Bimluh di BNNP Sumut, Penyuluh KUA Medan Denai Ajak Warga Binaan Mensyukuri Nikmat Allah

Medan (Humas) — Nikmat Allah SWT begitu luas dan tidak terhitung jumlahnya. Karena itu, mensyukuri setiap karunia yang diberikan Allah menjadi bagian penting dalam menjalani kehidupan, termasuk ketika seseorang sedang berada dalam masa ujian. Rasa syukur tidak hanya menjadi ungkapan lisan, tetapi juga menjadi sikap yang dapat menguatkan hati dalam menghadapi berbagai keadaan.

Pesan tersebut disampaikan Penyuluh Agama Islam KUA Kecamatan Medan Denai, Khoiruz Zaman, S.H.I., S.Pd.I., saat memberikan bimbingan dan penyuluhan (Bimluh) kepada pegawai, staf, serta para tahanan di Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Sumatera Utara, Kamis (10/9/2026). Kegiatan berlangsung di Mushalla Asy-Syifa, Jalan Willem Iskandar, Pancing, Medan, mulai pukul 09.00 hingga 11.00 WIB.

Kegiatan diawali oleh protokol, Azhar, kemudian dilanjutkan dengan tausiyah yang disampaikan Khoiruz Zaman. Dalam kesempatan tersebut, ia mengangkat tema tentang pentingnya mensyukuri nikmat Allah dan mengajak para peserta untuk melihat berbagai karunia Allah secara lebih luas, tidak hanya dari sisi materi atau kesenangan duniawi.

Menurut Khoiruz Zaman, kesehatan, kesempatan hidup, keluarga, keamanan, ilmu pengetahuan, hingga kesempatan untuk beribadah merupakan nikmat yang sering kali dianggap biasa karena hadir setiap hari. Padahal, seluruh nikmat tersebut memiliki nilai yang sangat besar dan tidak dapat digantikan begitu saja ketika seseorang kehilangan atau tidak lagi mendapatkannya.

“Kalau seluruh nikmat Allah hendak kita hitung satu per satu, kita tidak akan mampu menghitungnya,” ungkapnya dalam tausiyah.

Ia menjelaskan bahwa manusia terkadang baru menyadari besarnya sebuah nikmat setelah nikmat tersebut berkurang atau bahkan hilang. Ketika berada dalam keadaan sehat, misalnya, seseorang sering kali tidak menyadari bahwa kesehatan merupakan karunia yang sangat berharga. Begitu pula dengan waktu, rezeki, keluarga, dan berbagai kemudahan lainnya yang kerap baru terasa penting ketika menghadapi keterbatasan.

Dalam tausiyahnya, Khoiruz Zaman juga mengingatkan bahwa nikmat terbesar dalam kehidupan tidak selalu berupa harta, jabatan, ataupun kesenangan dunia. Menurutnya, nikmat Islam, kesempatan membaca Al-Qur’an, mengikuti tuntunan Nabi Muhammad SAW, kesehatan, terjaganya kehormatan dan aib, serta kemampuan untuk menjalani kehidupan merupakan karunia besar yang patut disyukuri.

Ia mengajak para peserta untuk memandang setiap keadaan dengan perspektif yang lebih luas. Seseorang mungkin kehilangan harta, pekerjaan, jabatan, atau berbagai kenikmatan dunia, tetapi selama iman masih ada dan Allah masih memberikan kesempatan untuk memperbaiki diri, maka hal tersebut merupakan nikmat yang sangat besar.

“Jangan hanya menghitung apa yang belum kita miliki sampai lupa menghitung nikmat yang setiap hari telah Allah berikan,” pesannya.

Lebih lanjut, Khoiruz Zaman mengajak peserta menjadikan kesehatan sebagai sarana untuk memperbanyak amal kebaikan. Mata, telinga, tangan, kaki, akal, dan seluruh anggota tubuh merupakan amanah dari Allah yang harus digunakan untuk hal-hal yang bermanfaat dan diridai-Nya.

Ia juga mengingatkan bahwa kesempatan untuk memperbaiki diri merupakan salah satu bentuk kasih sayang Allah. Menurutnya, ketika seseorang masih diberikan kesempatan untuk menyadari kesalahan, bertaubat, dan memperbaiki kehidupannya, kesempatan tersebut hendaknya tidak disia-siakan.

“Jangan menganggap tertutupnya aib sebagai kesempatan untuk terus melakukan kesalahan. Jadikan itu sebagai tanda bahwa Allah masih memberikan kita kesempatan untuk bertaubat,” tuturnya.

Khoiruz Zaman kemudian menjelaskan bahwa rasa syukur tidak cukup hanya diwujudkan melalui ucapan. Syukur harus hadir melalui hati, lisan, dan perbuatan. Dengan hati, seseorang menyadari bahwa seluruh nikmat berasal dari Allah; dengan lisan, ia memuji dan mengakui karunia-Nya; sedangkan melalui perbuatan, nikmat tersebut digunakan untuk melakukan kebaikan dan menjalankan hal-hal yang diridai Allah SWT.

Suasana Bimluh berlangsung interaktif. Para peserta diberikan kesempatan untuk menyampaikan pandangan dan pengalaman mereka mengenai berbagai nikmat yang dirasakan dalam kehidupan. Interaksi tersebut membuat kegiatan penyuluhan berlangsung lebih hidup sekaligus memberikan ruang bagi peserta untuk merefleksikan kembali berbagai karunia Allah yang selama ini mungkin kurang disadari.

Salah seorang peserta, Ibu Halimah Siregar, mengaku senang mengikuti kegiatan tersebut. Menurutnya, pola penyampaian yang interaktif membuat peserta tidak hanya menjadi pendengar, tetapi juga dapat terlibat dalam pembahasan sehingga pesan yang disampaikan lebih mudah dipahami dan dirasakan manfaatnya.

“Senang mengikuti kegiatan seperti ini karena interaktif. Kami tidak hanya mendengarkan, tetapi juga bisa ikut menyampaikan dan merasakan langsung pesan yang disampaikan,” ujarnya.

Melalui kegiatan tersebut, Penyuluh Agama Islam KUA Kecamatan Medan Denai berharap pesan tentang pentingnya bersyukur dapat menjadi penguatan bagi seluruh peserta untuk tetap memiliki harapan dan semangat memperbaiki diri. Rasa syukur diharapkan mampu menumbuhkan ketenangan hati, memperkuat keimanan, serta mendorong setiap orang untuk memanfaatkan kesempatan yang diberikan Allah dengan sebaik-baiknya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *