Penyuluh Agama Buddha Medan Dorong Generasi Muda Perkuat Kebajikan

Medan (Humas) — Penyuluh Agama Buddha Kantor Kementerian Agama Kota Medan, Ari Suryana, menyampaikan ceramah Dhamma dalam kegiatan Kebaktian Muda-Mudi Vihara Dharma Aura, Kota Medan, Minggu (16/8/2026). Kegiatan yang mengangkat tema “Kualitas Kebajikan” tersebut diikuti oleh pemuda-pemudi umat Buddha. Melalui pembinaan keagamaan tersebut, peserta diajak memahami nilai kebajikan dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Pembinaan juga diarahkan untuk membantu generasi muda membangun karakter yang jujur, peduli, bertanggung jawab, dan bijaksana.

Dalam ceramahnya, Ari menjelaskan bahwa kebajikan tidak hanya berkaitan dengan banyaknya perbuatan baik yang dilakukan, tetapi juga dengan niat, kesadaran, dan cara seseorang melakukannya. Kebajikan yang dilakukan dengan ketulusan dan tanpa merugikan makhluk lain menjadi bagian dari proses pembentukan kualitas batin. Pemahaman tersebut penting bagi generasi muda agar nilai-nilai keagamaan tidak berhenti pada pemahaman, tetapi dapat diterapkan dalam perilaku sehari-hari. “Kebajikan bukan sekadar tentang melakukan sesuatu yang dianggap baik, tetapi juga bagaimana niat kita ketika melakukannya,” jelas Ari.

Peserta kemudian diajak mengenali berbagai bentuk kebajikan yang dapat diterapkan dalam lingkungan keluarga, pendidikan, pergaulan, dan masyarakat. Menghormati orang tua, membantu sesama, berkata jujur, menjaga ucapan, berbagi, serta belajar dengan sungguh-sungguh merupakan bentuk kebajikan yang dapat dilakukan secara sederhana. Generasi muda juga diingatkan untuk menggunakan media sosial secara bijaksana dengan mempertimbangkan ucapan, tindakan, dan dampaknya terhadap orang lain. “Kebajikan yang dilakukan dengan kesadaran, ketulusan, dan tanpa menyakiti makhluk lain akan menjadi latihan untuk membentuk kualitas batin yang lebih baik,” ungkapnya.

Ari juga mengajak muda-mudi untuk tidak menjadikan perbuatan baik sebagai sarana memperoleh pengakuan dari orang lain. Kebajikan dapat menjadi latihan untuk mengembangkan kemurahan hati atau dāna, moralitas atau sīla, cinta kasih atau mettā, serta kebijaksanaan atau paññā. Nilai-nilai tersebut diharapkan tumbuh dalam keseharian sehingga tercermin dalam cara generasi muda bersikap dan mengambil keputusan. “Kualitas kebajikan terlihat ketika perbuatan baik perlahan mengubah diri kita menjadi pribadi yang lebih sabar, jujur, peduli, bertanggung jawab, dan bijaksana,” lanjutnya.

Kegiatan berlangsung secara interaktif melalui diskusi dan refleksi mengenai penerapan kebajikan dalam kehidupan generasi muda. Peserta diajak menghubungkan nilai-nilai Dhamma dengan berbagai persoalan yang dihadapi dalam kehidupan, termasuk perkembangan teknologi dan penggunaan media sosial. Ari mendorong peserta untuk menjadikan Dhamma sebagai pedoman dalam membentuk karakter sekaligus membangun hubungan yang baik dengan lingkungan sekitar. Dengan demikian, pembinaan keagamaan diharapkan dapat diterjemahkan ke dalam sikap dan perilaku yang memberikan manfaat bagi kehidupan bersama.

Melalui kegiatan tersebut, generasi muda Buddhis diharapkan semakin memahami bahwa kebajikan merupakan bagian yang dapat diwujudkan melalui tindakan nyata dan konsisten. Penerapan nilai Dhamma dalam kehidupan sehari-hari diharapkan membentuk pribadi yang tidak hanya memiliki pemahaman keagamaan, tetapi juga mampu menghadirkan kepedulian di tengah keluarga dan masyarakat. Pembinaan Penyuluh Agama Buddha menjadi ruang bagi generasi muda untuk memperkuat pemahaman keagamaan sekaligus menerapkannya dalam menghadapi dinamika kehidupan. “Ukuran kebajikan bukan hanya apa yang kita berikan kepada dunia, tetapi juga siapa diri kita setelah melakukan kebajikan tersebut,” pungkas Ari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *