Penyuluh Agama Islam Kemenag Medan Ajak Jamaah Perkuat Cinta kepada Rasulullah SAW

Medan (Humas) — Meningkatkan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW menjadi salah satu pesan yang disampaikan dalam kegiatan Bimbingan dan Penyuluhan Agama Islam (Bimluh) kepada jamaah MT An-Nasroh Medan, Sabtu (29/8/2026). Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya Penyuluh Agama Islam Kementerian Agama Kota Medan dalam memperkuat pemahaman sekaligus pengamalan nilai-nilai keislaman di tengah masyarakat. Melalui Bimluh, jamaah diajak mengenal lebih dalam kedudukan Rasulullah SAW, mengingat perjuangan beliau dalam membimbing umat, serta menumbuhkan rasa cinta yang tidak berhenti pada ucapan. Kecintaan tersebut diharapkan diwujudkan melalui memperbanyak shalawat, mempelajari sunnah, menjaga ibadah, serta berusaha menerapkan akhlak Rasulullah SAW dalam kehidupan sehari-hari.

Penyuluh Agama Islam Kemenag Medan, Al Huda, S.Sos.I., dalam bimbingannya menyampaikan bahwa kecintaan kepada Rasulullah SAW merupakan bagian penting dalam kehidupan seorang Muslim. Menurutnya, Rasulullah SAW telah memberikan teladan yang lengkap dalam menjalani kehidupan, mulai dari hubungan manusia dengan Allah SWT hingga hubungan dengan sesama manusia. Karena itu, umat Islam perlu terus mengenal pribadi Rasulullah SAW agar rasa cinta kepada beliau semakin tumbuh dan kemudian diwujudkan dalam bentuk ketaatan.

“Kalau kita berbicara tentang cinta kepada Rasulullah SAW, jangan hanya berhenti pada perasaan atau ucapan. Cinta itu harus melahirkan keinginan untuk mengenal beliau, mempelajari ajaran beliau, memperbanyak shalawat, dan mengikuti akhlaknya. Semakin kita mengenal Rasulullah, insyaallah semakin kita memahami betapa besar kasih sayang dan perjuangan beliau kepada umat,” ujar Al Huda.

Al Huda menjelaskan bahwa salah satu cara untuk menumbuhkan kecintaan kepada Rasulullah SAW adalah dengan memperbanyak shalawat. Menurutnya, shalawat bukan hanya amalan yang diucapkan pada waktu tertentu, tetapi dapat dibiasakan dalam kehidupan sehari-hari sebagai bentuk penghormatan sekaligus kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW. Ia mengajak jamaah menjadikan shalawat sebagai bagian dari rutinitas, baik ketika selesai melaksanakan ibadah maupun dalam berbagai kesempatan lainnya.

“Mari kita perbanyak shalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Shalawat jangan hanya kita baca ketika berada di majelis seperti ini, tetapi biasakan dalam kehidupan sehari-hari. Ketika hati kita terbiasa bershalawat, mudah-mudahan kecintaan kepada Rasulullah semakin tumbuh dan kita semakin terdorong untuk mengikuti ajaran serta akhlak beliau,” jelasnya.

Dalam penyampaiannya, Al Huda juga mengangkat tiga hal yang menjadi pengingat bagi umat Islam mengenai besarnya perhatian Rasulullah SAW kepada umatnya, yakni umat Nabi Muhammad SAW merupakan umat yang dirindukan, dipikirkan, dan diperjuangkan. Menurutnya, hal tersebut semestinya menjadi bahan renungan bagi setiap Muslim agar tidak menyia-nyiakan ajaran yang telah disampaikan Rasulullah SAW. Perjuangan Nabi Muhammad SAW dalam menyampaikan risalah Islam merupakan bentuk kasih sayang yang harus dibalas umat dengan meningkatkan keimanan dan ketaatan.

“Kita ini umat yang dirindukan, umat yang dipikirkan, dan umat yang diperjuangkan oleh Nabi Muhammad SAW. Rasulullah SAW sangat menginginkan umatnya berada dalam keselamatan. Beliau memikirkan umatnya dan berjuang agar manusia mendapatkan petunjuk. Maka sudah sepatutnya kita menghargai perjuangan itu dengan menjalankan ajaran Islam dan menjaga diri agar tetap berada di jalan yang beliau ajarkan,” tuturnya.

Al Huda mengajak jamaah untuk merenungkan bagaimana Rasulullah SAW begitu memperhatikan keselamatan umat, sehingga umat Islam tidak seharusnya hanya mengenal nama beliau tanpa berusaha mengikuti ajarannya. Menurutnya, menjadi bagian dari umat Nabi Muhammad SAW merupakan nikmat besar yang harus disyukuri dengan menjalankan tanggung jawab sebagai seorang Muslim. Rasa syukur tersebut dapat diwujudkan dengan menjaga ibadah, memperbaiki akhlak, memperbanyak amal saleh, dan menghindari perbuatan yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam.

“Kalau kita mengaku sebagai umat Nabi Muhammad SAW, maka ada tanggung jawab yang harus kita jalankan. Jangan sampai kita bangga menyebut diri sebagai umat beliau, tetapi perilaku kita jauh dari ajaran yang beliau bawa. Mari kita jaga shalat, perbaiki hubungan dengan sesama, jaga lisan, dan tinggalkan hal-hal yang dapat merusak diri kita. Itulah salah satu bentuk syukur karena Allah telah menjadikan kita sebagai umat Rasulullah SAW,” ungkap Al Huda.

Ia menegaskan bahwa kecintaan kepada Rasulullah SAW harus terlihat melalui perubahan perilaku. Seorang Muslim yang mencintai Nabi hendaknya berusaha meneladani sifat jujur, amanah, sabar, pemaaf, rendah hati, dan penyayang yang dicontohkan Rasulullah SAW. Keteladanan tersebut dapat dimulai dari lingkungan keluarga, seperti menghormati orang tua, menjaga hubungan dengan pasangan, mendidik anak dengan kasih sayang, serta memperlakukan tetangga dan masyarakat dengan baik.

“Cinta kepada Rasulullah harus terlihat dari akhlak kita. Kalau kita mengaku cinta kepada Nabi, tetapi masih mudah menyakiti orang lain, mudah berkata kasar, suka memutus silaturahmi, atau tidak amanah, berarti masih banyak yang harus kita perbaiki. Mari kita belajar mengikuti akhlak Rasulullah sedikit demi sedikit, dimulai dari diri sendiri dan keluarga,” katanya.

Al Huda juga mengingatkan jamaah bahwa mengikuti sunnah Rasulullah SAW tidak hanya berkaitan dengan amalan ibadah, tetapi juga mencakup perilaku dan cara berinteraksi dengan orang lain. Menurutnya, Rasulullah SAW mengajarkan umat untuk menjaga ucapan, menghormati orang lain, membantu mereka yang membutuhkan, serta memberikan manfaat bagi lingkungan. Karena itu, kecintaan kepada Nabi harus melahirkan pribadi Muslim yang membawa kebaikan di mana pun berada.

“Jangan memahami sunnah hanya dalam hal-hal tertentu saja. Rasulullah mengajarkan bagaimana kita beribadah, tetapi beliau juga mengajarkan bagaimana kita bertetangga, bagaimana kita memperlakukan keluarga, bagaimana kita berdagang, bagaimana kita berbicara, dan bagaimana kita membantu orang yang membutuhkan. Jadi, mengikuti Rasulullah berarti berusaha menghadirkan akhlak beliau dalam seluruh kehidupan kita,” jelasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Al Huda turut mengajak jamaah untuk memperbanyak mempelajari sirah atau perjalanan kehidupan Rasulullah SAW. Menurutnya, semakin banyak umat mengenal sejarah perjuangan Nabi, semakin mudah pula memahami nilai-nilai yang beliau ajarkan. Pembelajaran tentang kehidupan Rasulullah juga dapat menjadi sumber motivasi agar umat tidak mudah mengeluh ketika menghadapi berbagai persoalan kehidupan.

“Kalau kita sedang menghadapi kesulitan, coba pelajari bagaimana Rasulullah SAW menghadapi ujian. Beliau juga pernah mengalami kesedihan, kehilangan, penolakan, dan berbagai kesulitan, tetapi tetap sabar dan tidak berhenti menyampaikan kebaikan. Dari kehidupan Rasulullah kita belajar bahwa kesulitan bukan alasan untuk berhenti menjadi orang baik,” tutur Al Huda.

Ia juga mengingatkan jamaah untuk menjaga persatuan dan silaturahmi di tengah masyarakat. Menurutnya, salah satu bentuk mengikuti ajaran Rasulullah SAW adalah menjaga hubungan baik dengan sesama dan tidak mudah terpecah hanya karena perbedaan. Jamaah diajak untuk membangun komunikasi yang sehat, saling menghormati, serta menyelesaikan perbedaan dengan cara yang baik.

“Rasulullah SAW mengajarkan kita untuk menjaga persaudaraan. Karena itu, jangan mudah memutus silaturahmi hanya karena perbedaan kecil. Kalau ada persoalan, mari diselesaikan dengan baik. Jangan jadikan perbedaan sebagai alasan untuk saling membenci, karena umat yang kuat adalah umat yang mampu menjaga persaudaraan dan saling menguatkan dalam kebaikan,” katanya.

Sebagai Penyuluh Agama Islam Kemenag Medan, Al Huda berharap kegiatan Bimluh tersebut dapat memberikan penguatan kepada jamaah untuk semakin mencintai Rasulullah SAW. Ia menekankan bahwa cinta kepada Nabi harus terus dipelihara melalui kebiasaan bershalawat, memperdalam pengetahuan agama, menjaga ibadah, dan memperbaiki akhlak. Menurutnya, kecintaan yang diwujudkan melalui amal akan memberikan dampak positif bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakat.

“Jangan sampai kecintaan kita kepada Rasulullah hanya muncul ketika ada peringatan Maulid. Jadikan cinta kepada beliau sebagai bagian dari kehidupan kita setiap hari. Perbanyak shalawat, pelajari sunnah, jaga ibadah, dan terus perbaiki akhlak. Kalau kita melakukan itu dengan sungguh-sungguh, insyaallah kecintaan kita kepada Rasulullah akan semakin nyata,” ujar Al Huda.

Ia juga mengajak jamaah untuk menjadikan Rasulullah SAW sebagai teladan utama dalam membangun kehidupan keluarga. Menurutnya, keluarga merupakan tempat pertama untuk menerapkan akhlak Rasulullah, mulai dari kesabaran dalam menghadapi perbedaan, kasih sayang kepada anak, penghormatan antara suami dan istri, hingga kepedulian terhadap anggota keluarga yang membutuhkan perhatian.

“Kalau kita ingin melihat apakah cinta kepada Rasulullah sudah berpengaruh dalam diri kita, lihatlah bagaimana kita memperlakukan keluarga. Apakah kita sudah sabar, apakah kita sudah mampu menjaga lisan, apakah kita sudah memberikan kasih sayang, dan apakah kita sudah menjadi teladan bagi anak-anak. Mulailah dari rumah, karena akhlak yang baik akan tumbuh dari kebiasaan yang kita bangun setiap hari,” ungkapnya.

Melalui kegiatan Bimluh kepada jamaah MT An-Nasroh Medan, Penyuluh Agama Islam Kemenag Medan terus berupaya menghadirkan pembinaan keagamaan yang menyentuh kebutuhan spiritual masyarakat. Materi tentang kecintaan kepada Rasulullah SAW diharapkan tidak hanya menambah pengetahuan jamaah, tetapi juga mendorong perubahan sikap dan perilaku. Dengan semakin mengenal Rasulullah SAW dan memahami perjuangan beliau, umat diharapkan semakin terdorong untuk menjalankan ajaran Islam secara konsisten.

Al Huda berharap jamaah MT An-Nasroh dapat menjadi umat yang tidak hanya mengaku mencintai Rasulullah SAW, tetapi juga membuktikan kecintaan tersebut melalui ketaatan dan akhlak yang baik. Ia mengajak jamaah untuk terus memperbanyak shalawat, menjaga persaudaraan, memperkuat ibadah, dan menghadirkan manfaat bagi sesama. “Semoga kita menjadi umat yang benar-benar mencintai Nabi Muhammad SAW, umat yang setia kepada ajaran beliau, memperbanyak shalawat, meneladani akhlaknya, dan berusaha meneruskan nilai-nilai kebaikan yang beliau ajarkan. Mudah-mudahan kecintaan kita kepada Rasulullah menjadi jalan bagi kita untuk mendapatkan syafaat dan keselamatan di dunia maupun di akhirat,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *