Medan (Humas) – Dalam upaya meningkatkan pemahaman keagamaan dan membentuk pribadi muslim yang berakhlak mulia, Penyuluh Agama Islam Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Medan Sunggal, Paidi, S.Ag., kembali melaksanakan bimbingan keagamaan kepada jamaah Majelis Taklim (MT) Nurul Ihsan. Kegiatan tersebut berlangsung di Masjid Nurul Ihsan, Jalan Klambir V, Gang Mushola/Pantai, Kelurahan Lalang, Kecamatan Medan Sunggal, pada Jumat (30/10/2026), dengan mengangkat tema “Mengenal Tiga Jenis Hati Menurut Al-Qur’an.”
Pengajian diawali dengan pembukaan oleh Ketua Perwiritan MT Nurul Ihsan, Farida Hanum, yang menyampaikan susunan acara kepada seluruh jamaah. Selanjutnya, kegiatan diisi dengan pembacaan Surah Yasin, tahtim dan tahlil singkat. Setelah rangkaian tersebut selesai, acara dilanjutkan dengan ceramah agama yang disampaikan oleh Penyuluh Agama Islam KUA Medan Sunggal, Paidi mengenai pentingnya mengenali kondisi hati sebagai bagian dari upaya memperbaiki kualitas keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT.
Dalam ceramahnya, Paidi menjelaskan bahwa berdasarkan ajaran Al-Qur’an, kondisi hati manusia dapat dikenali melalui tiga kategori, yaitu Qalbun Salim (hati yang sehat dan selamat), Qalbun Maridh (hati yang sakit), dan Qalbun Mayyit (hati yang mati). Ketiga jenis hati tersebut menggambarkan keadaan batin seseorang dalam hubungannya dengan Allah SWT, sehingga setiap muslim perlu memahami dan mengevaluasi kondisi hatinya agar senantiasa berada dalam jalan kebaikan.
Paidi menerangkan bahwa Qalbun Salim merupakan hati yang bersih dan selamat dari kesyirikan, keraguan, serta berbagai penyakit hati seperti dengki, iri, dan kesombongan. Hati yang sehat ditandai dengan keikhlasan dalam beribadah, ketundukan kepada Allah SWT dan Rasul-Nya, serta tumbuhnya kecintaan terhadap kebaikan. Sementara itu, Qalbun Maridh adalah hati yang masih memiliki keimanan, tetapi telah bercampur dengan penyakit syahwat, hawa nafsu, dan keraguan terhadap ajaran agama. Orang yang memiliki hati seperti ini terkadang melakukan kebaikan, tetapi masih mudah tergoda melakukan kemaksiatan serta diliputi rasa iri, kecemasan, dan keraguan. “Hati yang sakit perlu segera diobati dengan memperbanyak ibadah, berzikir, membaca Al-Qur’an, dan senantiasa mendekatkan diri kepada Allah SWT,” ujar Paidi.
Lebih lanjut, Paidi menjelaskan jenis hati yang ketiga, yaitu Qalbun Mayyit atau hati yang mati. Menurutnya, hati yang mati merupakan kondisi ketika seseorang kehilangan kepekaan rohani, tidak mengenal Tuhannya, serta tidak lagi peduli terhadap keridhaan Allah SWT. Ciri-cirinya antara lain dikuasai oleh hawa nafsu, menganggap keburukan sebagai kebaikan, dan tidak mampu menerima kebenaran. Ia mengingatkan jamaah agar senantiasa menjaga kebersihan hati dengan memperbanyak istigfar, melakukan introspeksi diri, serta menjauhi segala perbuatan yang dapat merusak keimanan. “Jangan sampai hati kita menjadi keras dan jauh dari Allah. Mari kita berusaha memiliki hati yang selamat agar setiap perkataan, perbuatan, dan keputusan senantiasa berada dalam tuntunan agama,” pesannya.
Sementara itu, Kepala KUA Kecamatan Medan Sunggal, H. Agus Salim, S.Ag., M.Pd.I., menyampaikan apresiasi atas konsistensi Penyuluh Agama Islam dalam memberikan bimbingan dan penyuluhan kepada majelis taklim, khususnya pengajian ibu-ibu. Ia berharap materi keagamaan yang disampaikan dapat menambah wawasan jamaah dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. “Semoga ilmu yang disampaikan oleh penyuluh agama Islam dapat menjadi pengetahuan yang bermanfaat dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Semakin banyak ilmu agama yang diperoleh, kiranya semakin baik pula akhlak yang terbentuk, baik di tengah masyarakat maupun dalam lingkungan keluarga,” ungkap Agus Salim.
Melalui kegiatan bimbingan keagamaan ini, jamaah MT Nurul Ihsan diharapkan semakin memahami pentingnya menjaga dan memperbaiki kondisi hati. Mengenali tiga jenis hati bukan sekadar menambah pengetahuan agama, tetapi juga menjadi sarana introspeksi diri agar terhindar dari penyakit hati dan senantiasa meningkatkan kualitas keimanan. Dengan demikian, setiap muslim diharapkan mampu membina Qalbun Salim, yaitu hati yang bersih, ikhlas, dan senantiasa tunduk kepada Allah SWT sehingga terwujud pribadi yang beriman, bertakwa, serta berakhlak mulia dalam kehidupan keluarga dan masyarakat.(Paidi).

