Medan (Humas) – Perkembangan teknologi dan media digital menghadirkan berbagai kemudahan dalam kehidupan, namun di sisi lain juga membawa tantangan moral yang harus dihadapi umat Islam. Karena itu, pemahaman terhadap ajaran agama menjadi bekal penting agar masyarakat mampu memanfaatkan kemajuan zaman tanpa mengabaikan nilai-nilai syariat. Pesan tersebut disampaikan Penyuluh Agama Islam (PAI) Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Medan Denai dalam kegiatan Bimbingan dan Penyuluhan (Bimluh) di Majelis Taklim (MT.) Silaturrahmi, Masjid Miftahul Iman, Jalan Panglima Denai, Jermal VII Awal, Kecamatan Medan Denai, Kamis (30/7/2026).
Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 14.00 WIB hingga menjelang Salat Asar itu merupakan agenda rutin pembinaan keagamaan dengan tuan rumah Ibu Siti Aminah. Acara dipandu oleh Ibu Ivo Purba dan diawali dengan sambutan Ketua MT. Silaturrahmi, Khoirul Bariah NST., S.P., S.Pd., yang menyampaikan apresiasi kepada PAI KUA Medan Denai atas komitmennya menghadirkan pembinaan keagamaan secara berkelanjutan. Menurutnya, kegiatan tersebut tidak hanya menambah wawasan keislaman, tetapi juga mempererat ukhuwah Islamiyah di tengah masyarakat.
Pada kesempatan itu, Penyuluh Agama Islam KUA Kecamatan Medan Denai, Khoiruz Zaman, S.H.I., menyampaikan materi bertema “Empat Dosa Besar yang Harus Dijauhi oleh Setiap Muslim” berdasarkan hadis riwayat Imam Al-Bukhari. Ia menjelaskan bahwa Rasulullah SAW memperingatkan umat Islam agar menjauhi empat dosa besar, yaitu syirik kepada Allah SWT, membunuh jiwa tanpa hak, durhaka kepada kedua orang tua, serta berkata dusta dan memberikan kesaksian palsu.
Menurut Khoiruz Zaman, pesan hadis tersebut tetap relevan dengan kondisi masyarakat saat ini, terutama di tengah pesatnya perkembangan teknologi informasi. Syirik, misalnya, tidak hanya berupa penyembahan berhala, tetapi juga ketika seseorang lebih menggantungkan harapan kepada selain Allah SWT, seperti mempercayai ramalan, dukun, maupun benda-benda yang diyakini memiliki kekuatan tertentu.
“Empat dosa besar yang disebutkan Rasulullah SAW bukan hanya ancaman pada masa lalu, tetapi juga menjadi peringatan bagi kita di era digital. Sebagai muslim, kita harus menjaga akidah, menghormati orang tua, menjauhi segala bentuk kekerasan, serta menggunakan media sosial secara bijak dengan menghindari kebohongan dan penyebaran informasi yang belum jelas kebenarannya,” ujar Khoiruz Zaman.
Ia juga mengingatkan bahwa membunuh jiwa tanpa hak dapat dimaknai lebih luas dengan menjauhi berbagai bentuk tindakan yang merusak kehidupan orang lain, seperti penyalahgunaan narkoba, perundungan (bullying), maupun tindak kekerasan. Sementara itu, durhaka kepada orang tua pada era digital sering kali terjadi tanpa disadari, misalnya mengabaikan panggilan orang tua karena terlalu sibuk menggunakan telepon genggam atau lebih mengutamakan kepentingan pribadi dibandingkan memenuhi hak-hak mereka.
Selain itu, Khoiruz Zaman menyoroti maraknya penyebaran hoaks, fitnah, dan informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan melalui media sosial. Ia mengajak seluruh jamaah untuk membiasakan sikap tabayun sebelum menyebarkan informasi agar tidak menjadi bagian dari penyebaran kebohongan yang dapat merugikan banyak pihak.
Penyampaian materi berlangsung secara komunikatif dan interaktif. Para jamaah diberikan kesempatan untuk berdialog dan mengajukan pertanyaan mengenai berbagai persoalan keagamaan yang mereka hadapi dalam kehidupan sehari-hari. Antusiasme peserta membuat suasana pengajian semakin hidup dan materi yang disampaikan lebih mudah dipahami.
Salah seorang jamaah, Susi Alhusna, mengaku bersyukur dapat mengikuti kegiatan tersebut. Menurutnya, materi yang disampaikan sangat dekat dengan realitas kehidupan saat ini dan menjadi pengingat agar lebih berhati-hati dalam menggunakan media sosial maupun menjalani kehidupan sehari-hari.
“Materinya sangat bermanfaat dan mudah dipahami. Kami diingatkan bahwa dosa tidak hanya terjadi dalam kehidupan nyata, tetapi juga bisa melalui media sosial apabila tidak bijak menggunakan lisan dan jari kita. Semoga pembinaan seperti ini terus dilaksanakan,” ungkap Susi Alhusna.
Kegiatan Bimluh ditutup dengan doa yang dipimpin oleh Syaiful Akhyar, S.H.I. Melalui pembinaan yang dilaksanakan secara rutin ini, KUA Kecamatan Medan Denai berharap masyarakat semakin memahami ajaran Islam secara utuh, memiliki akhlak yang mulia, serta mampu menghadapi perkembangan zaman dengan tetap berpegang teguh pada nilai-nilai Al-Qur’an dan Sunnah.

