Medan Sunggal (Humas) – Penyuluh Agama Katolik KUA Medan Sunggal, Roni Antonius Sitanggang, melaksanakan kegiatan pendampingan katekumen pada Rabu (4/11/2026), pukul 08.00 WIB, bertempat di Aula Gereja Katolik Stasi Santo Fransiskus Xaverius Sunggal, Jalan Abadi No. 54, Kelurahan Tanjung Rejo, Kecamatan Medan Sunggal. Kegiatan ini diikuti oleh tiga orang katekumen, yakni Lia Pardede, Daud Tarigan, dan Marsius Naibaho. Pendampingan tersebut merupakan bagian dari pembinaan iman untuk membantu para katekumen semakin mengenal dan memahami ajaran Gereja Katolik sebagai persiapan menjadi anggota Gereja.
Materi yang disampaikan dalam pertemuan tersebut adalah Gereja Para Kudus, Gereja dalam Api Penyucian, dan Gereja yang Masih Berziarah di Dunia. Dalam pembahasan ini dijelaskan ajaran Gereja Katolik tentang persekutuan para kudus atau Communio Sanctorum. Ajaran ini menegaskan bahwa seluruh umat beriman tetap dipersatukan dalam Kristus, baik mereka yang telah mencapai kemuliaan surgawi, mereka yang sedang menjalani pemurnian, maupun umat yang masih berjuang dalam kehidupan di dunia. Ketiganya merupakan bagian dari satu persekutuan umat Allah yang dipersatukan oleh kasih Kristus.
Pertama, dijelaskan mengenai Gereja Para Kudus atau Gereja yang telah mencapai kemuliaan surgawi. Mereka adalah orang-orang yang telah meninggal dalam persatuan dengan Allah dan kini menikmati kebahagiaan kekal bersama-Nya. Para kudus menjadi teladan bagi umat beriman karena sepanjang hidupnya telah menunjukkan kesetiaan kepada Kristus melalui iman, harapan, kasih, dan pelayanan. Gereja Katolik menghormati para kudus serta memohon doa perantaraan mereka sebagai ungkapan persaudaraan dalam Kristus yang melampaui batas kehidupan duniawi.
Kedua, dibahas mengenai Gereja dalam Api Penyucian, yaitu umat beriman yang telah meninggal dalam rahmat Allah, tetapi masih membutuhkan pemurnian sebelum masuk ke dalam kemuliaan surgawi. Api Penyucian bukanlah tempat bagi mereka yang ditolak Allah, melainkan keadaan pemurnian bagi jiwa-jiwa yang diselamatkan. Gereja mengajarkan bahwa umat yang masih hidup dapat mendoakan mereka yang telah meninggal, khususnya melalui doa, persembahan Ekaristi, dan berbagai bentuk tindakan kasih. Doa bagi arwah merupakan wujud nyata solidaritas dan kasih persaudaraan dalam persekutuan Gereja.
Ketiga, dijelaskan mengenai Gereja yang masih berziarah di dunia, yaitu seluruh umat beriman yang saat ini menjalani kehidupan di tengah berbagai tantangan, perjuangan, dan panggilan untuk mengikuti Kristus. Umat yang masih hidup dipanggil untuk bertumbuh dalam kekudusan melalui doa, penerimaan sakramen, pelaksanaan ajaran Injil, serta pelayanan kepada sesama. Ketiga bagian Gereja tersebut tidak terpisah, melainkan tetap dipersatukan dalam Kristus sebagai satu Tubuh. Melalui persekutuan ini, umat yang masih berziarah di dunia dapat belajar dari keteladanan para kudus dan mendoakan saudara-saudari yang sedang menjalani pemurnian.
Kepala KUA Medan Sunggal, H. Agus Salim, S.Ag., M.Pd.I., menyampaikan apresiasi kepada Penyuluh Agama Katolik yang senantiasa aktif melaksanakan pembinaan, pendampingan, serta memberikan pelayanan keagamaan kepada umat. Menurutnya, kegiatan penyuluhan dan pendampingan seperti ini sangat penting dalam meningkatkan wawasan serta pemahaman keagamaan masyarakat.
“Saya sangat mengapresiasi penyuluh agama Katolik yang selalu hadir membina, mendampingi, serta memberikan pelayanan kepada umat dalam bidang keagamaan. Semoga melalui bimbingan yang diberikan, umat semakin bertambah wawasan dan ilmu keagamaannya serta mampu mengimplementasikan nilai-nilai ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari sehingga tercipta kerukunan dan keharmonisan di tengah-tengah masyarakat,” ujar Agus Salim.
Melalui kegiatan pendampingan ini, Lia Pardede, Daud Tarigan, dan Marsius Naibaho diharapkan semakin memahami makna persekutuan para kudus dalam ajaran iman Katolik. Pemahaman ini mengajak para katekumen untuk menyadari bahwa Gereja bukan hanya persekutuan umat yang masih hidup di dunia, tetapi juga mencakup mereka yang sedang menjalani pemurnian dan mereka yang telah menikmati kemuliaan surgawi. Dengan demikian, umat Katolik dipanggil untuk terus memelihara persaudaraan, saling mendoakan, meneladani kehidupan para kudus, dan setia menjalani peziarahan iman menuju persatuan abadi bersama Allah. Kegiatan ini sekaligus menjadi wujud nyata komitmen KUA Medan Sunggal dalam memberikan pelayanan dan pembinaan keagamaan kepada seluruh umat beragama, serta memperkuat semangat toleransi, persaudaraan, dan kerukunan antarumat beragama di tengah kehidupan masyarakat.(RAS/PAI).

