Penyuluh Agama Katolik Kemenag Medan Audiensi dengan PTKI Medan, Bahas Moderasi dan Pembinaan Karakter Mahasiswa

Medan (Humas) — Penyuluh Agama Katolik Kementerian Agama Kota Medan, Ricardo Simamora, melaksanakan audiensi dengan pimpinan dan perwakilan mahasiswa Katolik Politeknik Teknologi Kimia Industri (PTKI) Medan, Selasa (01/09/2026). Audiensi yang berlangsung pukul 10.00 WIB tersebut menjadi momentum untuk membangun komunikasi sekaligus memperkuat sinergi dalam pelaksanaan pembinaan keagamaan bagi mahasiswa Katolik di lingkungan perguruan tinggi. Pertemuan ini juga membahas berbagai bentuk pendampingan yang dapat dilakukan secara berkelanjutan untuk mendukung pembentukan karakter dan kehidupan spiritual mahasiswa.

Kedatangan Ricardo disambut oleh Dekan Kemahasiswaan bersama perwakilan mahasiswa Katolik PTKI Medan. Pertemuan berlangsung di lingkungan kampus yang beralamat di Jalan Panglima Denai No. 81B, Kelurahan Medan Tenggara, Kecamatan Medan Amplas, Kota Medan, Sumatera Utara. Suasana audiensi berlangsung dalam dialog yang terbuka dan konstruktif, dengan membahas kebutuhan pembinaan mahasiswa serta peluang kerja sama antara Kementerian Agama Kota Medan dan pihak perguruan tinggi.

Dalam audiensi tersebut, Ricardo menyampaikan sejumlah program pendampingan yang dapat dikembangkan di lingkungan kampus, khususnya bagi mahasiswa Katolik. Program tersebut antara lain penguatan moderasi beragama, pencegahan paham radikalisme dan ekstremisme, pembinaan karakter, serta pengembangan mental dan spiritual mahasiswa. Menurutnya, pembinaan tersebut penting dilakukan secara konsisten agar mahasiswa tidak hanya memiliki kompetensi akademik, tetapi juga memiliki kepribadian yang kuat, bertanggung jawab, serta mampu membangun hubungan yang harmonis di tengah masyarakat yang majemuk.

Ricardo menjelaskan bahwa mahasiswa merupakan bagian penting dari generasi muda yang akan mengambil peran dalam berbagai bidang kehidupan masyarakat. Karena itu, pemahaman tentang moderasi beragama perlu ditanamkan agar mahasiswa mampu menyikapi perbedaan secara bijaksana, menghargai keberagaman, serta menghindari sikap eksklusif yang dapat memicu konflik. “Mahasiswa hidup dan berkembang di tengah masyarakat yang sangat beragam. Moderasi beragama menjadi bekal penting agar mereka mampu menghargai perbedaan, membangun dialog, dan tetap memegang teguh nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Ricardo.

Ia menambahkan, pembinaan karakter juga menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari pendampingan keagamaan mahasiswa. Menurut Ricardo, pendidikan karakter perlu diarahkan pada pembentukan pribadi yang memiliki integritas, disiplin, kepedulian, tanggung jawab, dan kemampuan untuk mengambil keputusan secara bijaksana. “Kami ingin membangun sinergi dengan kampus dalam mendampingi mahasiswa Katolik, terutama dalam penguatan karakter, moderasi beragama, serta ketahanan mental dan spiritual. Pendampingan ini diharapkan dapat membantu mahasiswa menghadapi tantangan akademik maupun kehidupan sosial dengan tetap berpegang pada nilai-nilai iman dan kemanusiaan,” ungkapnya.

Selain pembinaan karakter dan moderasi beragama, Ricardo turut menekankan pentingnya penguatan mental dan spiritual mahasiswa. Menurutnya, kehidupan perguruan tinggi memiliki berbagai dinamika yang terkadang menuntut mahasiswa untuk mampu mengelola tekanan, mengambil keputusan, serta membangun relasi sosial secara sehat. Melalui pendampingan keagamaan yang dilakukan secara tepat dan berkelanjutan, mahasiswa diharapkan memiliki ketahanan diri serta mampu menjadikan nilai-nilai spiritual sebagai landasan dalam menjalani proses pendidikan dan kehidupan.

Pihak PTKI Medan menyambut positif gagasan kerja sama yang disampaikan Penyuluh Agama Katolik Kemenag Kota Medan tersebut. Perwakilan kampus mengapresiasi inisiatif tersebut karena dinilai dapat memperkuat peran perguruan tinggi dalam mendukung pembentukan karakter dan mental mahasiswa, khususnya mahasiswa Katolik. Kolaborasi dengan Kementerian Agama diharapkan dapat membuka ruang bagi berbagai kegiatan pembinaan, diskusi keagamaan, pendampingan spiritual, serta program penguatan moderasi beragama di lingkungan kampus.

Ricardo berharap audiensi tersebut tidak berhenti pada pertemuan awal, tetapi dapat ditindaklanjuti melalui program-program konkret yang memberikan manfaat bagi mahasiswa. Ia menilai komunikasi dan koordinasi antara penyuluh agama dengan pihak perguruan tinggi perlu terus dibangun agar pembinaan keagamaan dapat disesuaikan dengan kebutuhan generasi muda. “Kami berharap pertemuan ini menjadi awal dari kerja sama yang lebih konkret dan berkelanjutan. Dengan sinergi antara Kemenag, perguruan tinggi, dan mahasiswa, kita dapat bersama-sama membentuk generasi muda yang berkarakter, moderat, memiliki ketahanan mental dan spiritual, serta mampu memberikan kontribusi positif bagi masyarakat,” pungkasnya.

Melalui audiensi tersebut, Penyuluh Agama Katolik Kementerian Agama Kota Medan terus mendorong penguatan layanan dan pendampingan keagamaan di lingkungan perguruan tinggi. Sinergi dengan PTKI Medan diharapkan menjadi langkah positif dalam menghadirkan pembinaan yang tidak hanya menyentuh aspek keagamaan, tetapi juga karakter, mental, spiritual, dan kemampuan mahasiswa untuk hidup berdampingan secara harmonis dalam keberagaman.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *