PAI KUA Medan Denai Ajak Majelis Taklim An Nisa Menemukan Jalan Kebahagiaan

Medan Denai (Humas) — Penyuluh Agama Islam (PAI) KUA Kecamatan Medan Denai, Khoiruz Zaman, mengajak jamaah Majelis Taklim (MT) An Nisa memahami bahwa kebahagiaan tidak semata-mata diukur dari banyaknya harta, kedudukan, maupun kemudahan hidup. Kebahagiaan juga tumbuh dari kecintaan kepada Rasulullah, kepedulian kepada sesama, serta kedekatan kepada Allah SWT melalui doa dan ibadah.

Pesan tersebut disampaikan Khoiruz Zaman saat melaksanakan Bimbingan dan Penyuluhan (Bimluh) kepada jamaah MT An Nisa di Masjid Muttaqin, Jalan Seksama, Gang Raja Aceh, Medan, Kamis (17/9/2026). Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 14.30 WIB hingga menjelang salat Asar tersebut digelar di kediaman Dwi Agustina selaku tuan rumah, dengan acara dibuka Ketua MT An Nisa, Hj. Rusni Purba, dan doa dipimpin Penyuluh Agama Islam, Syaiful Akhyar.

Dalam penyuluhannya, Khoiruz Zaman mengupas nasihat ulama mengenai empat golongan yang terhalang dari kebahagiaan. Keempatnya berkaitan dengan sikap terhadap Rasulullah SAW, penghormatan terhadap azan dan muazin, kepedulian kepada sesama, serta kebiasaan berdoa setelah melaksanakan salat.

Pertama, Khoiruz Zaman mengingatkan pentingnya memperbanyak selawat sebagai salah satu bentuk kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW. Menurutnya, selawat merupakan amalan yang ringan dilakukan, tetapi memiliki keutamaan besar. Ia mengajak jamaah membiasakan lisan berselawat ketika nama Rasulullah SAW disebut sekaligus mewujudkan kecintaan tersebut dengan menghormati dan mengikuti tuntunan beliau dalam kehidupan sehari-hari.

Selanjutnya, ia mengajak jamaah menghormati azan dan orang yang mengumandangkannya. Menurutnya, azan bukan sekadar penanda masuknya waktu salat, tetapi merupakan panggilan menuju ibadah dan keberuntungan. “Ketika azan berkumandang, sesungguhnya kita sedang dipanggil menuju salat dan keberuntungan. Karena itu, mari kita hormati azan dan para muazin yang menyerukan panggilan tersebut,” pesannya.

Materi kemudian berlanjut pada pentingnya membantu orang lain dalam kebaikan. Khoiruz Zaman menjelaskan bahwa pertolongan tidak selalu harus berupa materi, tetapi dapat diwujudkan melalui tenaga, ilmu, informasi, nasihat, maupun perhatian kepada orang yang membutuhkan. Ia mengingatkan jamaah agar tidak mudah berpaling ketika ada orang meminta bantuan dalam urusan yang baik dan mampu dilakukan.

“Kadang orang yang datang kepada kita bukan meminta uang. Bisa jadi ia hanya membutuhkan tenaga, informasi, ilmu atau nasihat. Jangan sampai pertolongan kecil yang sebenarnya mampu kita berikan justru kita abaikan,” ungkapnya. Namun demikian, ia menegaskan bahwa prinsip tolong-menolong harus ditempatkan dalam kebaikan dan ketakwaan, bukan untuk membantu perbuatan dosa, kezaliman, penipuan, atau sesuatu yang bertentangan dengan ajaran agama.

Pada bagian terakhir, Khoiruz Zaman mengajak jamaah membangun kebiasaan berdoa, bukan hanya untuk kepentingan diri sendiri, tetapi juga bagi keluarga, orang tua, guru, tetangga, sahabat, dan sesama umat Islam. Menurutnya, kemampuan mendoakan orang lain merupakan bagian dari kepedulian seorang mukmin. “Jangan pelit dalam berdoa. Doakan orang tua, keluarga, guru, tetangga, saudara yang sedang sakit, mereka yang sedang mengalami kesulitan, dan seluruh kaum Muslimin,” ajaknya.

Bimluh berlangsung secara interaktif. Jamaah diberikan kesempatan menyampaikan tanggapan dan merespons materi yang disampaikan, sehingga pembahasan tidak berlangsung satu arah dan dapat dikaitkan dengan berbagai persoalan yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari. Salah seorang jamaah, Rani Sembiring, mengaku senang mengikuti kegiatan tersebut karena materi yang disampaikan mudah dipahami dan memiliki kaitan erat dengan kehidupan sehari-hari.

Menanggapi pelaksanaan kegiatan tersebut, Kepala KUA Kecamatan Medan Denai, Drs. H. Ahmat Yani Siregar, MA, menyampaikan bahwa Bimluh di majelis taklim merupakan bagian penting dalam memperkuat pemahaman dan pengamalan nilai-nilai keagamaan masyarakat. Menurutnya, materi keagamaan yang disampaikan kepada jamaah hendaknya tidak berhenti pada pemahaman, tetapi dapat mendorong perubahan sikap dan kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari.

“Pembinaan keagamaan di majelis taklim harus mampu menjadi ruang untuk mengajak masyarakat melakukan muhasabah dan memperbaiki diri. Nilai-nilai yang disampaikan penyuluh diharapkan dapat diterapkan dalam hubungan dengan Allah SWT sekaligus dalam hubungan dengan sesama manusia,” ujarnya.

Ia juga mengapresiasi pelaksanaan Bimluh yang berlangsung secara interaktif karena memberikan ruang kepada jamaah untuk bertanya, menyampaikan pengalaman, dan menghubungkan materi dengan kondisi kehidupan mereka. Menurutnya, pendekatan seperti itu membuat pembinaan keagamaan lebih dekat dengan kebutuhan masyarakat.

Kegiatan kemudian ditutup dengan doa dan persiapan menuju salat Asar. Melalui kegiatan tersebut, PAI KUA Kecamatan Medan Denai terus mendorong majelis taklim menjadi ruang pembinaan keagamaan yang tidak hanya memperkuat pemahaman agama, tetapi juga menumbuhkan akhlak, kepedulian, dan kebersamaan di tengah masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *