Medan (Humas) — Penyuluh Agama Katolik Kementerian Agama Kota Medan, Roni Antonius Sitanggang, memberikan pendampingan kepada para katekumen umat Paroki Hayam Wuruk Medan, Sabtu (8/8/2026) pukul 17.00 WIB. Kegiatan yang berlangsung di Aula Paroki Hayam Wuruk, Jalan Hayam Wuruk No. 3, Medan, tersebut menjadi bagian dari pembinaan iman berkelanjutan bagi para katekumen yang sedang mempersiapkan diri untuk semakin mengenal kehidupan dan ajaran Gereja Katolik. Pendampingan ini juga menjadi ruang bagi para katekumen untuk memperdalam pemahaman iman sekaligus menghubungkan ajaran Gereja dengan kehidupan sehari-hari.
Dalam kegiatan tersebut, Roni Antonius Sitanggang menyampaikan materi bertema “Tahun Liturgi dalam Gereja Katolik”. Ia menjelaskan bahwa Tahun Liturgi merupakan rangkaian perayaan iman Gereja sepanjang tahun yang membantu umat mengenangkan dan menghayati karya keselamatan Allah melalui kehidupan, wafat, dan kebangkitan Yesus Kristus. Menurutnya, Tahun Liturgi bukan sekadar rangkaian perayaan yang mengikuti kalender Gereja, melainkan perjalanan iman yang membantu umat semakin mengenal, menghayati, dan menghidupi misteri iman Kristiani secara bertahap.
Roni menjelaskan bahwa Tahun Liturgi Gereja Katolik terdiri atas beberapa masa utama, yaitu Masa Adven, Masa Natal, Masa Biasa, Masa Prapaskah, dan Masa Paskah, yang kemudian dilanjutkan kembali dengan Masa Biasa. Setiap masa memiliki karakteristik, suasana, serta pesan iman yang berbeda dan saling berkaitan dalam membantu umat menghayati karya keselamatan Allah. Para katekumen juga diajak untuk mengenal berbagai simbol, warna liturgi, serta perayaan Gereja agar mereka tidak hanya mengikuti perayaan secara lahiriah, tetapi mampu memahami makna iman yang terkandung di dalamnya.
“Tahun Liturgi bukan sekadar pergantian kalender Gereja, tetapi menjadi perjalanan iman yang mengajak kita semakin mengenal dan menghayati Kristus dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Roni. Ia menekankan bahwa pemahaman terhadap Tahun Liturgi penting bagi para katekumen karena setiap masa dalam kalender liturgi memiliki pesan yang dapat membantu umat melakukan refleksi dan pembaruan hidup. Dengan memahami makna setiap perayaan, para katekumen diharapkan tidak hanya menjadi peserta dalam perayaan Gereja, tetapi juga mampu mengambil nilai-nilai iman untuk diterapkan dalam kehidupan.
Lebih lanjut, Roni mengajak para katekumen untuk memahami pesan iman yang terdapat dalam setiap masa liturgi. Masa Adven, misalnya, menjadi kesempatan bagi umat untuk mempersiapkan diri menyambut kedatangan Kristus dengan sikap pertobatan, pengharapan, dan kesiapsiagaan. Masa Natal mengajak umat merayakan kelahiran Yesus Kristus serta menyadari kasih Allah yang hadir bagi manusia, sedangkan Masa Prapaskah menjadi waktu untuk melakukan pertobatan, refleksi, dan pembaruan kehidupan iman sebagai persiapan menuju perayaan Paskah.
Dalam pendampingannya, Roni juga menjelaskan makna Masa Paskah sebagai pusat perayaan iman Kristiani yang mengenangkan kebangkitan Yesus Kristus. Perayaan tersebut mengajak umat untuk memiliki harapan baru dan mewujudkan kehidupan yang telah diperbarui melalui iman dalam tindakan nyata. Sementara itu, Masa Biasa tetap memiliki peran penting karena menjadi kesempatan bagi umat untuk menghidupi dan mengamalkan nilai-nilai Injil dalam rutinitas kehidupan sehari-hari, bukan hanya pada masa-masa perayaan besar Gereja.
Para katekumen juga didorong untuk memahami pentingnya keterlibatan aktif dalam Perayaan Ekaristi sebagai bagian dari proses pertumbuhan dan pendewasaan iman. Menurut Roni, kehadiran dalam perayaan Gereja hendaknya tidak dipandang hanya sebagai kewajiban, tetapi sebagai kesempatan untuk membangun relasi yang semakin dekat dengan Tuhan dan komunitas umat beriman. Melalui keterlibatan yang aktif dan penuh kesadaran, para katekumen diharapkan semakin memahami bahwa iman tidak hanya dipelajari, tetapi juga dirayakan, dihayati, dan diwujudkan dalam kehidupan bersama.
Kegiatan pendampingan berlangsung dalam suasana interaktif dan penuh perhatian. Para katekumen mengikuti materi yang disampaikan serta memperoleh kesempatan untuk memahami lebih jauh berbagai hal yang berkaitan dengan Tahun Liturgi dan kehidupan Gereja. Proses pendampingan tersebut diharapkan dapat membantu para katekumen mempersiapkan diri secara lebih matang, tidak hanya dari sisi pengetahuan keagamaan, tetapi juga dalam membangun sikap dan komitmen sebagai umat Katolik.
Melalui kegiatan tersebut, Penyuluh Agama Katolik Kemenag Kota Medan terus menjalankan peran pembinaan dan pendampingan kepada masyarakat, termasuk para katekumen yang sedang mempersiapkan diri untuk semakin mengenal iman Katolik. Pendampingan iman menjadi bagian penting dalam membantu calon umat memahami ajaran Gereja secara sistematis sekaligus menumbuhkan kecintaan terhadap kehidupan menggereja. Kehadiran penyuluh di tengah komunitas umat juga diharapkan dapat memperkuat proses pembinaan iman yang berkelanjutan dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Melalui pendampingan mengenai Tahun Liturgi ini, para katekumen Paroki Hayam Wuruk diharapkan semakin memahami makna berbagai perayaan Gereja dan mampu menghayatinya sebagai bagian dari perjalanan menuju kedewasaan iman Kristiani. Pemahaman tersebut diharapkan tidak berhenti pada pengetahuan, tetapi diwujudkan melalui kehidupan yang semakin dekat dengan Kristus, aktif dalam komunitas Gereja, serta mampu menghadirkan nilai-nilai kasih, pengharapan, pertobatan, dan pelayanan dalam kehidupan sehari-hari. Kegiatan ini sekaligus menjadi wujud pelaksanaan tugas Penyuluh Agama Katolik Kementerian Agama Kota Medan dalam memberikan pembinaan dan pendampingan kepada calon umat agar semakin mengenal, mencintai, dan terlibat aktif dalam kehidupan Gereja.

