Penyuluh Agama Kristen Kemenag Medan Hadirkan Pengharapan bagi Warga Binaan Rumah Perlindungan Sosial

Medan (Humas) – Kementerian Agama Kota Medan melalui Penyuluh Agama Kristen melaksanakan pelayanan bimbingan rohani bagi warga binaan di Rumah Perlindungan Sosial Kota Medan, Selasa (20/10/2026). Kegiatan ini merupakan bentuk komitmen Kemenag Medan dalam menghadirkan pelayanan keagamaan yang berkelanjutan bagi masyarakat yang membutuhkan penguatan iman dan spiritual. Pelayanan tersebut juga menjadi sarana untuk memberikan penghiburan serta menumbuhkan semangat warga binaan dalam menjalani proses pembinaan. Melalui kegiatan ini, warga binaan diajak untuk tetap memiliki pengharapan dan keyakinan dalam memperbaiki kehidupan menuju masa depan yang lebih baik.

Rangkaian ibadah berlangsung dalam suasana khidmat, penuh sukacita, dan kekeluargaan dengan diikuti antusias oleh warga binaan. Ibadah dipimpin oleh Tridah Natalia Mandalahi, S.Pd., yang mengawali kegiatan melalui pujian dan penyembahan untuk mempersiapkan hati peserta dalam menerima firman Tuhan. Selanjutnya, Mateus Brian Purba, S.Th., menyampaikan firman Tuhan berdasarkan Markus 10:46–52 tentang Bartimeus, seorang pengemis buta yang tetap berseru kepada Yesus meskipun menghadapi berbagai hambatan. Mengangkat tema “Jangan Biarkan Keadaan Membungkam Imanmu”, pesan tersebut mengajak warga binaan untuk tidak menyerah pada keterbatasan dan terus memelihara iman di tengah pergumulan hidup.

Dalam penyampaian firman Tuhan, Mateus menjelaskan bahwa Bartimeus menunjukkan keteguhan iman dengan tetap berseru kepada Yesus ketika orang-orang di sekitarnya menyuruhnya diam. Kisah tersebut menggambarkan bahwa kesulitan hidup, keterbatasan, maupun perkataan orang lain tidak seharusnya memadamkan iman dan pengharapan seseorang. “Jangan biarkan keadaan hidup, masa lalu, kegagalan, ataupun perkataan orang lain membungkam iman kita,” ungkap Mateus. Ia menambahkan bahwa setiap orang memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri selama bersedia berusaha, berdoa, dan membuka hati terhadap perubahan yang lebih baik.

Selain itu, Mateus mengajak warga binaan menjadikan masa pembinaan sebagai kesempatan untuk mengevaluasi diri, meninggalkan kebiasaan yang tidak baik, serta membangun karakter yang lebih bertanggung jawab. Menurutnya, masa lalu tidak harus menjadi penentu seluruh perjalanan hidup karena setiap orang masih memiliki kesempatan untuk berubah dan bertumbuh. “Jangan menyerah, sebab keadaan hari ini bukanlah akhir dari perjalanan hidup kita,” pesannya kepada warga binaan. Ia juga menekankan pentingnya merespons pengharapan melalui perubahan nyata dalam sikap, perkataan, dan perbuatan sehari-hari.

Sementara itu, rangkaian ibadah dilanjutkan dengan doa syafaat yang dipimpin oleh Debora Br Pandia, S.Th., untuk mendoakan warga binaan agar senantiasa memperoleh kekuatan, kesehatan, keteguhan iman, dan pengharapan selama menjalani proses pembinaan. Doa juga dipanjatkan bagi para petugas Rumah Perlindungan Sosial, keluarga warga binaan, serta pelayanan Kementerian Agama Kota Medan agar diberikan hikmat dan kekuatan dalam menjalankan tugas masing-masing. Senada dengan hal itu, pelayanan bimbingan rohani ini menjadi ruang penguatan spiritual sekaligus pengingat akan pentingnya kemauan untuk memperbaiki diri. Suasana kebersamaan yang terbangun selama kegiatan diharapkan dapat menumbuhkan semangat positif bagi warga binaan dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan.

Melalui pelayanan tersebut, Kementerian Agama Kota Medan melalui Penyuluh Agama Kristen terus berupaya menghadirkan pelayanan keagamaan yang inklusif, humanis, dan menyentuh kebutuhan spiritual masyarakat, termasuk warga binaan Rumah Perlindungan Sosial. Kegiatan ini tidak hanya berfokus pada penguatan iman, tetapi juga mendorong pemulihan diri, pembentukan karakter, serta penumbuhan tanggung jawab dalam kehidupan sehari-hari. Warga binaan diharapkan mampu menjadikan pesan firman Tuhan sebagai bekal untuk menjalani proses pembinaan dan mempersiapkan diri kembali ke tengah keluarga serta masyarakat. Dengan demikian, pelayanan bimbingan rohani ini menjadi bagian dari upaya menumbuhkan pengharapan dan keyakinan bahwa setiap orang memiliki kesempatan untuk berubah serta membangun masa depan yang lebih baik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *