Hadir Menguatkan di Tengah Duka, Penyuluh Agama Buddha Kemenag Medan Pimpin Paritta Avamaṅgala

Medan (Humas) — Penyuluh Agama Buddha Kantor Kementerian Agama Kota Medan memimpin pembacaan Paritta Avamaṅgala dalam kegiatan penghormatan terakhir bagi umat Buddha yang meninggal dunia di Rumah Duka Angsapura Medan, Sabtu (29/8/2026). Kegiatan tersebut menjadi bagian dari pelayanan keagamaan Kemenag Medan kepada umat Buddha, khususnya dalam memberikan pendampingan kepada keluarga yang sedang menghadapi suasana kedukaan. Penyuluh Agama Buddha Kemenag Medan, Ari Suryana, hadir secara langsung untuk memberikan bimbingan dan penguatan spiritual kepada keluarga serta umat yang mengikuti rangkaian penghormatan terakhir.

Kehadiran penyuluh dalam suasana kedukaan merupakan salah satu bentuk pelayanan keagamaan yang diberikan Kemenag Medan kepada masyarakat. Pendampingan tidak hanya dilakukan dalam kegiatan pembinaan keagamaan yang bersifat rutin, tetapi juga diberikan ketika umat menghadapi berbagai peristiwa penting dalam kehidupan, termasuk kehilangan anggota keluarga. Melalui kehadiran tersebut, penyuluh berupaya menjadi bagian dari proses penguatan batin agar keluarga yang ditinggalkan dapat menghadapi kedukaan dengan lebih tenang, tabah, dan penuh kesadaran.

Pembacaan Paritta Avamaṅgala berlangsung secara khidmat dan diikuti oleh keluarga serta umat Buddha yang hadir di Rumah Duka Angsapura Medan. Rangkaian pembacaan paritta menjadi bagian dari penghormatan terakhir sekaligus ruang bagi umat untuk menenangkan pikiran dan mengembangkan kesadaran di tengah suasana kehilangan. Dalam kesempatan tersebut, umat diajak untuk memahami bahwa kehidupan merupakan sesuatu yang tidak kekal dan setiap makhluk akan mengalami perubahan serta perpisahan.

Penyuluh Agama Buddha Kemenag Medan, Ari Suryana, menjelaskan bahwa pemahaman mengenai ketidakkekalan merupakan salah satu hal penting dalam menghadapi kedukaan. Menurutnya, ketika seseorang memahami bahwa segala sesuatu dalam kehidupan selalu mengalami perubahan, maka proses menerima kehilangan dapat dijalani dengan kesadaran yang lebih baik. “Kedukaan merupakan bagian dari perjalanan kehidupan. Melalui Dhamma, kita belajar memahami bahwa segala sesuatu yang terbentuk memiliki sifat tidak kekal dan pada waktunya akan mengalami perubahan serta perpisahan. Pemahaman inilah yang dapat membantu kita menerima kenyataan dengan lebih tenang dan bijaksana,” ujar Ari.

Ia menambahkan bahwa pembacaan paritta bukan semata-mata sebagai rangkaian ritual dalam penghormatan terakhir, tetapi juga menjadi sarana untuk membangun ketenangan batin bagi keluarga dan umat yang hadir. Suasana kedukaan sering kali membuat seseorang larut dalam kesedihan sehingga membutuhkan ruang untuk menenangkan pikiran dan menguatkan batin. Karena itu, pendampingan melalui pembacaan paritta dan penguatan Dhamma diharapkan dapat membantu keluarga menjalani masa kedukaan dengan kesadaran yang lebih baik.

“Dalam suasana duka, keluarga membutuhkan dukungan, bukan hanya secara sosial tetapi juga secara spiritual. Kehadiran penyuluh di tengah keluarga yang berduka diharapkan dapat memberikan ruang untuk menenangkan pikiran, menguatkan batin, dan mengingat kembali ajaran Dhamma. Dengan demikian, keluarga tidak menghadapi kedukaan seorang diri, tetapi dapat saling menguatkan dengan landasan Dhamma,” jelasnya.

Ari Suryana juga mengajak umat yang hadir untuk tidak hanya memusatkan perhatian pada rasa kehilangan, tetapi menjadikan momentum tersebut sebagai kesempatan untuk melakukan perenungan terhadap kehidupan. Menurutnya, peristiwa kematian dapat menjadi pengingat bagi setiap orang untuk menggunakan waktu kehidupan dengan sebaik-baiknya, memperbanyak perbuatan baik, menjaga hubungan dengan sesama, dan menjalani kehidupan dengan penuh kesadaran. Nilai-nilai tersebut penting untuk terus ditanamkan agar umat mampu menghadapi kehidupan dengan kebijaksanaan.

“Ketika kita berada di rumah duka, kita diingatkan bahwa kehidupan ini tidak kekal. Karena itu, selagi kita masih memiliki kesempatan untuk menjalani kehidupan, mari kita gunakan waktu dengan melakukan kebajikan, menjaga ucapan dan perbuatan, serta memberikan manfaat kepada sesama. Kedukaan hendaknya tidak hanya menjadi kesedihan, tetapi juga menjadi momentum untuk melakukan perenungan dan memperbaiki kualitas kehidupan kita,” tuturnya.

Dalam pendampingan tersebut, Ari juga mengajak keluarga dan umat yang hadir untuk saling memberikan dukungan serta tidak membiarkan keluarga yang berduka menghadapi kesedihan seorang diri. Kebersamaan dan kepedulian antarumat menjadi bagian penting dalam membantu keluarga melewati masa-masa sulit. Menurutnya, kepedulian sosial yang disertai penguatan Dhamma dapat menjadi sumber kekuatan bagi keluarga untuk secara perlahan menerima kenyataan dan melanjutkan kehidupan.

“Ketika ada keluarga yang mengalami kedukaan, mari kita hadir dengan kepedulian dan kasih sayang. Tidak selalu harus dengan kata-kata yang panjang, terkadang kehadiran dan perhatian kita sudah menjadi penguatan bagi mereka. Yang terpenting adalah kita dapat membantu keluarga menemukan ketenangan dan kekuatan untuk menerima kenyataan kehidupan,” ungkap Ari.

Ia menegaskan bahwa Penyuluh Agama Buddha memiliki tanggung jawab untuk hadir bersama umat dalam berbagai fase kehidupan. Pelayanan penyuluhan tidak hanya dilakukan pada saat umat melaksanakan kegiatan keagamaan yang bersifat sukacita, tetapi juga ketika umat menghadapi persoalan, kesulitan, maupun kedukaan. Kehadiran penyuluh diharapkan mampu menjembatani umat dengan nilai-nilai Dhamma sehingga ajaran agama dapat benar-benar dirasakan manfaatnya dalam kehidupan nyata.

“Penyuluh harus hadir di tengah umat dalam berbagai keadaan. Bimbingan keagamaan tidak hanya diberikan ketika umat berada dalam suasana sukacita, tetapi juga ketika mereka membutuhkan penguatan dan pendampingan dalam menghadapi kedukaan. Inilah salah satu bentuk pelayanan kita agar umat merasakan bahwa nilai-nilai Dhamma dapat menjadi pegangan dalam setiap keadaan kehidupan,” katanya.

Melalui kegiatan tersebut, Penyuluh Agama Buddha Kemenag Medan terus berupaya memberikan pelayanan dan bimbingan keagamaan yang menyentuh kebutuhan umat secara langsung. Pendampingan spiritual dalam suasana kedukaan menjadi bagian dari upaya membangun kehadiran Kemenag di tengah masyarakat sekaligus memperkuat peran penyuluh sebagai pembimbing dan pendamping umat. Pelayanan yang dilakukan diharapkan tidak hanya memberikan ketenangan bagi keluarga yang berduka, tetapi juga memperkuat kesadaran umat untuk menjalani kehidupan berdasarkan nilai-nilai Dhamma.

Ari Suryana berharap keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan untuk menghadapi kehilangan dan mampu menerima kenyataan dengan penuh kesadaran. Ia juga mengajak umat yang hadir untuk terus menjaga kebersamaan, memperbanyak kebajikan, dan menjadikan pengalaman kedukaan sebagai bahan perenungan untuk menjalani kehidupan secara lebih baik. “Semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan ketenangan dan kekuatan, serta mampu menjadikan Dhamma sebagai landasan untuk menerima kenyataan kehidupan dengan bijaksana. Semoga kita semua dapat mengambil pelajaran dari setiap peristiwa kehidupan dan terus berusaha menjadi pribadi yang lebih baik serta bermanfaat bagi sesama,” pungkasnya.

Kegiatan pembacaan Paritta Avamaṅgala di Rumah Duka Angsapura Medan berlangsung dalam suasana khidmat, tenang, dan penuh penghormatan. Kehadiran Penyuluh Agama Buddha Kemenag Medan menjadi bentuk nyata pelayanan kepada umat dalam menghadapi salah satu fase kehidupan yang penuh tantangan emosional dan spiritual. Melalui pendampingan tersebut, Kemenag Medan terus berkomitmen memberikan pelayanan keagamaan yang hadir, peduli, dan sesuai dengan kebutuhan umat dalam berbagai situasi kehidupan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *