Empat Hal yang Pasti Terlepas dari Manusia, PAI KUA Medan Denai Ajak Jamaah Muhasabah

Medan (Humas) — Kehidupan dunia yang bersifat sementara menjadi pengingat bagi setiap manusia untuk mempersiapkan bekal kehidupan setelah kematian. Pesan tersebut disampaikan Penyuluh Agama Islam (PAI) KUA Kecamatan Medan Denai, Khoiruz Zaman, saat memberikan Bimbingan dan Penyuluhan (Bimluh) kepada jamaah Majelis Taklim (MT) Al Munawwaroh di Masjid Al Munawwaroh, Jalan Tangguk Bongkar 10, Kelurahan Tegal Sari Mandala II, Kecamatan Medan Denai, Rabu (16/9/2026).

Dalam kegiatan yang berlangsung selepas Zuhur hingga menjelang Asar dan diikuti puluhan jamaah tersebut, Khoiruz Zaman mengajak jamaah melakukan muhasabah melalui pembahasan mengenai empat hal yang pada akhirnya akan terlepas dari setiap manusia, yakni ruh, harta, jasad, dan amal. Materi disampaikan secara interaktif sehingga jamaah tidak hanya mendengarkan tausyiah, tetapi juga diajak menghubungkan pesan keagamaan dengan kehidupan sehari-hari.

Kegiatan diawali dengan dipandu protokol Vina Lestri dan dilanjutkan sambutan Ketua MT Al Munawwaroh, Hj. Mariani. Suasana kemudian semakin hidup ketika memasuki sesi tausyiah yang disampaikan Khoiruz Zaman dengan pendekatan yang komunikatif dan mengajak jamaah untuk merenungkan kembali apa yang selama ini menjadi perhatian dalam kehidupan.

Dalam tausyiahnya, Khoiruz Zaman mengingatkan bahwa manusia sering kali merasa memiliki banyak hal, mulai dari harta, kedudukan, kesehatan hingga tubuh yang dirawat setiap hari. Namun, seluruhnya memiliki batas dan pada waktunya akan terlepas dari manusia.

“Cepat atau lambat, ada empat hal yang pasti akan terlepas dari kita: ruh akan diambil oleh Malaikat Maut, harta akan berpindah kepada ahli waris, jasad akan mengalami kehancuran, dan amal kita dapat berkurang karena kezhaliman kepada sesama,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa kematian merupakan ketetapan Allah yang tidak dapat ditolak oleh siapa pun. Ketika ajal tiba, manusia tidak lagi memiliki kuasa untuk mempertahankan kehidupan, seberapa besar pun kekayaan, jabatan, maupun kekuatan yang dimiliki. Demikian pula dengan harta yang selama hidup dikumpulkan melalui kerja keras. Ketika seseorang meninggal dunia, harta tersebut tidak dibawa ke dalam kubur, melainkan menjadi peninggalan bagi ahli waris sesuai ketentuan yang berlaku.

“Yang kita bawa bukanlah harta yang kita kumpulkan, tetapi apa yang kita persiapkan untuk kehidupan setelah kematian,” katanya.

Lebih lanjut, Khoiruz Zaman mengingatkan bahwa jasad manusia yang selama hidup dirawat dan dijaga juga akan mengalami proses alamiah setelah kematian. Karena itu, menurutnya, hal yang perlu mendapat perhatian lebih adalah bagaimana seseorang mempersiapkan amal sekaligus menjaga hubungan baik dengan sesama manusia.

Ia menjelaskan bahwa seseorang dapat memiliki banyak amal ibadah, tetapi perbuatan zalim terhadap orang lain, mengambil hak, menyakiti, merendahkan kehormatan, maupun merugikan sesama dapat menjadi persoalan yang harus dipertanggungjawabkan. Oleh sebab itu, ibadah kepada Allah perlu berjalan seiring dengan upaya menjaga hak dan kehormatan orang lain.

“Jangan sampai kita rajin beribadah, tetapi pada saat yang sama masih membawa persoalan dengan manusia. Hak manusia harus diselesaikan. Karena itu, mari kita jaga lisan, perbuatan, dan sikap kita terhadap orang lain,” pesannya.

Menanggapi kegiatan tersebut, Kepala KUA Kecamatan Medan Denai, Drs. H. Ahmat Yani Siregar, MA., menyampaikan bahwa Bimluh menjadi salah satu sarana penting bagi Penyuluh Agama Islam untuk membantu masyarakat memperkuat pemahaman dan pengamalan nilai-nilai agama. Menurutnya, materi yang disampaikan kepada jamaah hendaknya tidak berhenti sebagai pengetahuan, tetapi dapat menjadi bahan introspeksi dalam kehidupan sehari-hari.

“Penyuluhan agama di tengah masyarakat diharapkan dapat memberikan penguatan sekaligus mengajak jamaah melakukan evaluasi terhadap kehidupan masing-masing. Nilai-nilai agama akan semakin bermakna a

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *