasilnya belum terlihat,” ungkap Jepri.
Ia kemudian mengajak warga binaan menjadikan masa pembinaan sebagai kesempatan untuk menanam benih-benih kebaikan yang akan menjadi bekal ketika kembali ke tengah keluarga dan masyarakat. Menurutnya, kebaikan dapat dimulai dari hal-hal sederhana yang dilakukan secara konsisten, seperti berkata jujur, belajar mengampuni, menghormati orang lain, menjaga perkataan, serta bertanggung jawab terhadap setiap tindakan. “Setiap perubahan kecil yang kita lakukan hari ini adalah benih untuk masa depan. Belajar jujur, mengampuni, menghormati orang lain, menjaga perkataan, dan bertanggung jawab adalah bagian dari proses menjadi manusia yang lebih baik,” lanjutnya.
Jepri juga mengingatkan bahwa Tuhan melihat setiap perjuangan seseorang yang sungguh-sungguh ingin berubah, meskipun manusia terkadang masih memandang seseorang berdasarkan kesalahan dan masa lalunya. Ia mengajak para warga binaan untuk tidak menganggap kehidupan mereka telah berakhir hanya karena pernah melakukan kesalahan. “Mungkin manusia melihat masa lalu kita, tetapi Tuhan melihat hati yang mau berubah. Jangan merasa hidup sudah selesai. Selama Tuhan memberikan kesempatan, selalu ada kesempatan untuk menanam kebaikan dan memulai kehidupan yang baru,” katanya.
Pesan Firman Tuhan tersebut mendapat perhatian dari para warga binaan yang mengikuti kegiatan dengan tertib dan antusias. Mereka diajak untuk menjadikan masa pembinaan bukan hanya sebagai masa menjalani konsekuensi atas perbuatan yang telah dilakukan, tetapi juga sebagai kesempatan untuk melakukan refleksi, membangun karakter, dan mempersiapkan diri menjadi pribadi yang lebih baik. Dalam proses tersebut, iman dan pengharapan diharapkan menjadi kekuatan yang membantu mereka menghadapi berbagai tantangan selama menjalani masa pembinaan.
Selain ibadah bersama, kegiatan juga diisi dengan konseling rohani yang dilakukan oleh Mateus Brian Purba, S.Th. dan Basaria Sitorus, S.Pd. Konseling tersebut menjadi ruang bagi warga binaan untuk menyampaikan pergumulan secara pribadi, memperoleh pendampingan, serta mendapatkan penguatan sesuai dengan kondisi yang mereka hadapi. Pelayanan konseling dilakukan dengan pendekatan yang humanis agar warga binaan dapat lebih terbuka dalam menyampaikan perasaan, kekhawatiran, maupun harapan mereka mengenai kehidupan ke depan.
Doa syafaat dipimpin oleh Mida Sitohang, S.Th. Dalam doa tersebut dipanjatkan permohonan agar Tuhan memberikan kekuatan, ketenangan, penghiburan, dan pengharapan kepada seluruh warga binaan yang sedang menjalani proses pembinaan. Doa juga dipanjatkan bagi keluarga para warga binaan serta seluruh jajaran Polsek Medan Timur agar senantiasa diberikan hikmat, kesehatan, dan kekuatan dalam menjalankan tugas serta memberikan pelayanan kepada masyarakat.
Pada kesempatan tersebut, Kapolsek Medan Timur menyampaikan dukungan yang sangat baik terhadap pelaksanaan kegiatan pelayanan rohani bagi warga binaan. Dukungan tersebut menjadi bentuk sinergi positif antara pihak kepolisian dan Penyuluh Agama Kristen Kementerian Agama Kota Medan dalam memberikan pembinaan mental, moral, dan spiritual kepada warga binaan. Kapolsek juga menyambut baik pelaksanaan pembinaan keagamaan yang dilakukan secara berkelanjutan karena dinilai dapat memberikan penguatan bagi warga binaan selama menjalani masa pembinaan.
Sinergi antara kepolisian dan penyuluh agama diharapkan dapat terus diperkuat sehingga pembinaan terhadap warga binaan tidak hanya berfokus pada aspek kedisiplinan, tetapi juga menyentuh aspek mental, moral, dan spiritual. Kehadiran penyuluh agama diharapkan dapat membantu warga binaan menemukan kembali semangat untuk memperbaiki diri dan membangun kehidupan yang lebih baik. Dengan dukungan berbagai pihak, proses pembinaan diharapkan mampu menjadi bagian dari perjalanan perubahan menuju kehidupan yang lebih bertanggung jawab dan bermanfaat.
Seluruh rangkaian kegiatan berlangsung dengan tertib, khusyuk, dan penuh refleksi. Setelah ibadah dan konseling selesai, pelayanan ditutup dengan Doa Berkat yang dipimpin oleh Yohana Sitompul, S.Th. Melalui doa tersebut, seluruh peserta kembali menyerahkan kehidupan, pergumulan, serta masa depan mereka ke dalam penyertaan Tuhan dengan harapan memperoleh kekuatan untuk menjalani setiap proses yang ada.
Melalui kegiatan Bimbingan Rohani ini, Penyuluh Agama Kristen Kementerian Agama Kota Medan terus menunjukkan komitmennya untuk menghadirkan iman, pengharapan, kasih, dan penguatan bagi masyarakat yang membutuhkan, termasuk warga binaan. Galatia 6:9 menjadi pesan penting yang diharapkan terus melekat dalam kehidupan para peserta, yakni untuk tidak lelah berbuat baik, tidak menyerah dalam proses perubahan, dan tidak kehilangan pengharapan. Sebab setiap kebaikan yang ditanam dengan ketulusan diyakini tidak pernah sia-sia di hadapan Tuhan.
Diharapkan melalui pembinaan yang dilakukan secara berkelanjutan, para warga binaan semakin memiliki kekuatan untuk memperbaiki diri, membangun karakter yang lebih baik, serta mempersiapkan diri untuk kembali ke tengah keluarga dan masyarakat. Mereka diharapkan dapat kembali sebagai pribadi yang memiliki iman, tanggung jawab, kepedulian, dan kemauan untuk memberikan manfaat bagi lingkungan sekitarnya. “Jangan jemu berbuat baik. Mungkin hari ini kita sedang menanam, tetapi Tuhan sudah menyiapkan waktunya untuk menuai,” menjadi pesan penutup yang menguatkan semangat seluruh peserta untuk terus menjalani proses perubahan dengan penuh pengharapan.

