Penyuluh Agama Islam Kemenag Medan Bekali Warga Binaan LPKA dengan Praktik Fardhu Kifayah

Medan (Humas) — Pembinaan keagamaan bagi warga binaan terus dilakukan melalui kegiatan yang tidak hanya memberikan pemahaman secara teori, tetapi juga keterampilan dalam pelaksanaan kewajiban keagamaan. Salah satunya melalui kegiatan praktik fardhu kifayah yang dilaksanakan oleh tim Penyuluh Agama Islam Kementerian Agama Kota Medan di LPKA Kelas I Medan, Tanjung Gusta, Medan, Senin (31/8/2026). Kegiatan rutin tersebut melibatkan sejumlah Penyuluh Agama Islam dari wilayah Medan Marelan, Medan Tembung, Medan Amplas, dan Medan Labuhan. Melalui kegiatan tersebut, warga binaan diberikan kesempatan untuk memahami sekaligus mempraktikkan tahapan fardhu kifayah secara langsung sesuai tuntunan syariat Islam.

Ketua Tim Koordinator Penyuluh Agama Islam Kemenag Medan, Hj. Nunung Ismayanti, MA., menyampaikan bahwa pembinaan keagamaan bagi warga binaan perlu dilakukan secara berkelanjutan dengan materi yang menyentuh aspek pengetahuan sekaligus keterampilan. Menurutnya, fardhu kifayah merupakan salah satu materi penting karena berkaitan dengan kewajiban sosial umat Islam yang membutuhkan pemahaman dan kesiapan dalam pelaksanaannya. Ia berharap kegiatan tersebut dapat memberikan bekal kepada warga binaan agar mereka memiliki pengetahuan keagamaan yang dapat diamalkan, baik selama berada di LPKA maupun ketika kembali ke tengah masyarakat.

“Melalui praktik fardhu kifayah ini, kami ingin memberikan pemahaman yang tidak hanya berhenti pada teori. Warga binaan perlu mengetahui bagaimana tata cara pelaksanaannya secara benar, sehingga ketika mereka kembali ke lingkungan masyarakat, pengetahuan tersebut dapat menjadi bekal untuk ikut menjalankan kewajiban sosial sebagai seorang Muslim,” ujar Nunung.

Nunung menjelaskan bahwa pembinaan kepada warga binaan merupakan bagian dari upaya menghadirkan pelayanan keagamaan yang menyentuh seluruh lapisan masyarakat. Menurutnya, status sebagai warga binaan tidak mengurangi hak seseorang untuk mendapatkan pendidikan dan bimbingan keagamaan. Justru melalui pembinaan yang dilakukan secara konsisten, warga binaan diharapkan memiliki ruang untuk memperbaiki diri, memperkuat keimanan, dan mempersiapkan kehidupan yang lebih baik setelah menyelesaikan masa pembinaan.

“Pembinaan keagamaan harus diberikan kepada semua umat, termasuk saudara-saudara kita yang sedang menjalani pembinaan di LPKA. Kita ingin mereka mendapatkan kesempatan untuk belajar, memperbaiki diri, dan memperkuat pemahaman agama. Harapannya, ilmu yang diperoleh selama mengikuti pembinaan dapat menjadi bekal ketika mereka kembali ke keluarga dan masyarakat,” jelasnya.

Sebelum memasuki sesi praktik, kegiatan diawali dengan dzikir yang dipandu oleh Husein Ali, LC. Dzikir tersebut menjadi bagian dari penguatan spiritual sekaligus membantu menciptakan suasana yang tenang dan khidmat sebelum peserta menerima materi. Setelah itu, peserta mengikuti penyampaian materi dan demonstrasi praktik fardhu kifayah yang dipandu oleh Sulaiman, S.Th.I.

Sulaiman menjelaskan materi secara bertahap dengan menguraikan berbagai hal yang perlu diketahui dalam pelaksanaan fardhu kifayah. Peserta tidak hanya diberikan penjelasan mengenai konsep dan kewajiban fardhu kifayah, tetapi juga diperlihatkan tahapan pelaksanaannya sehingga mereka dapat memahami proses secara lebih konkret. “Praktik ini kita lakukan agar peserta tidak hanya mengetahui fardhu kifayah dari sisi teori. Mereka kita ajak melihat dan memahami setiap tahapan secara langsung, sehingga ketika suatu saat dibutuhkan, mereka tidak merasa asing dan sudah memiliki gambaran mengenai apa yang harus dilakukan,” tutur Sulaiman.

Menurut Sulaiman, fardhu kifayah merupakan kewajiban bersama yang memiliki nilai sosial dan keagamaan yang sangat penting. Ketika ada seorang Muslim meninggal dunia, terdapat sejumlah kewajiban yang perlu dilakukan oleh umat Islam di sekitarnya. Karena itu, pengetahuan mengenai pengurusan jenazah perlu dimiliki oleh masyarakat agar kewajiban tersebut dapat dilaksanakan dengan baik, tertib, dan sesuai tuntunan agama.

“Fardhu kifayah adalah kewajiban bersama. Ketika ada saudara kita yang meninggal dunia, ada tanggung jawab umat untuk mengurusnya. Karena itu, kita perlu memahami tata caranya, mulai dari persiapan hingga tahapan pengurusan jenazah. Jangan sampai karena tidak memahami ilmunya, masyarakat justru kebingungan ketika menghadapi kondisi tersebut,” jelasnya.

Dalam praktik tersebut, peserta juga diberikan kesempatan untuk memperhatikan setiap tahapan yang diperagakan dan mengikuti arahan dari penyuluh. Pendekatan praktik dipilih agar proses pembelajaran lebih mudah dipahami dan memberikan pengalaman langsung kepada peserta. Interaksi antara penyuluh dan warga binaan juga berlangsung secara terbuka, sehingga peserta dapat menyampaikan pertanyaan terkait hal-hal yang belum dipahami.

Sulaiman mengatakan bahwa kegiatan praktik seperti ini penting untuk membangun keberanian dan kesiapan peserta dalam menjalankan kewajiban sosial di tengah masyarakat. “Kadang-kadang seseorang memahami bahwa fardhu kifayah itu wajib, tetapi belum tentu mengetahui bagaimana cara melaksanakannya. Karena itu, praktik menjadi penting. Kita ingin peserta memiliki pemahaman yang utuh, bukan hanya tahu istilahnya, tetapi juga memahami langkah-langkah yang harus dilakukan,” katanya.

Ia juga mengingatkan bahwa pembelajaran fardhu kifayah bukan semata-mata tentang keterampilan teknis mengurus jenazah, tetapi juga mengandung nilai kemanusiaan dan kepedulian terhadap sesama. Menurutnya, membantu mengurus jenazah merupakan bentuk penghormatan terakhir kepada seseorang yang telah meninggal sekaligus wujud kepedulian umat terhadap keluarga yang ditinggalkan.

“Di dalam fardhu kifayah ada nilai kepedulian yang sangat besar. Ketika ada saudara kita meninggal, kita hadir membantu keluarga yang sedang berduka. Kita memberikan penghormatan terakhir kepada almarhum atau almarhumah dan melaksanakan kewajiban agama secara bersama-sama. Jadi, materi ini juga mengajarkan kepada kita tentang kepedulian, kebersamaan, dan tanggung jawab sosial,” ungkap Sulaiman.

Kegiatan tersebut mendapat sambutan positif dari pihak LPKA Kelas I Medan yang terus mendukung pelaksanaan pembinaan keagamaan bagi warga binaan. Nunung Ismayanti menyampaikan apresiasi atas sinergi yang terjalin antara Penyuluh Agama Islam Kemenag Medan dan pihak LPKA. Menurutnya, dukungan dari berbagai pihak menjadi faktor penting dalam memastikan kegiatan pembinaan dapat berlangsung secara rutin dan memberikan manfaat bagi warga binaan.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada pihak LPKA yang terus memberikan ruang dan dukungan bagi pelaksanaan pembinaan keagamaan. Sinergi seperti ini sangat penting, karena pembinaan warga binaan membutuhkan keterlibatan banyak pihak. Kami berharap kerja sama ini dapat terus berjalan dan semakin banyak materi keagamaan yang dapat diberikan,” ujar Nunung.

Ia menambahkan bahwa keterlibatan penyuluh dari beberapa wilayah kerja menunjukkan adanya semangat bersama dalam memberikan pelayanan keagamaan. Menurutnya, kolaborasi tersebut dapat memperkaya materi pembinaan sekaligus memperkuat kehadiran penyuluh di tengah masyarakat, termasuk di lingkungan lembaga pembinaan.

“Teman-teman penyuluh dari beberapa wilayah hadir bersama-sama untuk memberikan pembinaan. Ini menunjukkan bahwa pelayanan keagamaan merupakan tanggung jawab bersama. Kita ingin memastikan bahwa warga binaan tetap mendapatkan pendampingan agama secara rutin dan memperoleh materi yang sesuai dengan kebutuhan mereka,” katanya.

Nunung berharap kegiatan pembinaan tidak berhenti pada satu materi atau satu kegiatan, tetapi dapat terus dikembangkan dengan materi keagamaan lainnya. Menurutnya, pembinaan yang berkelanjutan dapat membantu warga binaan membangun kebiasaan positif, memperkuat spiritualitas, dan mempersiapkan diri untuk kembali menjalani kehidupan di tengah keluarga serta masyarakat.

“Yang paling penting adalah kesinambungan. Jangan sampai setelah mendapatkan materi, kemudian berhenti begitu saja. Kita berharap warga binaan terus belajar, memperbaiki ibadah, memperkuat akhlak, dan memanfaatkan masa pembinaan ini untuk mempersiapkan diri menjadi pribadi yang lebih baik. Ketika nanti kembali ke masyarakat, mereka dapat membawa bekal ilmu dan pengalaman positif yang diperoleh selama berada di sini,” tutur Nunung.

Melalui kegiatan praktik fardhu kifayah tersebut, Penyuluh Agama Islam Kemenag Medan terus memperkuat pembinaan keagamaan yang bersifat edukatif, aplikatif, dan menyentuh kebutuhan warga binaan. Kegiatan tersebut tidak hanya memberikan pengetahuan mengenai kewajiban umat Islam dalam pengurusan jenazah, tetapi juga menanamkan nilai kepedulian, tanggung jawab, kebersamaan, dan penghormatan terhadap sesama. Pembinaan semacam ini diharapkan dapat memberikan bekal spiritual sekaligus keterampilan keagamaan yang bermanfaat bagi peserta.

Nunung Ismayanti berharap warga binaan dapat mengikuti setiap kegiatan pembinaan dengan sungguh-sungguh dan menjadikan ilmu yang diperoleh sebagai bagian dari proses memperbaiki diri. Ia juga mengajak para peserta untuk tidak menyia-nyiakan kesempatan belajar selama menjalani masa pembinaan. “Manfaatkan setiap kesempatan untuk belajar dan memperbaiki diri. Jadikan ilmu agama sebagai bekal untuk kehidupan ke depan. Mudah-mudahan apa yang kita pelajari hari ini dapat menjadi amal yang bermanfaat dan membawa perubahan positif bagi diri sendiri, keluarga, serta masyarakat ketika nanti kembali ke lingkungan masing-masing,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *