Podcast IKMA Channel Episode ke-43 Angkat PORSADIN, KUA Medan Amplas Dorong Generasi Qurani Berakhlak dan Berprestasi

Medan Amplas (Humas) — Komitmen menghadirkan dakwah yang edukatif, inovatif, dan adaptif terhadap perkembangan zaman terus diwujudkan Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Medan Amplas melalui Podcast IKMA Channel (Informasi Keagamaan Medan Amplas). Memasuki episode ke-43, podcast ini mengangkat tema “PORSADIN: Membangun Generasi Qurani yang Berakhlak, Berprestasi, dan Berdaya Saing” sebagai sarana edukasi publik untuk memperkuat perhatian terhadap pendidikan keagamaan dan pembentukan karakter generasi muda, Selasa (20/10/2026).

Podcast IKMA Channel merupakan salah satu inovasi KUA Kecamatan Medan Amplas sebagai KUA Inspiratif yang digagas oleh Kepala KUA Medan Amplas, H. Muhammad Lukman Hakim Hasibuan, S.Ag., M.A. Dalam pelaksanaannya, Dr. Syarto Syarif, Lc., M.A., bertindak sebagai koordinator, sedangkan Muhyiddin Nasution bertugas sebagai videografer. Melalui pemanfaatan media digital, pesan-pesan keagamaan diharapkan dapat menjangkau masyarakat secara lebih luas, terutama generasi muda yang akrab dengan perkembangan teknologi informasi.

Pada episode kali ini, Podcast IKMA Channel menghadirkan H. Ahmad Faisal Nasution, S.Ag., M.HI., dari Seksi Pendidikan Agama dan Keagamaan Islam sebagai narasumber. Dialog dipandu oleh H. Harun Arrasyid, Lc., M.A., Penyuluh Agama Islam KUA Kecamatan Medan Amplas. Pembahasan dikemas dalam tujuh segmen untuk mengulas PORSADIN secara sistematis, mulai dari tujuan penyelenggaraan hingga peran berbagai pihak dalam membentuk generasi Qurani yang unggul dan berkarakter.

Kepala KUA Kecamatan Medan Amplas, H. Muhammad Lukman Hakim Hasibuan menyampaikan bahwa pemanfaatan media digital merupakan salah satu langkah inovatif untuk memperluas jangkauan dakwah dan pelayanan informasi keagamaan kepada masyarakat. Menurutnya, perkembangan teknologi perlu dimanfaatkan untuk menghadirkan edukasi keagamaan yang menarik, mudah diakses, dan relevan dengan kebutuhan generasi muda.

“Melalui Podcast IKMA Channel, kita ingin menghadirkan dakwah yang tidak hanya informatif, tetapi juga edukatif dan inspiratif. Tema PORSADIN ini penting karena pendidikan agama harus berjalan beriringan dengan pengembangan bakat, prestasi, dan pembentukan akhlak generasi muda. Kita berharap media digital dapat menjadi sarana untuk menanamkan nilai-nilai Alquran sekaligus mendorong lahirnya generasi yang berakhlak mulia, percaya diri, dan mampu bersaing secara sehat,” ujar H. Muhammad Lukman Hakim Hasibuan.

Tujuh Segmen, Satu Tujuan: Membangun Generasi Qurani

Dialog diawali dengan segmen pembukaan dan pengantar tema yang memperkenalkan Pekan Olahraga dan Seni Antar-Diniyah (PORSADIN) sebagai salah satu sarana pembinaan santri diniyah melalui kegiatan pendidikan, olahraga, dan seni. Pembahasan kemudian berlanjut pada makna dan tujuan PORSADIN, termasuk perannya dalam memberikan ruang bagi santri untuk mengembangkan potensi, menumbuhkan rasa percaya diri, serta menunjukkan kemampuan terbaiknya.

Dalam pemaparannya, H. Ahmad Faisal Nasution menjelaskan bahwa PORSADIN memiliki peran penting dalam mendukung pembinaan santri diniyah. Kegiatan ini tidak hanya memberikan kesempatan kepada santri untuk berkompetisi dalam bidang olahraga dan seni, tetapi juga menjadi sarana mengembangkan potensi, melatih kedisiplinan, membangun sportivitas, serta memperkuat kebersamaan.

“PORSADIN hendaknya tidak hanya dipandang sebagai ajang untuk meraih kemenangan, tetapi juga sebagai proses pembinaan karakter bagi para santri. Melalui kegiatan ini, santri belajar tentang kerja keras, kedisiplinan, kejujuran, sportivitas, dan tanggung jawab. Prestasi tentu penting, tetapi pembentukan akhlak dan kecintaan terhadap nilai-nilai Alquran harus tetap menjadi landasan utama dalam setiap proses pendidikan,” ungkap H. Ahmad Faisal Nasution.

Pada segmen berikutnya, diskusi berfokus pada upaya membangun generasi Qurani yang berakhlak mulia. Pendidikan Alquran tidak cukup berhenti pada kemampuan membaca dan memahami teks, tetapi harus tercermin dalam perilaku sehari-hari. Kejujuran, kedisiplinan, tanggung jawab, penghormatan kepada guru dan orang tua, serta kepedulian terhadap sesama merupakan nilai penting yang perlu ditanamkan melalui proses pendidikan dan pembinaan berkelanjutan.

Pembahasan selanjutnya mengangkat aspek prestasi dan daya saing di era modern. Santri diharapkan mampu memadukan penguatan nilai-nilai keagamaan dengan penguasaan pengetahuan, keterampilan, kreativitas, dan kemampuan beradaptasi terhadap perkembangan teknologi. Dengan demikian, keberhasilan tidak hanya diukur dari kemenangan dalam perlombaan, tetapi juga dari proses belajar, ketekunan, sportivitas, dan kematangan karakter yang terbentuk selama mengikuti pembinaan.

Segmen kelima membahas PORSADIN dan tantangan generasi muda di tengah derasnya arus informasi serta perubahan sosial. Pembinaan santri membutuhkan pendekatan yang relevan dengan perkembangan zaman agar mereka mampu menghadapi tantangan tanpa kehilangan jati diri dan nilai-nilai Islam. Melalui kegiatan yang positif, santri diharapkan dapat memperluas wawasan, membangun pergaulan yang sehat, dan mengembangkan semangat berkompetisi secara sportif.

Dialog juga menyoroti pentingnya peran pemerintah, guru, orang tua, dan masyarakat dalam mendukung keberhasilan pendidikan keagamaan. Sinergi berbagai pihak diperlukan agar pembinaan generasi Qurani tidak hanya berlangsung di lembaga pendidikan diniyah, tetapi juga berlanjut di lingkungan keluarga dan kehidupan bermasyarakat.

Pada segmen penutup, pembicaraan diarahkan pada pesan dan komitmen bersama untuk menjadikan PORSADIN sebagai bagian dari upaya berkelanjutan dalam melahirkan generasi yang mencintai Alquran, berakhlak mulia, berprestasi, dan mampu memberikan kontribusi positif bagi agama, bangsa, dan negara.

Lebih lanjut, pembinaan generasi Qurani membutuhkan dukungan bersama dari lembaga pendidikan diniyah, guru, orang tua, pemerintah, dan masyarakat. Lingkungan yang positif diharapkan dapat membantu santri mengembangkan kemampuan akademik maupun nonakademik tanpa mengabaikan adab dan akhlak. Dengan demikian, pendidikan agama dapat menjadi landasan dalam membentuk generasi yang tangguh dan mampu menghadapi tantangan zaman.

Podcast IKMA Channel Perkuat Dakwah Digital dan Edukasi Keagamaan

Pengembangan Podcast IKMA Channel menjadi bagian dari upaya KUA Kecamatan Medan Amplas dalam memanfaatkan teknologi digital sebagai sarana penyebaran informasi dan edukasi keagamaan. Format dialog memberikan kesempatan kepada narasumber untuk menyampaikan gagasan secara komunikatif, sementara masyarakat dapat memperoleh wawasan melalui pembahasan yang terstruktur dan dekat dengan persoalan aktual.

Kehadiran narasumber dari bidang pendidikan agama dan keagamaan Islam turut memperkuat dimensi edukatif podcast, khususnya dalam memberikan pemahaman mengenai pentingnya pendidikan diniyah dan pembinaan santri. Melalui tema PORSADIN, masyarakat diajak melihat bahwa pendidikan agama dan pengembangan prestasi dapat berjalan beriringan dalam membentuk generasi yang berpengetahuan, berkarakter, dan mampu menghadapi tantangan zaman.

Sebagai bentuk apresiasi atas partisipasi dan kontribusinya, pada akhir kegiatan Kepala KUA Kecamatan Medan Amplas, H. Muhammad Lukman Hakim Hasibuan menyerahkan sertifikat kepada H. Ahmad Faisal Nasution Penyerahan sertifikat tersebut menjadi bentuk penghargaan atas kesediaan narasumber berbagi pengetahuan dan memperkaya wawasan masyarakat melalui Podcast IKMA Channel.

Melalui episode ke-43 ini, KUA Kecamatan Medan Amplas terus mendorong pengembangan inovasi pelayanan keagamaan melalui pendekatan yang kreatif dan sesuai dengan perkembangan teknologi. Podcast tidak hanya menjadi media komunikasi kelembagaan, tetapi juga ruang berbagi pengetahuan dan kolaborasi untuk memperkuat literasi keagamaan serta mendukung pembinaan generasi muda.

Sebagai KUA Inspiratif, KUA Kecamatan Medan Amplas berkomitmen menghadirkan dakwah yang mencerahkan dan mudah dijangkau masyarakat. Upaya ini diharapkan dapat memperkuat nilai-nilai keislaman sekaligus mendorong lahirnya generasi Qurani yang berakhlak mulia, berprestasi, dan berdaya saing di tengah perkembangan zaman.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *