Penyuluh Agama Islam Kemenag Medan Sampaikan 4 Kunci Ketenangan dan Kebahagiaan Sejati

Medan (Humas) — Upaya memberikan penguatan pemahaman dan pengamalan nilai-nilai keislaman kepada masyarakat terus dilakukan Kementerian Agama Kota Medan melalui kegiatan Bimbingan dan Penyuluhan Agama Islam (Bimluh). Salah satunya dilaksanakan oleh Penyuluh Agama Islam Kemenag Medan, H. Abdullah Hakim, bersama jamaah MT Amal Setia, Sabtu (29/8/2026), dengan mengangkat tema “4 Kunci Ketenangan dan Kebahagiaan Sejati”. Kegiatan tersebut menjadi ruang bagi jamaah untuk merefleksikan makna kebahagiaan sekaligus memahami bahwa ketenangan batin tidak semata-mata ditentukan oleh keadaan duniawi, tetapi sangat berkaitan dengan kualitas hubungan manusia dengan Allah SWT.

Dalam bimbingannya, Abdullah Hakim menjelaskan bahwa setiap manusia tentu menginginkan kehidupan yang tenang dan bahagia. Namun, kebahagiaan sering kali dipahami hanya dari sisi materi, seperti memiliki harta yang cukup, jabatan yang baik, rumah yang nyaman, atau berbagai kesenangan dunia lainnya. Padahal, menurutnya, semua hal tersebut bersifat sementara dan tidak selalu mampu memberikan ketenangan apabila hati tidak memiliki pegangan spiritual yang kuat.

“Kita sering berpikir bahwa kalau memiliki banyak harta, hidup kita pasti bahagia. Kalau memiliki jabatan, kita merasa akan tenang. Padahal, tidak sedikit orang yang memiliki banyak secara duniawi tetapi hatinya tetap gelisah. Ketenangan sejati bukan karena hidup kita tanpa masalah, tetapi karena hati memiliki Allah sebagai tempat bersandar dalam setiap keadaan,” ujar Abdullah Hakim.

Ia menyampaikan bahwa seseorang yang dekat dengan Allah SWT akan memiliki kekuatan batin untuk menghadapi berbagai dinamika kehidupan. Kedekatan tersebut dapat dibangun melalui ibadah, doa, zikir, membaca Al-Qur’an, serta membiasakan diri mengingat Allah dalam setiap keadaan. Menurutnya, zikir bukan sekadar aktivitas lisan, tetapi juga menjadi cara untuk menghadirkan kesadaran bahwa manusia memiliki Allah SWT yang senantiasa menjadi tempat memohon pertolongan.

“Ketika hati kita dekat dengan Allah, masalah yang besar sekalipun akan kita hadapi dengan cara yang berbeda. Bukan berarti masalah langsung hilang, tetapi kita memiliki kekuatan untuk menghadapinya. Karena itu, biasakan hati untuk selalu mengingat Allah, terutama ketika kita sedang menghadapi kesulitan maupun ketika mendapatkan kebahagiaan,” jelasnya.

Dalam materi tersebut, Abdullah Hakim menyampaikan empat kunci yang dapat menjadi landasan bagi seseorang untuk memperoleh ketenangan dan kebahagiaan sejati. Keempat kunci tersebut adalah memperkuat iman dan memperbanyak zikir kepada Allah SWT, senantiasa bersyukur atas setiap nikmat, bersabar dalam menghadapi ujian dan menerima ketentuan Allah, serta memperbanyak amal saleh dan berbuat baik kepada sesama. Menurutnya, keempat hal tersebut saling berkaitan dan perlu diterapkan secara konsisten agar memberikan pengaruh terhadap ketenangan hati.

“Empat kunci ini sebenarnya sederhana, tetapi membutuhkan konsistensi. Pertama, dekatkan diri kepada Allah dengan iman dan zikir. Kedua, belajar bersyukur atas apa yang kita miliki. Ketiga, bersabar ketika menghadapi ujian dan menerima ketentuan Allah. Keempat, perbanyak amal saleh dan berbuat baik kepada sesama. Kalau empat hal ini kita biasakan, insyaallah hati kita akan lebih kuat dan kehidupan kita akan terasa lebih bermakna,” tutur Abdullah.

Kunci pertama adalah memperkuat iman dan memperbanyak zikir kepada Allah SWT. Abdullah menjelaskan bahwa hati manusia mudah berubah dan dipengaruhi oleh berbagai keadaan, sehingga membutuhkan pegangan yang kuat. Dengan memperbanyak mengingat Allah, seseorang dapat menjaga ketenangan batin dan tidak mudah terbawa oleh kecemasan maupun kekhawatiran yang berlebihan. Ia mengajak jamaah membangun kebiasaan berzikir tidak hanya ketika berada di masjid atau majelis, tetapi juga dalam aktivitas sehari-hari.

