Medan (Humas) — Pembentukan akhlak menjadi salah satu fondasi penting dalam mempersiapkan generasi muda yang beriman dan bertakwa kepada Allah SWT. Pesan tersebut disampaikan dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang dilaksanakan di Sekolah Dasar Al Washliyah, Jalan Bromo, Gang Santun, Medan, Sabtu (29/8/2026). Mengangkat tema “Meneladani Sifat Nabi Muhammad SAW dalam Rangka Menciptakan Generasi Milenial yang Beriman dan Bertakwa kepada Allah SWT”, kegiatan tersebut menjadi momentum untuk mengenalkan sifat-sifat mulia Rasulullah SAW sekaligus mengajak peserta didik menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Melalui kegiatan tersebut, Penyuluh Agama Islam Kementerian Agama Kota Medan turut memberikan penguatan keagamaan sebagai bagian dari pembinaan karakter generasi muda.
Penyuluh Agama Islam Kemenag Medan, Amri Sembiring, S.H.I., yang hadir sebagai penceramah menyampaikan bahwa perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi harus berjalan seimbang dengan pembentukan akhlak. Menurutnya, kecerdasan akademik dan kemampuan menggunakan teknologi merupakan hal penting, tetapi keduanya harus diarahkan oleh nilai agama dan karakter yang baik. Generasi muda yang memiliki ilmu sekaligus akhlak diharapkan mampu menggunakan pengetahuan dan teknologi untuk memberikan manfaat, bukan justru merugikan diri sendiri maupun orang lain.
“Generasi muda tidak cukup hanya pintar dan mampu mengikuti perkembangan zaman. Mereka juga harus memiliki akhlak, karena ilmu tanpa akhlak dapat kehilangan arah. Anak-anak kita harus tumbuh menjadi generasi yang cerdas, tetapi tetap jujur, santun, bertanggung jawab, menghormati orang tua dan guru, serta memiliki kepedulian terhadap sesama. Rasulullah SAW telah memberikan teladan terbaik tentang bagaimana ilmu, iman, dan akhlak berjalan bersama,” ujar Amri.
Dalam tausiyahnya, Amri mengajak para siswa untuk mengenal dan meneladani sifat-sifat mulia Rasulullah SAW, seperti kejujuran, amanah, kesabaran, kasih sayang, tanggung jawab, serta kerendahan hati. Ia menjelaskan bahwa sifat tersebut bukan sesuatu yang sulit untuk diterapkan karena dapat dimulai melalui kebiasaan sederhana di lingkungan sehari-hari. Menurutnya, pembentukan karakter akan lebih efektif apabila dilakukan melalui praktik dan pembiasaan, bukan hanya melalui nasihat.
“Akhlak Rasulullah SAW harus kita contoh mulai dari hal-hal sederhana. Kalau kita ingin menjadi pribadi yang jujur, maka biasakan berkata benar meskipun tidak ada yang melihat. Kalau ingin menjadi orang yang amanah, laksanakan tugas yang diberikan kepada kita. Kalau ingin meneladani kasih sayang Rasulullah, jangan menyakiti teman dan bantulah orang yang membutuhkan. Karakter yang baik tumbuh dari kebiasaan baik yang dilakukan terus-menerus,” jelasnya.
Amri juga menekankan pentingnya menghormati orang tua dan guru sebagai bagian dari akhlak seorang Muslim. Menurutnya, orang tua merupakan pihak yang memberikan kasih sayang dan pengorbanan, sementara guru memiliki peran dalam mendidik dan memberikan ilmu kepada peserta didik. Karena itu, rasa hormat kepada keduanya perlu diwujudkan melalui sikap sopan, mendengarkan nasihat, menjaga perkataan, serta menjalankan tanggung jawab dengan sungguh-sungguh.
“Anak-anak harus belajar menghargai orang tua dan guru. Jangan hanya ketika membutuhkan sesuatu kita bersikap baik, tetapi jadikan penghormatan itu sebagai kebiasaan. Dengarkan nasihat orang tua, hormati guru, gunakan bahasa yang sopan, dan jangan membalas kebaikan mereka dengan perilaku yang menyakiti. Ketika kita menghormati orang tua dan guru, insyaallah ilmu yang kita peroleh juga menjadi lebih bermanfaat,” tutur Amri.
Ia mengingatkan bahwa masa kanak-kanak dan remaja merupakan fase penting dalam membentuk kebiasaan serta karakter. Apa yang dibiasakan sejak dini akan memberikan pengaruh terhadap perilaku seseorang ketika dewasa. Karena itu, pembinaan akhlak perlu dilakukan secara berkelanjutan melalui sinergi antara keluarga, sekolah, dan lingkungan masyarakat.
“Anak-anak adalah generasi yang akan melanjutkan kehidupan bangsa dan masyarakat. Karena itu, jangan menunggu mereka dewasa baru kita mengajarkan akhlak. Mulailah sejak sekarang. Ajarkan kejujuran, kedisiplinan, tanggung jawab, kesopanan, kepedulian, dan ibadah. Apa yang dibiasakan hari ini akan menjadi karakter mereka di masa depan,” ungkapnya.
Dalam kesempatan tersebut, Amri juga memberikan perhatian terhadap penggunaan teknologi dan media sosial di kalangan generasi muda. Menurutnya, teknologi merupakan sarana yang dapat memberikan banyak manfaat apabila digunakan secara bijaksana, tetapi juga dapat memberikan dampak negatif apabila digunakan tanpa kontrol. Para siswa diajak untuk menggunakan perangkat digital sebagai sarana belajar dan mencari informasi yang bermanfaat serta menghindari konten yang dapat merusak akhlak.
“Teknologi bukan musuh kita. Yang harus kita perhatikan adalah bagaimana cara kita menggunakannya. Gunakan internet untuk belajar, mencari ilmu, membaca hal-hal yang bermanfaat, dan mengembangkan kemampuan. Jangan gunakan media sosial untuk menghina teman, menyebarkan kebohongan, melakukan perundungan, atau melihat sesuatu yang tidak sesuai dengan nilai agama. Ingat bahwa akhlak kita tetap harus dijaga, baik ketika bertemu langsung maupun ketika berada di dunia digital,” jelas Amri.
Ia juga mengingatkan para siswa agar tidak mudah terpengaruh oleh lingkungan pergaulan yang negatif. Menurutnya, teman memiliki pengaruh besar terhadap kebiasaan dan perilaku seseorang. Karena itu, peserta didik perlu membangun pertemanan yang sehat, saling mendukung dalam belajar dan beribadah, serta berani mengingatkan teman ketika melakukan sesuatu yang tidak baik.
“Pilihlah teman yang bisa membawa kita menjadi lebih baik. Teman yang baik adalah teman yang mengingatkan ketika kita salah, mengajak belajar, mengajak berbuat baik, dan tidak mendorong kita melakukan sesuatu yang merugikan. Tetapi jangan hanya mencari teman yang baik, jadilah juga teman yang baik bagi orang lain. Saling menguatkan dalam kebaikan merupakan bagian dari akhlak yang diajarkan Rasulullah SAW,” katanya.
Amri menambahkan bahwa akhlak yang baik juga tercermin dari kemampuan seseorang menjaga ucapan. Ia mengajak para siswa untuk berpikir terlebih dahulu sebelum berbicara agar perkataan yang disampaikan tidak menyakiti orang lain. Menurutnya, menjaga lisan merupakan bentuk sederhana dari keteladanan Rasulullah SAW yang dapat diterapkan setiap hari.
“Biasakan menjaga ucapan. Jangan mudah mengejek, menghina, memanggil teman dengan sebutan yang tidak baik, atau mengatakan sesuatu yang membuat orang lain sakit hati. Sebelum berbicara, pikirkan apakah perkataan kita benar, apakah baik, dan apakah bermanfaat. Kalau tidak ada kebaikan dalam ucapan kita, lebih baik kita diam. Ini merupakan latihan akhlak yang sederhana tetapi sangat penting,” tutur Amri.
Selain meneladani akhlak, Amri mengajak para siswa memperkuat kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW dengan memperbanyak shalawat dan mempelajari perjalanan kehidupan Rasulullah SAW. Menurutnya, semakin seseorang mengenal Rasulullah SAW, semakin besar pula peluang tumbuhnya rasa cinta dan keinginan untuk mengikuti keteladanan beliau. Kecintaan tersebut kemudian harus dibuktikan melalui perilaku nyata.
“Kalau kita mencintai Nabi Muhammad SAW, jangan hanya mengatakan cinta. Mari kita buktikan dengan memperbanyak shalawat, mempelajari kisah perjuangan beliau, menjaga ibadah, dan mengikuti akhlaknya. Ketika kita belajar tentang kesabaran Rasulullah, kita juga harus belajar menjadi sabar. Ketika kita belajar tentang kejujuran beliau, kita juga harus berusaha menjadi orang yang jujur,” ujar Amri.
Ia juga mengingatkan peserta didik bahwa menjadi pribadi yang berakhlak mulia bukan berarti tidak pernah melakukan kesalahan. Setiap manusia dapat melakukan kesalahan, tetapi yang penting adalah memiliki kemauan untuk mengakui, meminta maaf, dan memperbaiki diri. Sikap tersebut perlu ditanamkan sejak dini agar anak tidak mudah menyerah dalam proses menjadi pribadi yang lebih baik.
“Kalau suatu hari kalian melakukan kesalahan, jangan takut untuk mengakuinya. Berani meminta maaf adalah bagian dari akhlak. Setelah itu, belajar dari kesalahan dan jangan mengulanginya. Jangan merasa bahwa sekali melakukan kesalahan berarti kita menjadi orang yang buruk selamanya. Yang penting adalah kemauan untuk berubah dan menjadi lebih baik,” jelasnya.
Dalam tausiyah tersebut, Amri juga mengajak para siswa untuk menjadikan sekolah sebagai tempat membangun kebiasaan baik. Disiplin datang tepat waktu, menjaga kebersihan, mengerjakan tugas, menghormati guru, membantu teman, serta mengikuti kegiatan sekolah dengan penuh tanggung jawab merupakan bagian dari pendidikan akhlak. Menurutnya, hal-hal sederhana tersebut apabila dilakukan secara konsisten akan membentuk karakter yang kuat.
“Jangan menganggap hal-hal kecil tidak penting. Datang tepat waktu, membuang sampah pada tempatnya, mengerjakan tugas, antre dengan tertib, membantu teman, dan menghormati guru semuanya merupakan bagian dari akhlak. Orang yang berakhlak baik akan terlihat dari kebiasaan sehari-harinya, bukan hanya ketika berada dalam kegiatan keagamaan,” katanya.
Amri menilai peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW memiliki peran penting sebagai ruang pembelajaran karakter bagi peserta didik. Momentum tersebut dapat digunakan untuk menghubungkan kisah kehidupan Rasulullah SAW dengan persoalan yang dihadapi generasi muda saat ini. Dengan demikian, nilai keteladanan Rasulullah tidak hanya dipahami sebagai cerita sejarah, tetapi dapat menjadi pedoman dalam menghadapi perkembangan zaman.
“Maulid Nabi jangan hanya kita jadikan kegiatan tahunan. Jadikan sebagai momentum untuk memperbaiki diri. Setelah kegiatan ini selesai, mari kita bawa pulang pesan Rasulullah SAW ke kehidupan sehari-hari. Kalau hari ini kita belajar tentang kejujuran, mulai besok praktikkan kejujuran. Kalau kita belajar tentang kasih sayang, mulai dari teman dan keluarga. Dengan begitu, Maulid Nabi benar-benar memberikan perubahan dalam diri kita,” ungkapnya.
Ia berharap pihak keluarga dan sekolah dapat terus memberikan teladan serta menciptakan lingkungan yang mendukung pembentukan karakter peserta didik. Menurutnya, anak akan lebih mudah belajar akhlak ketika melihat contoh nyata dari orang-orang di sekitarnya. Oleh sebab itu, pendidikan karakter perlu menjadi tanggung jawab bersama dan tidak hanya dibebankan kepada guru agama.
“Anak-anak lebih mudah meniru apa yang mereka lihat daripada hanya mendengar apa yang kita katakan. Karena itu, orang tua, guru, dan lingkungan harus sama-sama memberikan contoh. Kalau kita ingin anak jujur, orang dewasa juga harus menunjukkan kejujuran. Kalau ingin anak sopan, kita juga harus berbicara dengan sopan. Keteladanan orang dewasa sangat menentukan pembentukan karakter anak,” tutur Amri.
Melalui peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW tersebut, PAI Kemenag Medan terus mendorong penguatan karakter generasi muda melalui penanaman nilai-nilai keteladanan Rasulullah SAW. Nilai kejujuran, amanah, kesabaran, kasih sayang, tanggung jawab, kedisiplinan, dan kepedulian terhadap sesama diharapkan dapat diterapkan dalam kehidupan peserta didik. Dengan demikian, kegiatan Maulid Nabi tidak hanya menjadi agenda seremonial, tetapi menjadi sarana pembelajaran yang memberikan dampak nyata terhadap pembentukan pribadi siswa.
Amri Sembiring berharap para siswa dapat tumbuh menjadi generasi yang memiliki keseimbangan antara kecerdasan, keimanan, dan akhlak. Ia mengajak peserta untuk terus belajar, memperkuat ibadah, menghormati orang tua dan guru, menjaga pergaulan, serta menggunakan teknologi secara bijaksana. “Semoga melalui peringatan Maulid Nabi ini, anak-anak kita semakin mencintai Rasulullah SAW, memperbanyak shalawat, semakin dekat kepada Allah SWT, dan mampu menerapkan akhlak beliau dalam kehidupan sehari-hari. Jadilah generasi yang cerdas tetapi tetap rendah hati, berprestasi tetapi tetap berakhlak, memiliki teknologi tetapi tetap memiliki kendali diri, serta memiliki ilmu yang digunakan untuk kebaikan dan kemanfaatan bagi sesama,” pungkasnya.

