Medan (Humas) – Penyuluh Agama Islam Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Medan Sunggal, Paidi, S.Ag., menyampaikan pesan dakwah melalui rekaman program Mutiara Sore di Radio Republik Indonesia (RRI) Pro 4 FM Medan, Kamis (22/10/2026). Kegiatan yang berlangsung di studio RRI Pro 4 FM, Jalan Gatot Subroto Nomor 214, Kelurahan Sei Sikambing C II, Kota Medan, tersebut mengangkat materi tentang Mewujudkan Generasi Qurrota A’yun. Rekaman dakwah ini didampingi oleh operator Monica sebagai bagian dari upaya menyebarluaskan pesan keagamaan kepada masyarakat melalui media radio.
Dalam penyampaiannya, Paidi menjelaskan bahwa qurrota a’yun merupakan gambaran anak yang menjadi penyejuk hati, penenang jiwa, dan kebahagiaan bagi kedua orang tuanya. Konsep tersebut sebagaimana terkandung dalam doa yang termaktub dalam Al-Qur’an Surah Al-Furqan ayat 74. “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyejuk hati kami, dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa,” ujar Paidi mengutip makna ayat tersebut. Ia menegaskan bahwa doa ini menjadi harapan setiap keluarga agar dianugerahi keturunan yang saleh dan salehah serta tumbuh dalam ketaatan kepada Allah SWT.
Lebih lanjut, Paidi menerangkan bahwa hakikat anak qurrota a’yun dapat dilihat dari beberapa aspek. Pertama, anak yang senantiasa taat kepada Allah SWT dan rajin melaksanakan ibadah sehingga membawa kebahagiaan bagi orang tuanya. Ia juga menjelaskan bahwa anak yang saleh tercermin melalui akhlak mulia, tutur kata yang lembut, perilaku yang baik, serta sikap yang menghormati orang tua, baik di lingkungan keluarga maupun masyarakat. “Anak yang menjadi penyejuk hati bukan hanya membahagiakan orang tuanya di dunia, tetapi juga diharapkan menjadi investasi amal saleh bagi mereka di akhirat,” tambah Paidi.
Dalam kesempatan tersebut, Paidi juga menguraikan tiga langkah penting dalam membentuk generasi qurrota a’yun. Pertama, orang tua harus memperbaiki diri dan meningkatkan kesalehan pribadi karena keteladanan serta keimanan orang tua memiliki peran besar dalam membentuk karakter anak. Kedua, mendidik anak dengan kasih sayang dan keteladanan sebagaimana dicontohkan Rasulullah SAW, sekaligus mengenalkan nilai-nilai agama sejak usia dini secara konsisten. Ketiga, senantiasa memanjatkan doa kepada Allah SWT agar diberikan keturunan yang saleh, salehah, berakhlak mulia, dan bertakwa. “Pendidikan anak harus dimulai dari diri orang tua, dilanjutkan dengan keteladanan, kasih sayang, serta doa yang tidak pernah putus,” tegasnya.
Paidi menambahkan bahwa keberhasilan mendidik anak tidak hanya diukur dari prestasi akademik atau pencapaian materi, tetapi juga dari kualitas iman, ibadah, dan akhlaknya. Orang tua diharapkan mampu menciptakan lingkungan keluarga yang religius, membiasakan anak berperilaku jujur, menghormati sesama, serta menanamkan tanggung jawab dalam kehidupan sehari-hari. Dengan pembinaan yang berkesinambungan, anak diharapkan tumbuh menjadi pribadi yang membanggakan keluarga, bermanfaat bagi masyarakat, dan senantiasa berada di jalan yang diridai Allah SWT.
Sementara itu, Kepala KUA Kecamatan Medan Sunggal, H. Agus Salim, S.Ag., M.Pd.I., menyampaikan apresiasi atas partisipasi penyuluh agama Islam dalam menyampaikan dakwah melalui media radio. Menurutnya, pemanfaatan media penyiaran merupakan salah satu sarana strategis untuk memperluas jangkauan penyuluhan dan memberikan edukasi keagamaan kepada masyarakat. “Kami sangat mengapresiasi penyuluh agama Islam yang terus berupaya menyampaikan pesan-pesan dakwah melalui radio. Semoga materi yang disiarkan RRI Pro 4 FM dapat didengar masyarakat, menambah ilmu pengetahuan, serta meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT,” ujar Agus Salim.
Melalui rekaman Mutiara Sore tersebut, KUA Medan Sunggal berharap masyarakat, khususnya para orang tua, semakin memahami pentingnya membangun keluarga yang berlandaskan nilai-nilai Al-Qur’an. Kesimpulannya, mewujudkan generasi qurrota a’yun membutuhkan perpaduan antara kesalehan orang tua, pendidikan penuh kasih sayang, keteladanan akhlak, dan doa yang berkelanjutan. Dengan ikhtiar tersebut, diharapkan lahir generasi yang saleh dan salehah, berakhlak mulia, menjadi penyejuk hati keluarga, serta berkontribusi positif bagi agama, bangsa, dan negara.(Paidi).