“Jangan hanya mengingat Allah ketika sedang susah. Ketika mendapatkan rezeki, sehat, keluarga dalam keadaan baik, dan segala sesuatu berjalan sesuai harapan, kita juga harus mengingat Allah dan bersyukur. Zikir dan doa hendaknya menjadi bagian dari kehidupan kita, sehingga hati memiliki hubungan yang kuat dengan Allah dalam kondisi apa pun,” katanya.

Kunci kedua adalah bersyukur. Menurut Abdullah, rasa syukur akan membuat seseorang mampu melihat berbagai nikmat yang sering kali tidak disadari. Banyak orang terlalu fokus pada apa yang belum dimiliki sehingga lupa mensyukuri kesehatan, keluarga, kesempatan hidup, rezeki, dan berbagai nikmat kecil yang hadir setiap hari. Padahal, kemampuan untuk menghargai nikmat yang ada merupakan salah satu jalan untuk menghadirkan kebahagiaan dalam hati.

“Syukur bukan berarti kita tidak boleh memiliki keinginan atau cita-cita. Kita tetap boleh berusaha mendapatkan kehidupan yang lebih baik, tetapi jangan sampai keinginan terhadap sesuatu membuat kita lupa dengan nikmat yang sudah ada. Lihat apa yang Allah berikan kepada kita hari ini, maka kita akan menemukan begitu banyak alasan untuk bersyukur,” ungkapnya.

Ia menambahkan bahwa rasa syukur juga perlu diwujudkan dalam bentuk tindakan. Bersyukur atas kesehatan dapat diwujudkan dengan menjaga tubuh dan menggunakan kesehatan untuk melakukan kebaikan, sementara bersyukur atas rezeki dapat dilakukan dengan berbagi kepada orang yang membutuhkan. Begitu pula bersyukur atas keluarga dapat diwujudkan dengan menjaga hubungan, memberikan perhatian, dan menjalankan tanggung jawab dengan sebaik-baiknya.

“Syukur jangan berhenti di lisan. Kalau Allah memberikan kita rezeki, gunakan sebagian untuk berbagi. Kalau Allah memberikan kesehatan, gunakan untuk beribadah dan membantu orang lain. Kalau Allah memberikan keluarga, rawat dan jaga mereka dengan baik. Dengan begitu, rasa syukur kita menjadi nyata dalam kehidupan,” jelas Abdullah.

Kunci ketiga adalah sabar dalam menghadapi ujian dan menerima ketentuan Allah SWT. Abdullah mengingatkan jamaah bahwa kehidupan tidak selamanya berjalan sesuai dengan keinginan manusia. Ada saatnya seseorang mendapatkan kemudahan, tetapi ada pula saat menghadapi kesulitan, kehilangan, kekecewaan, atau berbagai ujian lainnya. Dalam kondisi tersebut, kesabaran menjadi salah satu kekuatan penting agar seseorang tidak mudah berputus asa.

“Ujian bukan berarti Allah tidak sayang kepada kita. Setiap orang memiliki bentuk ujian masing-masing. Yang membedakan adalah bagaimana kita menyikapinya. Ketika kita bersabar, tetap berdoa, tetap berusaha, dan percaya kepada Allah, maka ujian tersebut dapat menjadi jalan bagi kita untuk menjadi pribadi yang lebih kuat dan lebih dekat kepada-Nya,” tutur Abdullah.

Ia juga mengingatkan jamaah untuk tidak terlalu larut dalam kesedihan ketika menghadapi persoalan. Menurutnya, manusia tetap harus berusaha mencari solusi, tetapi pada saat yang sama perlu menyerahkan hasilnya kepada Allah SWT. Sikap tersebut akan membantu seseorang menjalani kehidupan dengan lebih tenang karena memahami bahwa tidak semua hal dapat dikendalikan oleh manusia.

“Tidak semua yang kita inginkan harus terjadi sesuai dengan rencana kita. Ada hal-hal yang berada di luar kemampuan kita. Tugas kita adalah berusaha sebaik mungkin, berdoa, kemudian bertawakal kepada Allah. Jangan biarkan sesuatu yang tidak bisa kita ubah menghancurkan ketenangan hati kita,” katanya.

Kunci keempat adalah memperbanyak amal saleh dan berbuat baik kepada sesama. Abdullah menjelaskan bahwa kebahagiaan tidak hanya diperoleh ketika seseorang menerima sesuatu dari orang lain, tetapi juga ketika mampu memberikan manfaat. Berbuat baik, membantu sesama, bersedekah, menjaga silaturahmi, memberikan nasihat yang baik, dan meringankan beban orang lain merupakan bentuk amal yang dapat memberikan ketenangan bagi hati.

“Kadang-kadang kita mencari kebahagiaan dengan terus bertanya apa yang bisa kita dapatkan. Cobalah sesekali bertanya, apa yang bisa kita berikan kepada orang lain. Ketika kita membantu seseorang, membuat orang lain tersenyum, meringankan beban saudara kita, atau memberikan manfaat melalui kemampuan yang kita miliki, ada kebahagiaan tersendiri yang tumbuh di dalam hati,” jelasnya.

Dalam kegiatan tersebut, Abdullah Hakim juga mengajak jamaah untuk tidak membandingkan kehidupan mereka dengan kehidupan orang lain. Menurutnya, kebiasaan membandingkan diri dapat membuat seseorang lupa terhadap nikmat yang dimiliki dan terus merasa kurang. Setiap manusia memiliki perjalanan, rezeki, ujian, dan waktu yang berbeda sehingga yang terpenting adalah menjalani kehidupan dengan penuh syukur serta terus berusaha menjadi lebih baik.

“Jangan terlalu sibuk melihat kehidupan orang lain sampai kita lupa mensyukuri kehidupan sendiri. Apa yang terlihat dari luar belum tentu menggambarkan seluruh keadaan seseorang. Allah memberikan jalan yang berbeda kepada setiap hamba-Nya. Fokuslah memperbaiki diri, memperkuat hubungan dengan Allah, dan gunakan apa yang kita miliki untuk melakukan kebaikan,” ungkap Abdullah.

Ia menekankan bahwa ketenangan dan kebahagiaan sejati bukan berarti seseorang tidak pernah menangis, kecewa, atau menghadapi masalah. Ketenangan justru terlihat dari kemampuan seseorang untuk tetap memiliki harapan dan tidak kehilangan arah ketika menghadapi keadaan yang sulit. Dengan iman, syukur, sabar, dan amal saleh, seseorang akan memiliki bekal spiritual untuk menghadapi berbagai keadaan kehidupan.

“Orang yang tenang bukan berarti tidak pernah memiliki masalah. Orang yang tenang adalah orang yang ketika masalah datang, ia tahu kepada siapa harus mengadu. Ketika mendapatkan nikmat, ia tahu kepada siapa harus bersyukur. Ketika diuji, ia tahu bagaimana bersabar. Dan ketika memiliki kelebihan, ia tahu bahwa ada hak orang lain yang perlu dibantu,” tutur Abdullah.

Sebagai Penyuluh Agama Islam, Abdullah Hakim berharap kegiatan Bimluh dapat menjadi ruang bagi jamaah untuk terus meningkatkan pemahaman sekaligus pengamalan nilai-nilai Islam. Menurutnya, materi keagamaan akan memberikan manfaat yang lebih besar apabila diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dan menjadi kebiasaan yang membentuk karakter. Ia juga mengajak jamaah untuk menjadikan empat kunci tersebut sebagai pengingat dalam menjalani kehidupan, baik ketika menghadapi kesulitan maupun saat memperoleh kebahagiaan.

“Jangan hanya memahami empat kunci ini sebagai materi yang kita dengarkan hari ini. Mari kita jadikan sebagai kebiasaan. Ketika bangun tidur, ingat Allah dan bersyukur. Ketika mendapat ujian, bersabar dan berdoa. Ketika mendapatkan nikmat, bersyukur. Dan setiap kali memiliki kesempatan untuk berbuat baik, lakukan. Insyaallah hati kita akan lebih tenang dan hidup kita lebih bermakna,” katanya.

Kegiatan Bimluh bersama jamaah MT Amal Setia berlangsung dengan khidmat dan penuh antusias. Melalui pembinaan tersebut, jamaah mendapatkan penguatan spiritual untuk menghadapi dinamika kehidupan dengan iman yang lebih kuat, hati yang penuh syukur, kesabaran dalam menghadapi ujian, serta kepedulian terhadap sesama. Kehadiran Penyuluh Agama Islam Kemenag Medan di tengah masyarakat menjadi bagian dari upaya menghadirkan pembinaan keagamaan yang tidak hanya memberikan pemahaman, tetapi juga mendorong perubahan positif dalam kehidupan umat.

Abdullah Hakim berharap jamaah dapat terus menjaga kedekatan dengan Allah SWT dan menjadikan nilai-nilai yang disampaikan sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Ia mengajak jamaah untuk tidak mengejar kebahagiaan hanya melalui pencapaian duniawi, tetapi membangun kebahagiaan dari hati yang dekat kepada Allah dan kehidupan yang dipenuhi amal kebaikan. “Semoga kita semua senantiasa diberikan hati yang tenang, iman yang kuat, kemampuan untuk bersyukur atas setiap nikmat, kesabaran dalam menghadapi setiap ujian, serta keistiqamahan untuk terus berbuat baik. Karena kebahagiaan sejati bukan hanya tentang apa yang kita miliki, tetapi tentang bagaimana kita menjalani kehidupan dengan ridha Allah SWT dan memberikan manfaat kepada sesama,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *