Penyuluh KUA Medan Sunggal Ajak Umat Memahami Golongan yang Mendapatkan Syafaat di Akhirat

Medan (Humas) – Penyuluh Agama Islam KUA Kecamatan Medan Sunggal, Paidi, S.Ag., menyampaikan bimbingan dan penyuluhan (Bimluh) di Yayasan Fard Ahillah Nisbi, Jalan Kebun Indah Gang Lauser, Sunggal, pada Selasa, (11/08/2026). Kegiatan tersebut dihadiri Ketua Yayasan/Pembina Ir. Supriadi, Kepala Madrasah Nuraini Sinta, S.Pd.I., M.M., Ketua Pos Pengajian Orang Tua Siswa Sugiarti, Sekretaris Erniati, serta bapak dan ibu guru/staf pengajar dan orang tua siswa.

Dalam penyuluhannya, Paidi menyampaikan materi dakwah dengan tema “Golongan yang Mendapatkan Syafaat di Akhirat”. Ia mengajak jamaah untuk meningkatkan amal ibadah dan memperbaiki akhlak sebagai bekal menghadapi kehidupan akhirat. “Syafaat merupakan sesuatu yang sangat diharapkan oleh umat Islam di akhirat. Karena itu, kita harus memperbanyak amal saleh dan mendekatkan diri kepada Allah SWT,” ujar Paidi.

Paidi menjelaskan bahwa di antara golongan yang memperoleh syafaat adalah umat Nabi Muhammad SAW yang senantiasa mencintai dan mengamalkan shalawat, orang yang menjalankan ibadah puasa dengan sungguh-sungguh sehingga ibadah tersebut membentuk akhlak dan perilaku yang lebih baik, serta orang yang rajin membaca dan mengamalkan Al-Qur’an. “Jangan sampai ibadah hanya sebatas rutinitas. Puasa harus mampu mengubah sikap dan perilaku menjadi lebih baik, sedangkan Al-Qur’an harus dibaca, dipahami, dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari,” jelasnya.

Selain itu, Paidi juga menyampaikan keutamaan anak yang menghafal Al-Qur’an. Menurutnya, kecintaan terhadap Al-Qur’an perlu ditanamkan sejak dini, baik melalui membaca, menghafal maupun mengamalkannya. “Anak-anak yang dekat dengan Al-Qur’an merupakan kebahagiaan bagi orang tua. Karena itu, mari kita dorong anak-anak untuk mencintai, membaca, menghafal, dan mengamalkan Al-Qur’an,” tambah Paidi.

Kegiatan dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Dua jamaah menyampaikan pertanyaan, yakni mengenai boleh tidaknya orang tua memberikan pukulan kepada anak yang tidak mau melaksanakan salat serta mengenai tanggung jawab seorang istri ketika suaminya tidak melaksanakan salat. Menjawab pertanyaan pertama, Paidi menjelaskan bahwa dalam pendidikan salat terdapat tuntunan untuk memberikan pembinaan kepada anak yang telah mencapai usia tertentu, namun harus dilakukan secara mendidik, tidak menyakiti, dan bukan karena kemarahan. Sementara terkait suami yang tidak melaksanakan salat, Paidi menegaskan, “Istri berkewajiban mengingatkan dan mengajak suaminya kepada jalan Allah dengan cara yang baik. Namun, hidayah adalah urusan Allah SWT sehingga tidak boleh memaksakan kehendak.”

Kegiatan Bimluh di Yayasan Fard Ahillah Nisbi menjadi sarana penguatan pemahaman keagamaan bagi guru dan orang tua siswa. Pesan utama yang disampaikan adalah pentingnya memperbanyak amal saleh, menjaga ibadah, mencintai Al-Qur’an, memperbanyak shalawat, serta membangun keluarga yang saling mengingatkan dalam kebaikan. Dengan demikian, umat diharapkan tidak hanya memahami keutamaan syafaat di akhirat, tetapi juga berusaha mempersiapkan diri dengan iman, ibadah, dan akhlak yang baik sejak di dunia.(Paidi).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *